Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Refleksi Maulid Nabi Muhammad Saw

Wawan Susetya • Kamis, 28 September 2023 | 22:00 WIB

 

Photo
Photo

 

         Oleh: Wawan Susetya, Budayawan

MALAM itu langit di atas kota Makkah (Arab Saudi) terlihat terang-benderang. Bahkan, cahaya tersebut menerangi rumah Aminah yang pada waktu Subuh telah melahirkan seorang jabang bayi laki-laki yang bercahaya.

Dialah Ahmad yang kelak dikenal dengan Nabi Muhammad Saw, khotamul anbiya’ (nabi pamungkas atau nabi akhir zaman). Sang Nabi lahir tanggal 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah (Tahun Fiil) yang bertepatan dengan 20 April 571 M. Pada waktu ia lahir, ayahnya Abdullah telah wafat, sehingga ia (Muhammad) terlahir sebagai anak yatim.

Ada peristiwa besar bersamaan dengan kelahiran Sang Nabi, yakni kedatangan pasukan bergajah yang dipimpin Raja Abrahah (Abrahah al-Asyram al-Habsy) dari Negeri Habasyah Ethiopia kala itu hendak menghancurkan Ka’bah di Makkah.

Selain itu, Raja Abrahah juga ingin menguasai pusat perekonomian Makkah Arab Saudi yaitu sumber air zam-zam di Makkah. Pada saat itu, Raja Abrahah juga telah menjarah semua ternak-ternak milik orang-orang Makkah termasuk unta-unta milik Abdul Muntholib, kakek bayi Muhammad.

Maka, Abdul Muntholib bersama orang-orang Makkah meminta ternak-ternak mereka yang telah dirampas oleh Raja Abrahah. Dengan permintaan terhadap ternak-ternak itu seolah-olah Abdul Muntholib dan orang-orang Makkah tak mempedulikan penguasaan Ka’bah beserta sumber air zam-zam oleh Raja Abrahah.

Setelah ternak-ternak itu dikembalikan, maka Abdul Muntholib bersama orang-orang Makkah naik ke gunung untuk menyaksikan bagaimana tindakan Allah terhadap Raja Abrahah beserta pasukan bergajahnya yang hendak menghancurkan Ka’bah.

Lantas, apa yang terjadi?

Sesaat kemudian, Allah mengirimkan utusan-Nya yaitu burung-burung yang berbondong-bondong (burung Ababil) yang melempari mereka (pasukan bergajah) dari tanah yang terbakar hingga menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.

Itulah hukuman dari Allah kepada pasukan bergajah yang dipimpin Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah yang dulu dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s dan putranya Nabi Ismail a.s.

Seiring dengan perkembangan waktu, masa remaja Muhammad tumbuh dengan kepribadian yang mulia dengan empat sifat yang melekat, yaitu shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas) dan tablig (menyampaikan syi’ar dakwah).

Ketika ia bergaul dengan masyarakat Makkah, remaja Muhammad senantiasa tawadhu’ (rendah hati). Kalau berdagang, ia senantiasa jujur dan dapat dipercaya. Itulah sebabnya ia digelari oleh masyarakat Makkah saat itu dengan gelar Al-Amin (dapat dipercaya).

Pengalaman pada masa muda pun dilalui dengan petualangan dalam perjalanan dagang milik Khadijah, seorang janda yang menjadi konglomerat saat itu. Muhammad dipercaya Khadijah dalam menjalankan misi dagang tersebut hingga ke negeri Syam (Palestina) dan Ethiopia (Afrika).

Setelah sukses menjalankan misi dagang itu, pemuda Muhammad yang berusia 25 tahun kemudian menikahi janda Khadijah dengan usianya 40 tahun.

Beberapa tahun pasca menikah itu, pemuda Muhammad mulai sering ber-tahanuts (berdiam diri) di Gua Hira’ selama beberapa hari dengan membawa perbekalan. Setelah itu keluar dari gua dan melakukan aktivitas seperti pada umumnya.

Lagi-lagi Muhammad melakukan tahanuts lagi ke Gua Hira’. Kadang-kadang Khadijah mengirim perbekalan ke gua untuk suaminya. Demikianlah aktivitas yang dilakukan pemuda Muhammad hingga akhirnya ketika berusia 40 tahun mendapatkan wahyu al-Qur’an yakni 5 ayat dalam Surah Al-‘Alaq.

Hal itu mengisyaratkan bahwa Muhammad telah diangkat menjadi Rasul dan Nabi Allah Swt.

Ada momentum penting ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul Allah yang berarti menyampaikan risalah Allah kepada seluruh umat manusia di muka bumi.

Mengapa Allah Swt menurunkan kitab suci melalui Nabi Muhammad di Makkah Arab Saudi yang notabene berada di tengah atau poros dunia? Seperti diketahui masyarakat Makkah Arab saat itu dikenal sebagai kaum jahiliyah Arab atau kaum kafir Quraisy yang telah kebablasen (berlebihan) setidaknya dalam tiga hal, yakni;

Pertama, kaum jahiliyah Makkah Arab menyalahi dalam ketauhidan (meng-Esa-kan Allah). Hal itu dibuktikan ketika mereka mengadakan suatu festival dengan membuat patung-patung (berhala-berhala) untuk dipujanya hingga jumlahnya mencapai 350 buah.

Kedua, kaum jahiliyah Makkah Arab juga menyalahi dalam konteks peribadatan. Mereka, kaum jahiliyah mengadakan suatu ritual-yang menurut mereka dianggap sebagai ibadah-bercampur antara laki-laki dan perempuan dengan menari-nari sambil mengelilingi Ka’bah dalam keadaan telanjang. Dan, ritual tersebut kemudian berakhir dengan seks bebas alias kumpul kebo.

Ketiga, kaum jahiliyah Makkah Arab dikenal sebagai kaum yang paling bengis atau kejam di antara umat-umat sebelumnya. Kaum jahiliyah Makkah saat itu memiliki tradisi menimbun hidup-hidup bayi-bayi perempuan mereka karena merasa gengsi memiliki anak perempuan.

Tindakan itu jelas lebih kejam bila dibandingkan dengan pembunuhan dengan menyembelih bayi-bayi laki-laki yang dilakukan Raja Fir’aun (di zaman Nabi Musa a.s) dan Raja Namrudz (di zaman Nabi Ibrahim a.s).

Sedang, tujuan penyembelihan bayi-bayi laki-laki di zaman Raja Fir’aun dan Raja Namrudz tersebut karena pada masa itu diperkirakan lahir seorang bayi laki-laki yang akan melakukan upaya makar kepada penguasa (Raja Fir’aun dan Raja Namrudz).

Selain itu, mengapa turunnya wahyu al-Qur’an di Kota Makkah (Arab Saudi), menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, mufassir al-Qur’an, hal itu untuk menjaga kemurnian Agama Islam. Sebab, masyarakat Makkah Arab saat itu dikenal dengan dua sifat atau karakter saja; yaitu iya atau tidak. Bersifat hitam dan putih. Artinya, ketika Nabi Muhammad Saw melakukan syi’ar dakwah mengenai risalah Ketuhanan secara diam-diam kepada seseorang, misalnya Si A, kalau dia mau menerima berarti beriman.

Sebaliknya kalau Si A menolak atau tidak mau, berarti ia kafir atau ingkar. Itulah sifat hitam-putih masyarakat Makkah Arab saat itu, sehingga justru menjaga kemurnian Agama Islam. Sementara sifat munafiq (lahirnya mengatakan iya atau dengan menunjukkan amaliyah ibadah, tetapi batinnya tidak setuju atau tidak beriman) itu baru muncul di Madinah, yakni kota di Arab tempat hijrah Nabi Muhammad Saw dari Makkah. (*)

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#maulid nabi #nabi muhammad #wawan susetya