JAKARTA - Penyakit radang sendi akibat peningkatan kadar gejala asam urat kini semakin banyak mengancam kesehatan masyarakat umum secara luas. Praktisi medis sekaligus Spesialis Penyakit Dalam dr. Dewi Widyastuti memaparkan bahaya serta pemicu utama melonjaknya kadar purin di dalam darah.
Mengenali berbagai indikator gejala asam urat sangat penting agar proses penanganan dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Penumpukan zat purin yang berlebihan pada tubuh sering kali menimbulkan ketidaknyamanan yang cukup mengganggu aktivitas harian penderita.
Seseorang yang mulai mengalami gejala asam urat disarankan untuk segera melakukan penyesuaian pola hidup serta membatasi konsumsi harian. Langkah pencegahan sejak dini dinilai sangat efektif untuk menekan risiko komplikasi persendian yang lebih parah di kemudian hari.
Baca Juga: Era Bonsai Depok Simpan Ribuan Koleksi, Anting Putri 26 Tahun Dibuka Rp150 Juta
Pengertian Asam Urat dan Penyebab Peningkatan Purin dalam Darah
Secara medis, asam urat merupakan suatu kondisi di mana kadar purin di dalam aliran darah manusia berada pada angka yang tinggi. Peningkatan kadar purin tersebut pada dasarnya dapat diakibatkan oleh dua mekanisme utama di dalam organ tubuh penderita.
Penyebab pertama adalah produksi purin yang memang tergolong sangat tinggi di dalam aliran darah penderita. Sementara itu, faktor penyebab kedua adalah penurunan proses sekresi atau ekskresi pembuangan purin dari dalam darah tubuh.
Kedua proses tersebut menyebabkan zat purin tidak dapat dibuang secara optimal sehingga mengendap pada jaringan tubuh. Pengendapan kristal tersebut yang pada akhirnya menimbulkan rasa sakit pada area persendian penderita.
Mengenal Gejala Fisik Asam Urat dan Fenomena Tanpa Gejala
Masyarakat perlu memahami berbagai tanda fisik yang muncul saat kadar purin di dalam tubuh mulai melonjak drastis. Indikator fisik pertama yang paling sering dirasakan oleh setiap orang adalah timbulnya rasa nyeri pada bagian persendian.
Selain rasa nyeri, keluhan tersebut juga dapat disertai dengan pembengkakan nyata pada bagian persendian yang terdampak. Sendi yang membengkak umumnya akan terasa sangat sakit saat digerakkan atau tersentuh benda keras.
Kendati demikian, peningkatan purin di dalam darah juga dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala klinis sama sekali. Penderita kategori ini tidak merasakan nyeri ataupun pembengkakan meskipun kadar purin di dalam tubuhnya sudah melebihi batas aman.
Baca Juga: Arta Bonsai Batu Simpan Cemara 100 Tahun Seharga Rp750 Juta, Dirintis Keluarga Sejak 1979
Faktor Risiko Genetik dan Mutasi Gen KPOPX
Munculnya serangan asam urat dapat dipicu oleh faktor risiko keturunan atau genetik yang diwariskan dari keluarga. Seseorang yang memiliki garis keturunan penderita asam urat berisiko lebih tinggi mengidap kondisi medis serupa.
dr. Dewi Widyastuti menjelaskan bahwa faktor genetik ini dapat dialami oleh seseorang akibat terjadinya suatu mutasi gen. Salah satu jenis mutasi gen spesifik yang dapat memicu kondisi ini adalah mutasi pada gen KPOPX.
Keberadaan mutasi genetik ini membuat mekanisme pengolahan purin tubuh menjadi terganggu sejak awal. Oleh karena itu, individu dengan riwayat keluarga penderita perlu lebih waspada terhadap potensi lonjakan purin.
Daftar Pantangan Makanan Tinggi Purin dari Bayam hingga Melinjo
Selain faktor genetik, penyebab utama kenaikan asam urat ditimbulkan oleh konsumsi makanan yang kaya akan kandungan purin. Terdapat beberapa jenis bahan makanan harian yang wajib dihindari untuk mencegah penumpukan kadar purin di dalam darah.
Jenis bahan makanan pertama yang harus dibatasi adalah sayuran bayam karena mengandung kadar purin yang cukup tinggi. Kelompok makanan kedua yang patut dihindari adalah golongan kacang-kacangan beserta seluruh produk olahannya.
Masyarakat sering kali lupa bahwa olahan kedelai seperti tahu, tempe, hingga kecap juga terbuat dari kacang-kacangan. Makanan berbahan dasar kedelai ini mengandung purin yang dapat memicu nyeri sendi jika dikonsumsi berlebihan.
Bahan makanan ketiga yang menjadi pantangan adalah seluruh produk yang menggunakan bahan baku dari tanaman melinjo. Penderita dilarang mengonsumsi emping melinjo, daun melinjo, maupun bagian kulit melinjo dalam porsi harian.
Selanjutnya, kelompok makanan keempat yang mengandung purin tinggi adalah bahan makanan dari golongan kubis atau kol-kolan. Penderita disarankan membatasi konsumsi kol merah, kol putih, serta sayuran brokoli guna menjaga stabilitas kadar purin.
Batas Normal Kadar Asam Urat Berdasarkan Jenis Kelamin
Untuk memastikan kondisi kesehatan persendian, pemeriksaan kadar purin darah secara berkala sangat dianjurkan bagi masyarakat. Batas ambang normal kadar purin di dalam darah dipisahkan berdasarkan jenis kelamin penderita.
Pada kelompok wanita, kadar asam urat dapat dikatakan berada dalam batas normal apabila angkanya kurang dari 6 mg/dL. Sementara itu, pada kelompok pria, kadar purin darah dinyatakan normal jika angkanya berada di bawah 7 mg/dL.
Apabila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan angka melebihi batas tersebut, penderita dianjurkan segera melakukan langkah penanganan. Pemantauan angka ini menjadi tolok ukur utama keberhasilan penanganan medis yang dijalankan.
Perbedaan Medis Antara Asam Urat dan Penyakit Rematik
Masyarakat sering kali keliru dalam membedakan antara serangan asam urat dengan kondisi penyakit rematik secara umum. Membedakan kedua jenis gangguan kesehatan persendian ini sebenarnya tidak dapat dilakukan secara sederhana hanya dari gejala luar.
Untuk membedakan penderita asam urat dan rematik, tim medis perlu melakukan pemeriksaan laboratorium darah yang jauh lebih mendalam. Beberapa tes darah spesifik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyakit rematik pada tubuh pasien.
Pemeriksaan laboratorium tersebut meliputi tes rheumatoid factor serta pengujian C-Reactive Protein (CRP) sebagai penanda inflamasi peradangan darah. Selain itu, dokter juga dapat melakukan tes pemeriksaan sistem komplemen, seperti tes komplemen 3 (C3) atau komplemen 4 (C4).
Secara gambaran fisik, gejala klinis antara asam urat dan rematik memiliki kemiripan berupa atralgia atau rasa nyeri di seluruh persendian. Namun, penyakit rematik tertentu biasanya menyerang bagian-bagian sendi yang berukuran lebih besar.
Jenis penyakit rematik juga sangat beragam dan memiliki cakupan area gangguan yang jauh lebih luas pada tubuh. Oleh sebab itu, pasien sangat disarankan untuk berkonsultasi langsung kepada dokter ahli guna mendapatkan diagnosis yang akurat.
Cara Mencegah Asam Urat Secara Non-Farmakologis
Upaya penanganan dan pencegahan asam urat tidak hanya mengandalkan obat-obatan, tetapi juga dapat dilakukan melalui tindakan non-farmakologis. Langkah-langkah alami ini sangat efektif membantu menurunkan kadar purin tanpa menimbulkan efek samping obat.
Cara mencegah pertama yang sangat dianjurkan oleh dr. Dewi Widyastuti adalah melakukan penurunan berat badan hingga mencapai angka ideal. Berat badan yang terkontrol akan mengurangi beban kerja persendian serta membantu menstabilkan fungsi metabolisme tubuh.
Langkah non-farmakologis kedua adalah menerapkan pola diet rendah purin secara disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Penderita wajib memantang berbagai bahan makanan yang mengandung tinggi purin sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.
Adapun cara pencegahan ketiga yang tidak kalah penting adalah dengan meningkatkan aktivitas fisik atau rutin berolahraga. Olahraga teratur membantu melancarkan sirkulasi serta mendukung pembuangan sisa metabolisme purin dari dalam tubuh penderita.
Melalui kombinasi penurunan berat badan, diet ketat, dan olahraga teratur, kadar purin dalam darah dapat ditekan secara optimal. Kesadaran untuk menjaga pola hidup sehat menjadi kunci utama agar terhindar dari ancaman peradangan sendi.
Editor : Natasha Eka SafrinaSumber : Kata Dokter