Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Andai Saja Partai Politik Dikelola Layaknya Organisasi Pencak Silat

Luqman Hakim • Rabu, 5 Juni 2024 | 17:50 WIB

Muhammad Rusdi Firdaus
Muhammad Rusdi Firdaus

Oleh: Muhammad Rusdi Firdaus.

Pencak Silat ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia oleh UNESCO pada sidangnya yang ke-14 tahun 2019 di Bogota. Bermula dari gerakan naluriah mempertahankan diri ala hewan-hewan di bumi Melayu, Pencak Silat bertransformasi menjadi budaya yang mengejawantahkan tata tingkah ideal dalam masyarakat berlandaskan nilai kesatria menegakkan kebenaran dan keadilan yang dibangun di atas nilai persaudaraan.

Tercatat 10 Organisisasi Pencak Silat tergabung dalam Keanggotaan IPSI Kabupaten Trenggalek. Sebut saja, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Tapak Suci Putra Muhammadiyah, PSNU Pagar Nusa, Kelatnas Indonesia Perisai Diri, IKSPI Kera Sakti, Persinas Asad, Porsigal, Sinar Putih Suci, Tunas Putih dan Setia Hati Winongo. Jumlah anggotanya mencapai puluhan ribu Pesilat. Bahkan, beberapa di antaranya memiliki Padepokan atau Pusat Latihan (Puslat) yang dibangun di atas tanah aset organisasi.

Kini, organisasi pencak silat berkembang menjadi organisasi massa, dengan anggota yang semakin fantastis jumlahnya dan sukses mengelola organisasinya dengan mandiri dan berkesinambungan.

Jauh panggang dari api, organisasi Politik (Partai Politik) hari-hari ini diterpa persoalan kegagalan kaderisasi. Di Trenggalek misalnya, majunya Petahana dalam pemilihan bupati dan wakil bupati tahun 2024 tidak disambut dengan antusias oleh oposan pemerintah. Menurut aturan, partai politik atau gabungan partai politik dapat mengusung pasangan calon bupati dan wakil bupati jika memperoleh 20% dari kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Jika dihitung kasar, 20% artinya terbuka kemungkinan 5 pasangan calon dapat diusung oleh parpol dalam Pilkada.

Namun hampir tidak mungkin yang demikian bisa terjadi, paling banter tiga calon saja. Namun sampai tulisan ini dibuat, belum ada konsolidasi Partai politik di Trenggalek untuk melawan petahana yang didukung kursi DPRD dari partai PDIP dengan jumlah 13 kursi atau 28,9%.

Menurut hemat saya, Partai Politik hari-hari ini sedang menunggu koalisi gemuk pengusung Petahana. Mencari aman-nya, sukur-sukur mendapat kursi wakilnya. Atau, menunggu tokoh lain -tidak mesti dari partai- yang penting popularitasnya setara dengan petahana. Kemana kader partai? Hilangkah jiwa kesatria-nya dan takut kalah sebelum berperang? Atau justru, oposan itu hanya mitos? Seperti yang didongengkan di “Pusat”.

Jika problem Partai Politik hari ini adalah minimnya kader, bandingkan dengan kader pencak silat yang berjibun jumlahnya. Izinkan essai saya ini berandai-andai jika suatu saat Partai politik dikelola layaknya organisasi pencak silat.
Perkaderan Berjenjang Dan Konsisten
Darimana Organisasi Pencak Silat memperoleh massa? Tentu tidak dengan sendirinya. Massa organisasi pencak silat dilahirkan dari proses panjang, dijalankan secara konsisten dan menahun. Massa yang dirawat dengan presisten. Jumlah massa hari ini, adalah akumulasi tahun ke tahun proses perkaderan yang dijalankan berjenjang, tidak instan.

Dalam dunia Pencak Silat, pendidikan berjenjang itu diwujudkan dalam bentuk sabuk. Tingkat pendidikan direpresentasikan pada warna sabuk yang terikat di pinggang para Pesilat. Setiap tingkatan diperoleh melalui proses yang panjang dan melelahkan. Tempaan fisik, mental-spiritual dan nilai-nilai perguruan diajarkan secara berjenjang sesuai tingkatan sabuk.

Undang-Undang Partai Politik sebetulnya telah mendesain model pendidikan politik secara berjenjang dan berkelanjutan. Pasal 34 ayat (3b) huruf c menyebutkan, pendidikan politik salah satu bentuknya adalah kegiatan Pengkaderan anggota Partai Politik secara berjenjang dan berkelanjutan. Namun praktiknya, partai politik sering mengabaikannya.

Munculnya “kutu loncat” kader Partai Politik -yaitu kader yang berpindah partai satu ke partai lain atas dasar kepentingan pribadi untuk memperoleh kuasa- menandakan pragmatisme berkuasa yang menyebabkan proses perkaderan berjenjang tidak ada gunanya. Berbanding terbalik dengan pencak silat. Cobalah menjadi “kutu loncat” di dunia pencak silat, niscaya nyawa bisa terancam atau jika “kutu loncat” itu dimaklumi, harus mengulang dari tingkat dasar dan harus berjenjang di organisasi yang baru. Jika Parpol melakukan perkaderan secara berjenjang dan konsisten dari tahun ke tahun, maka anggota loyal Parpol akan terbentuk secara bertahap. Dari tahun ke tahun akan terakumulasi membentuk massa yang masif, begitu seharusnya.

Pendanaan Swadaya sebagai Bukti Loyalitas
Cobalah berkeliling ke Trenggalek, mulai dari kotanya sampai desa-desanya, anda akan temukan plang, tugu, dan papan organisasi pencak silat. Darimana organisasi pencak silat memperoleh dana membangun papan organisasi tersebut? Tentu saja iuran anggota, sukur-sukur sumbangan lain yang tidak mengikat sifatnya.
Uang, tidak selalu menjadi bahan bakar dalam menggerakkan massa. Meskipun pada akhirnya, semua membutuhkan uang. Organisasi massa yang kuat selalu digerakkan dengan loyalitas. Loyalitas dibangun diatas kesadaran senasib sepenanggungan, dan rasa senasib sepenanggungan terbangun melalui beratnya latihan.

Pendanaan dalam organisasi pencak silat bersumber dari kesukarelawanan anggotanya. Menggaji pelatih, membayar kehadiran siswa, membangun padepokan, semua dibangun dengan kesukarelawanan anggota.

Dalam konteks organisasi massa jika tidak mampu menggerakkan massa dengan loyalitas, maka uang yang menjadi motornya, begitu faktanya sehingga politik uang marak kita jumpai hari-hari ini. Bayangkan jika partai politik dibangun diatas rasa senasib sepenanggungan yang diwujudkan dengan kerelawanan, barang tentu partai politik dapat bertahan dengan Bantuan Politik (Banpol) yang seadanya itu.

Partai politik harus banyak belajar dari Organisasi Pencak Silat tentang perkaderannya, loyalitas anggotanya, dan sistem pendanaannya. Jika berhasil, untuk Pilkada 27 November 2024 kedepan tidak perlu mencari calon bupati dan wakil bupati non-kader Partai. Dari kader partai saja tersedia banyak, melimpah. Jangankan mencari sepasang, tiga pasangpun siap. Siap ditandingkan, siap ditarungkan secara kesatria dengan petahan sekalipun.

Namun demikian, belajar dari Organisasi Pencak Silat, Partai Politik tetap harus menyaring kebiasaan buruk dari Pencak Silat, terutama kebiasaannya konvoi di jalan-jalan dan bentrokan antar perguruan. Tabik!

*Penulis adalah Duta Literasi Demokrasi Pilkada Trenggalek 2024

Editor : Luqman Hakim
#Pilkada 2024 #Muhammad Rusdi Firdaus #trenggalek