Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

DBD Jadi Ancaman di Awal Musim Hujan 2025 , Dinkes Tulungagung Tetap Waspada Meski Kasus Melandai

Sandy Sri Yuwana • Jumat, 31 Oktober 2025 | 18:16 WIB

Hujan deras mengguyur wilayah Tulungagung pada hari ini setelah beberapa hari belakangan cukup cerah. (DR PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Hujan deras mengguyur wilayah Tulungagung pada hari ini setelah beberapa hari belakangan cukup cerah. (DR PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG – Memasuki musim penghujan, penyakit demam berdarah dengue (DBD) selalu jadi ancaman tersendiri bagi masyarakat Tulungagung setiap tahunnya.

Untuk itu Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung kembali mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap potensi peningkatan kasus DBD.

Meski data menunjukkan tren penurunan dalam tiga bulan terakhir, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan mengingat pola tahunan yang menunjukkan peningkatan kasus di puncak musim hujan, biasanya pada Desember.

Baca Juga: Penjamin Klaim JKN Kasus Demam Berdarah Tahun 2025 di Jawa Timur Tertinggi Secara Nasional, Segini Rinciannya

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, menjelaskan bahwa hingga akhir September 2025, jumlah kasus DBD menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan awal tahun.

“Data kami sampai minggu ke-40 atau per 4 Oktober 2025 menunjukkan tren melandai. Saat ini posisi kita relatif aman untuk DBD. Namun karena musim hujan sudah mulai, kewaspadaan harus lebih ditingkatkan,” ujarnya ketika dikonfirmasi, Kamis (30/10).

Desi mengingatkan bahwa puncak musim hujan biasanya terjadi pada bulan Desember, meski tahun ini diperkirakan datang satu bulan lebih cepat.

Baca Juga: Sedang Musim Demam Berdarah Dengue, Stok Darah di PMI Tulungagung Aman

"Pola ini merupakan siklus tahunan yang selalu berulang dan menjadi acuan dalam langkah antisipasi dini," katanya.

Dia memaparkan data yang dihimpun Dinkes Tulungagung, pada sepanjang tahun 2023 tercatat 206 kasus DBD dengan 3 kematian.

Sementara pada tahun 2024, jumlah kasus infeksi virus dengue (DD, DBD, dan DSS) meningkat menjadi 3.421 kasus, dengan 1.440 kasus di antaranya merupakan DBD/DSS dan 17 orang meninggal dunia.

Baca Juga: 326 Kasus DBD Merajalela di Kabupaten Tulungagung, Begini Upaya Dinas Kesehatan

Namun pada tahun 2025, hingga awal Oktober, tercatat 1.108 kasus infeksi virus dengue, di antaranya 420 kasus DBD/DSS dengan 5 kematian. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Rinciannya, kasus DBD/DSS pada Januari mencapai 144 kasus dengan 3 kematian, Februari 100 kasus (1 meninggal), Maret 55 kasus, April dan Mei masing-masing 28 kasus, Juni 23 kasus (1 meninggal), Juli 25 kasus, Agustus 14 kasus, dan September 10 kasus.

Meski angka kasus menurun, Dinkes menekankan pentingnya tindakan pencegahan, dengan menerapkan 3M plus.

Yaitu menguras, mengubur, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta menaburkan larvasida di penampungan air.

“Kalau musim panas biasanya sumber penularan dari dalam rumah seperti kamar mandi. Tapi di musim hujan, potensi sarang nyamuk justru banyak di luar rumah, di tampungan air hujan. Ini yang harus diantisipasi,” jelas Desi.

Baca Juga: Warga Tulungagung Catat! Peralihan Musim Diprediksi Terjadi Mei, BMKG: Potensi DBD Masih Mengintai

Dia juga menambahkan bahwa pemberantasan sarang nyamuk (PSN) tidak boleh hanya dilakukan setelah muncul kasus, tetapi harus dilakukan secara berkelanjutan.

“PSN itu gerakan menghilangkan sumber penularnya, jentik-jentik nyamuk. Jadi tidak menunggu ada kasus dulu,” tegasnya.

Sementara itu, dia menjelaskan untuk tindakan fogging atau pengasapan hanya dilakukan apabila ditemukan kasus positif DBD di suatu wilayah.

Baca Juga: Pelajar SD di Tulungagung Meninggal Akibat DBD, Berikut Hasil Penyelidikan Episdemologi dari Petugas Dinkes Tulungagung

“Fogging kita lakukan dengan radius 100 meter dari titik kasus untuk memastikan tidak ada sumber penularan lain. Tahun ini kuota fogging memang terbatas, tetapi karena kasus juga menurun, penggunaan tidak banyak,” pungkas Desi.

Dengan memasuki awal musim hujan, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan menggiatkan kembali gerakan PSN, dan 3M plus di rumah masing-masing.

Langkah sederhana ini diyakini tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyebaran DBD di Tulungagung. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #demam berdarah dengue #dbd