Oleh : Rizky Sembada SE, MM, M.Psi
Dunia 2 tahun lalu diguncang bencana besar pandemic, tak terlepas juga Indonesia. Akibat dari bencana tersebut banyak sektor kehidupan terganggu. Pendidikan dan dunia bisnis paling merasakan dampaknya. Maka di masa pasca pandemi ini kita semua dituntut untuk melakukan pemulihan ekonomi, karena daya beli masyarakat yang terus menurun. Hal tersebut tentunya menuntut para pemimpin mempunyai skill problem solving yang mumpuni untuk membantu mengurai permasalahan yang terjadi saat ini.
Kasus yang bisa menjadikan pembelajaran saat pandemi yakni jutaan orang yang kehilangan pekerjaan, banyak keluarga yang bercerai, anak anak putus sekolah karena tak punya biaya. Belum lagi selesai masalah tersebut. Disusul dengan hadirnya era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 juga tengah menggeser dan menghilangkan berbagai posisi pekerjaan masa kini dan di masa depan.
Pada masa seperti ini problem solving (cara penyelesaian masalah) adalah salah satu skill yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin dan manajer. Tanpa pemahaman dan skill problem solving yang mumpuni, seseorang akan mengalami kesulitan saat bekerja, apalagi jika lingkungan kerjanya penuh tekanan. Menurut buku The Executive Guide to Improvement and Change oleh Donald P. Dinero menyatakan bahwa problem solving adalah kemampuan mendefinisikan masalah, menentukan sumbernya, membuat skala prioritas, menyusun alternatif-alternatif solusi, dan mengimplementasikannya sesuai kebutuhan. Singkatnya, _*problem solving adalah kemampuan menemukan masalah dan memecahkannya dengan baik.*_
Proses pemecahan masalah dapat terlaksana dengan adanya beberapa karakteristik problem solving yang wajib dipenuhi, yakni adanya interaksi antara pihak-pihak terlibat, misalnya antar karyawan dalam satu divisi, lintas jabatan, atau antara atasan dan bawahan. Kemudian selain itu juga terdapat diskusi yang diselenggarakan dengan efektif, sistematis, dan menghasilkan progres, baik secara formal, semiformal, atau informal.
Berdasarkan karakteristik tersebut, kita dapat menemukan bahwa peran pemimpin sangat vital dalam proses pengambilan keputusan. Agar proses problem solving terselesaikan, pemimpin tidak boleh egois atau terlalu longgar pada rekan-rekan yang membantunya dalam mengambil keputusan.
Pada dasarnya kemampuan problem solving juga berkaitan dengan berbagai skills lain seperti kemampuan mendengar, menganalisa, meneliti, kreativitas, komunikasi, kerja tim, dan pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin. Kita akan mengetahui pendekatan yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah, namun umumnya ada empat tahapan dasar dalam problem solving,
Mendefinisikan masalah yang ada. Mendefiniskan masalah bukan berarti hanya melihat pada gejala yang terlihat, tapi juga menganalisa kunci masalah yang sebenarnya. Pasalnya, banyak hal yang bisa melatarbelakangi dan mempengaruhi sebuah masalah. Itu sebabnya pada tahapan ini penting untuk melihat masalah dari berbagai perspektif.
Setelah mengetahui sumber masalah, maka tahapan problem solving berikutnya.
Mengembangkan alternatif solusi yang ada. Untuk melakukan hal ini kamu akan sangat membutuhkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis dan logis. Bandingkan segala alternatif lalu pertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada. Tujuan problem solving adalah menemukan solusi yang terbaik atas sebuah masalah. Karena itu setelah memikirkan alternatif yang ada, cobalah tentukan solusi mana yang paling tepat. Untuk menentukannya solusi terbaik, pertimbangkan solusi mana penerapannya paling memungkinkan dan tidak berpotensi menyebabkan masalah lainnya. Ini adalah tahapan paling menentukan dari proses problem solving. Pasalnya, pemimpin akan menyusun strategi, membagikannya dengan anggota tim dan menindaklanjuti solusi yang telah pemimpin putuskan.
Mengumpulkan masukan dari berbagai pihak yang terlibat lalu mengevaluasi hasil jangka panjang dari penerapan solusi tersebut.
*Pilkada 2024* sudah semakin dekat dan saatnya momentum ini digunakan secara tepat untuk memilih pemimpin yang mempunyai sifat "problem solving leader" atau pemimpin yang mampu membawa bangsa ini keluar dari persoalan besar yang dihadapi selama ini. *Indonesia ke depan membutuhkan pemimpin yang mampu menjawab persoalan besar bangsa seperti kemiskinan, pengangguran, ketidakmerataan, dan penegakan hukum.* Hal tersebut membutuhkan ketokohan yang teruji, kuat, berani, jujur, dan sudah terbukti dari rekam jejaknya.
Saat ini Indonesia terdapat 240 juta orang dan tidak sulit menemukan calon pemimpin yang mempunyai sifat problem solving leader, sebagai contoh Singapura yang negaranya hanya kecil, butuh satu sosok seperti Lee Kuan Yew untuk membuat negeri singa itu bisa besar seperti sekarang. Sedangkan Malaysia juga hanya butuh seorang Mahathir Mohamad.
Sudah saatnya pemikiran kaum terpelajar, mahasiswa dan akademisi dimanapun ikut menentukan kepemimpinan bangsa Indonesia di berbagai daerah masing masing.
Tahun 2024 merupakan satu momentum yang sangat menentukan arah Indonesia, apakah akan membawa Indonesia ke negara maju atau justru negara gagal. Pemuda memiliki tanggungjawab yang besar dalam tatanan kehidupan masyarakat karena pemuda dipandang memiliki kemurnian idealisme. Pemuda berperan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, yakni peranan pemuda sebagai sebuah kekuatan moral, sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial dalam masyarakat.
*Potensi pemuda akan sia-sia apabila pemuda masih dipandang sebagai potensi suara saja.* Proses Pilkada seharusnya dapat menjadi sarana dalam menciptakan pemilih-pemilih cerdas yang kelak akan menjadi pemimpin di daerah masing-masing yang akan berkontribusi baik ikut serta secara langsung menjadi penggerak perubahan demi kemajuan daerah- daerah masing
-masing secara khusus dan Bangsa Indonesia secara umum. Insyaa Allah.(*)
Sumber : RADAR TRENGGALEK