RADAR TULUNGAGUNG - DOJ rilis dokumen Jeffrey Epstein dalam jumlah besar dan langsung mengguncang politik global.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) secara resmi membuka sekitar 3,5 juta dokumen terkait jaringan perdagangan seks miliarder Jeffrey Epstein pada Jumat (30/1/2026).
Perilisan dokumen Jeffrey Epstein ini menjadi sorotan dunia karena memuat catatan sensitif, mulai dari laporan FBI, korespondensi email internal, hingga ringkasan wawancara para korban.
Sejumlah tokoh elite internasional kembali terseret, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan anggota keluarga kerajaan Inggris, Pangeran Andrew.
Nama Donald Trump Muncul Ribuan Kali
Dalam dokumen yang dibuka ke publik, nama Donald Trump tercatat muncul lebih dari 1.000 kali.
Mayoritas penyebutan tersebut berasal dari kliping artikel media yang dikumpulkan Epstein, serta komentar internal terkait dinamika politik Trump.
Namun, sebagian dokumen juga memuat daftar tuduhan penyerangan seksual yang dikompilasi FBI pada 2025, meski statusnya masih belum diverifikasi.
Salah satu memo FBI mencatat wawancara dengan seorang korban yang mengaku pernah diperkenalkan oleh Ghislaine Maxwell kepada Trump dalam sebuah pesta.
Meski demikian, saksi tersebut menegaskan tidak terjadi kontak seksual antara dirinya dan Trump. Temuan ini menjadi bagian dari dokumen yang kini kembali diperdebatkan publik.
DOJ Bantah Tuduhan Tak Berdasar
Menanggapi kontroversi tersebut, Wakil Jaksa Agung AS Todd Blunch menegaskan bahwa banyak klaim dalam dokumen bersifat sensasional dan tidak berdasar.
Ia menyebut tuduhan terhadap Trump sebagian besar dikirim ke FBI menjelang Pemilu Presiden 2020 dan tidak memenuhi standar pembuktian hukum.
“Banyak laporan tersebut tidak kredibel dan tidak dapat ditindaklanjuti secara hukum,” tegas Blunch dalam pernyataan resminya.
Meski demikian, DOJ rilis dokumen Jeffrey Epstein tetap membuka ruang bagi publik untuk menilai sendiri bagaimana aparat penegak hukum menangani laporan yang melibatkan tokoh berpengaruh.
Bukti Baru Bantah Klaim Lama Trump
Menariknya, rilis ini juga mengungkap data yang bertentangan dengan pernyataan Trump di masa lalu.
Dokumen penerbangan menunjukkan Trump tercatat beberapa kali menggunakan pesawat pribadi Epstein pada era 1990-an. Fakta ini sebelumnya sempat dibantah secara terbuka oleh Trump.
Selain itu, terdapat catatan komunikasi intens antara Epstein dan mantan penasihat Trump, Steve Bannon.
Hubungan tersebut dinilai jauh lebih erat dibanding yang selama ini diketahui publik, meski belum ada indikasi pelanggaran hukum secara langsung.
Pangeran Andrew Kembali Tertekan
Di Inggris, dampak DOJ rilis dokumen Jeffrey Epstein juga terasa kuat. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, pada Sabtu (31/1/2026) menyatakan bahwa Pangeran Andrew harus siap memberikan kesaksian di hadapan Kongres AS jika diminta.
Starmer menekankan bahwa keadilan bagi korban harus menjadi prioritas utama. Dokumen terbaru memperkuat dugaan bahwa hubungan Andrew dengan Epstein berlanjut setelah Epstein divonis bersalah atas kasus pelecehan seksual pada 2008.
Bahkan disebutkan adanya kemungkinan pertemuan pribadi di London pada 2010.
Foto-foto baru yang disertakan dalam arsip DOJ menunjukkan kedekatan fisik Andrew dengan seorang perempuan yang identitasnya belum diungkap.
Meski Andrew secara konsisten membantah tuduhan, publikasi ini kembali membuka luka lama terkait posisinya dalam lingkaran sosial Epstein.
Catatan FBI soal Tuduhan Lama
Dilansir dari CNN, bagian paling krusial dari dokumen ini adalah catatan FBI terkait “Jane D”, perempuan yang pada 2016 menuduh Trump melakukan pemerkosaan saat ia berusia 13 tahun.
Gugatan tersebut memang sempat dicabut, dan FBI mencatatnya sebagai informasi yang tidak terverifikasi.
Namun keberadaan dokumen ini dalam arsip resmi menunjukkan bagaimana otoritas AS menyimpan dan mengevaluasi laporan yang melibatkan figur publik.
Jeffrey Epstein sendiri ditemukan tewas di penjara Federal Metropolitan Correctional Center, New York, pada 10 Agustus 2019, saat menunggu persidangan.***
Editor : Vidya Sajar Fitri