RADAR TULUNGAGUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mulai memfokuskan strategi pencegahan HIV/AIDS pada kalangan usia muda.
Langkah itu diambil setelah kelompok usia 20 hingga 29 tahun tercatat mendominasi temuan kasus HIV di Tulungagung.
Kepala Dinkes Tulungagung Desi Lusiana Wardhani mengatakan, hasil pemetaan epidemiologi menunjukkan kelompok usia produktif awal menjadi penyumbang terbesar dalam penemuan kasus HIV yang tercatat selama ini.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena menyangkut kelompok usia yang sedang aktif bersekolah, kuliah, bekerja, maupun membangun kehidupan keluarga.
"Fokus pada kelompok remaja, edukasi berawal dari menyasar kaum muda, kelompok usia 20 sampai 29 tahun. Ini tercatat mendominasi penyakit," ujarnya.
Menurut Desi, fenomena tersebut menunjukkan pentingnya penguatan edukasi kesehatan sejak usia muda.
Tidak hanya terkait HIV/AIDS, tetapi juga berbagai persoalan kesehatan lain yang kini mulai banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
Dia mencontohkan, sejumlah penyakit tidak menular yang sebelumnya identik dengan kelompok usia lanjut, kini mulai muncul pada usia yang lebih muda akibat perubahan pola hidup masyarakat.
"Kalau melihat kasus-kasus anak muda sekarang, peningkatannya tidak hanya pada kasus ini. Bahkan, beberapa penyakit lain juga mulai menyasar kelompok usia segini. Artinya, pengelolaan kesehatan memang harus dimulai sejak awal," jelasnya.
Baca Juga: Kasus HIV/AIDS Remaja di Tulungagung Tembus 524 Orang, KPAD Ungkap 97 Persen Penularan dari Seksual
Karena itu, dinkes menilai pendekatan preventif menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko penularan HIV.
Edukasi tidak hanya berisi informasi mengenai bahaya penyakit, tetapi juga pemahaman mengenai cara pencegahan serta pentingnya menghormati penyintas HIV/AIDS tanpa stigma sosial.
Menurut Desi, pemahaman yang benar sangat penting agar generasi muda mampu melindungi diri sekaligus tidak melakukan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS.
"Edukasinya sangat penting, terutama bagi kaum muda agar mereka memahami risiko dan cara perlindungannya. Tetapi juga tidak memberikan stigma kepada orang lain. Itu yang harus ditekankan," katanya.
Untuk memperluas jangkauan edukasi, dinkes tidak hanya mengandalkan tenaga kesehatan di puskesmas.
Sejumlah organisasi kemasyarakatan dan kelompok kepemudaan juga dilibatkan sebagai mitra dalam penyebaran informasi kesehatan.
Program edukasi tersebut menyasar berbagai komunitas, termasuk kelompok remaja yang tergabung dalam Posyandu Remaja, organisasi perempuan, hingga kelompok masyarakat yang memiliki akses langsung kepada kalangan muda.
"Dinkes tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu, kami melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan agar edukasi bisa menjangkau lebih banyak kelompok sasaran," pungkasnya.
Melalui pendekatan tersebut, dinkes berharap kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah penularan HIV dapat terus meningkat sehingga angka kasus baru di Tulungagung dapat ditekan secara bertahap. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri