KETIKA Anda yang tengah berhutang banyak, kemudian merasa memiliki kewajiban untuk melunasinya dengan segera, itu namanya sebuah kebangkitan. Demikian halnya bagi mereka yang hidupnya serba kecingkrangan dan akrab dengan penderitaan kemelaratan lalu berusaha untuk mendapatkan kesejahteraan lahir dan batin, itu namanya kebangkitan.
Ketika Anda yang memiliki banyak keterbatasan terutama mengenai kebodohan dan kemelaratan, lalu Anda tiba-tiba mendapat pencerahan untuk mengatasi berbagai macam ketidak-berdayaan tersebut, itu namanya juga sebuah kebangkitan. Demikian halnya bagi mereka yang berada dalam kondisi berlumuran dosa dan jauh dari ibadah, lalu ada getaran untuk bertaubat dan memperbaiki diri, itu adalah kebangkitan.
Ketika bangsa kita Nusantara didikuasai oleh penjajah--baik Belanda maupun Jepang--lalu para tokoh bangsa pergerakan pra kemerdekaan saat itu berusaha untuk memerdekakan bangsanya, itulah kebangkitan nasional.
Hari Kebangkitan Nasional tersebut ditandai dengan berdirinya Organisasi BUDI UTOMO pada tanggal 20 Mei 1908 dengan tokoh-tokohnya, antara lain dr. Sutomo dan dr. Wahidin Sudirohusodo. Keduanya telah menamatkan kuliahnya di STOKIA, kampus kedokteran milik Belanda.
Entahlah, apakah hal itu berarti Belanda "kecolongan" dengan munculnya para putra Bumi Putra (bangsa Nusantara) yang berusaha membangkitkan kesadaran rakyatnya untuk menggapai kemerdekaan. Yang namanya dijajah tentu suatu keadaan yang tidak mengenakkan, apalagi tidak memiliki kedaulatan sebagai suatu bangsa yang merdeka.
Setelah BUDI UTOMO disusul berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1912 yang kemudian diubah SI (Sarekat Islam) oleh Samanhudi dan HOS Cokroaminoto. Setelah itu Inshische Partij tanggal 25 Desember 1912 oleh tokoh tiga serangkai yaitu EFE Douwes Dekker, dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara).
Berikutnya Ormas Muhammadiyah pada 18 November 1912 oleh KH Ahmad Dahlan. Taman Siswa didirikan tanggal 3 Juli 1922 oleh Ki Hadjar Dewantara, Perhimpunan Indonesia (PI) tahun 1925, Ormas Nahdlatul Ulama (NU) oleh Hadratusy Syekh Hasyim Asy'ari tahun 1926, PNI (Parai Nasional Indonesia) oleh Ir. Soekarno tanggal 4 Juli 1927, dan sebagainya.
Syukurlah bahwa bangsa kita memiliki para tokoh cerdik pandai yang dikenal sebagai "founding fathers" (pendiri bangsa). Bisa dibayangkan bila mereka tidak menyampaikan gagasan dan ide-idenya yang cemerlang untuk kebangkitan bangsanya. Mereka, para tokoh organisasi pergerakan pra kemerdekaan itu jumlahnya saat itu masih sangat sedikit, di bawah 1 persen.
Namun, meski jumlahnya sangat sedikit, tapi dengan dilandasi semangat dan ketulusan, akhirnya bangsa kita dapat menggapai kemerdekaan yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945.
Itulah perjuangan para "founding fathers" yang telah berjuang dengan berbagai cara--baik yang dengan diplomasi atau jalan perang--yang semuanya merupakan sumbangsih untuk Ibu Pertiwi.
Kini, setelah kita menikmati kemerdekaan hampir 79 tahun pada tanggal 17 Agustus 2024 terdengar kabar kurang sedap mengenai kenaikan UKT (Uang Kuliah Tunggal) di perguruan tinggi negeri (PTN). Padahal belum lama ini Mendikbud Nadiem Makarim telah menelorkan Kurikulum baru yaitu Merdeka Belajar dengan spirit Sistem Among-nya Ki Hadjar Dewantara "Ing ngarsa sing tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani".
Dengan kenaikan biaya UKT yang sangat drastis sehingga banyak mahasiswa berdemo dan para orang tua merasa ketir-ketir menanggapi situasi tersebut, tiba-tiba ada seorang pejabat Kemendikbud yang seolah-olah "cuci tangan" terhadap permasalahan tersebut dengan menyatakan bahwa wajib belajar yang menjadi kewajiban pemerintah hanya 12 tahun.
Tak ayal ada seorang praktisi pendidikan tinggi yang berseloroh miring, "Sekarang ini kita bukan lagi Merdeka Belajar tapi Belajar Merdeka."***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra