Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

BMKG Deteksi Tiga Bibit Siklon Tropis Sekaligus di Sekitar Indonesia, Ini Wilayah yang Berpotensi Terdampak Cuaca Ekstrem

Ayu Dhea Cheryl • Rabu, 11 Februari 2026 | 10:33 WIB

BMKG memantau tiga bibit siklon tropis di sekitar Indonesia yang berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah.
BMKG memantau tiga bibit siklon tropis di sekitar Indonesia yang berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah.

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan bibit siklon tropis secara bersamaan di kawasan sekitar Indonesia. Fenomena ini menandakan dinamika atmosfer yang cukup aktif dan berpotensi memengaruhi kondisi cuaca, gelombang laut, serta aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah.

Dalam beberapa hari terakhir, BMKG mencatat setidaknya tiga bibit siklon tropis yang muncul di sekitar Nusantara. Meski tidak semuanya dipastikan berkembang menjadi siklon tropis, keberadaan sistem ini tetap perlu diwaspadai karena dapat memicu hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi di perairan Indonesia.

BMKG menjelaskan, kemunculan beberapa bibit siklon tropis secara bersamaan berpotensi mengganggu pola angin dan meningkatkan pembentukan awan hujan, terutama di wilayah pesisir dan perairan terbuka. Oleh sebab itu, masyarakat diminta terus memantau informasi resmi cuaca.

Baca juga:Bibit Siklon 92S di Samudra Hindia Barat Daya Lampung

Bibit siklon tropis pertama yang terpantau adalah 92S, yang terbentuk pada 2 Februari 2026. Pusat sistem ini berada di Samudra Hindia barat daya Lampung. BMKG menilai sistem tekanan rendah ini berpotensi meningkatkan kecepatan angin dan tinggi gelombang di perairan barat Lampung hingga Bengkulu.

Kondisi tersebut berisiko mengganggu aktivitas pelayaran dan kehidupan masyarakat pesisir. Meski pusat bibit siklon tidak masuk ke daratan, perubahan pola angin akibat sistem tekanan rendah di Samudra Hindia kerap memengaruhi wilayah barat Indonesia, termasuk peningkatan pertumbuhan awan hujan.

Baca juga:Bibit Siklon 94W di Laut Filipina Utara Papua

Bibit siklon tropis kedua adalah 94W, yang juga terbentuk pada 2 Februari 2026. Sistem ini terpantau berada di sekitar Laut Filipina, tepatnya di utara Papua. BMKG menyebut bibit siklon ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap cuaca ekstrem di wilayah Indonesia karena posisinya cukup jauh dan bergerak ke arah timur laut.

Meski demikian, BMKG tetap memantau pergerakan 94W secara intensif. Wilayah Laut Filipina dikenal sebagai kawasan aktif pembentukan siklon tropis di Pasifik Barat, sehingga perubahan arah dan intensitas sistem ini dapat berdampak sewaktu-waktu.

Baca juga:Bibit Siklon 98P di Sekitar Australia Berdampak ke Indonesia Timur

Bibit siklon tropis ketiga adalah 98P, yang terbentuk sejak 29 Januari 2026 di Teluk Karpentaria, bagian barat Australia. Walaupun pusat sistem ini berada di luar wilayah Indonesia, dampaknya tetap dirasakan secara tidak langsung di Indonesia bagian timur.

BMKG mencatat potensi hujan lebat, angin kencang, serta peningkatan tinggi gelombang laut di wilayah Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Bibit siklon ini mampu menarik massa udara lembap dari wilayah Indonesia dan memperkuat pembentukan awan hujan di kawasan timur Nusantara.

Baca juga:Dampak Cuaca dan Wilayah Rawan

Prakirawan Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis BMKG menjelaskan, dari sejumlah bibit siklon yang terpantau, setidaknya dua sistem memiliki dampak nyata bagi Indonesia. Bibit 94W berpotensi memicu gelombang tinggi di perairan Sulawesi Utara, Maluku Utara, serta Samudra Pasifik utara Papua. Hujan sedang hingga lebat juga berpeluang terjadi di wilayah tersebut.

Sementara itu, bibit 98P diperkirakan meningkatkan curah hujan di Nusa Tenggara Timur dan Maluku bagian selatan. Gelombang tinggi juga berpotensi terjadi di Laut Timor dan Laut Arafura bagian selatan.

Baca juga:Imbauan BMKG kepada Masyarakat

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah terdampak, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Nelayan serta pelaku aktivitas di laut diminta memperhatikan kondisi perairan sebelum melaut.

Masyarakat juga diminta rutin memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG, baik melalui situs www.bmkg.go.id maupun laman khusus siklon tropis di tropicalcyclone.bmkg.go.id. BMKG menegaskan, meskipun tidak semua bibit siklon tropis berkembang menjadi siklon, kemunculan beberapa sistem sekaligus tetap berpotensi memicu gangguan cuaca signifikan di berbagai wilayah Indonesia.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#bmkg #gelombang tinggi #hujan lebat #cuaca ekstrem #bibit siklon tropis