Oleh: H. H CHAMIM, S.E. (Anggota Fraksi PKB DPRD Kabupaten Tulungagung)
Prolog
Dua puluh dua Desember dalam penanggalan masehi di tanah air diperingati sebagai hari ibu. Hal ini menandakan bahwa terdapat penghargaan yang tinggi oleh bangsa ini terhadap peran ibu secara khusus dan tentunya peran wanita secara umum dalam konteks kehidupan sosial, politik,berbangsa dan bernegara. Karenanya hari ibu tidak terlepas dari peran wanita dalam konteks kesejarahannya.
Bangsa-bangsa di dunia memiliki sejarah sendiri berkaitan perlakuannya terhadap wanita termasuk juga di nusantara. Wanita dalam sejarah banyak mengalami perlakuan yang diskriminatif, bahkan wanita mendapatkan justifikasi sebagai makhluk yang tidak berharga, memalukan, hingga membunuh bayi yang lahir wanita pun menjadi hal yang biasa.
Kesejarahan wanita yang sedemikianlah, yang akhirnya menjadikan peran wanita didalam sosial kemasyarakatan menjadi terhambat. Akhirnya menggejala pandangan bahwa wanita cenderung menjadi obyek pemuas laki-laki dan kehadirannya sekadarhanya untuk meneruskan keturunan yang acapkali jika keturunan yang dilahirkan pun wanita juga seringkali dikorbankan.
Seiring dengan perkembangan waktu, peran wanita semakin mempunyai makna yang berarti dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Banyak wanita yang berani menentang terhadap tatanan sosial yang berkembang di masyarakat yang mengungkung perannya, banyak wanita yang mampu menunjukkan eksistensinya dalam dunia sosial melampaui ekspektasinya, hingga tidak sedikit pekerjaan yang semestinya diselesaikan oleh pria namun justru selesai dengan baik, rapi, dan sempurna oleh tangan wanita.
Peran Wanita
Berbicara peran wanita saat sekarang tentu harus menengok masa lalu, tak usah jauh-jauh ke negeri orang, akan tetapi menengok masa lalu dalam sejarah bangsa di nusantara sudah lengkap untuk menggambarkan peran wanita. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum ada Indonesia telah didahului oleh adanya kerajaan-kerajaan di nusantara. Dari kerajaan-kerajaan di nusantara inilah terlihat jelas seberapa besar peran penting wanita dalam kehidupan sosial, politik, berbangsa dan bernegara.
Ken Arok pendiri dan raja pertama kerajaan Singasari, mampu membangun sebuah kadipaten kecil bernama Tumapel menjadi sebuah kerajaan besar berkat kegigihannya dalam berjuang, sekaligus juga ada peran utama wanita yang tidak hanya cantik namun juga berwibawa.
Ken Dedes, adalah wanita bangsawan yang cantik dan cerdas, ia tidak hanya menginspirasi terbentuknya kerajaan baru akan tetapi juga sekaligus aktor yang aktif bersama suaminya untuk membangun sebuah negeri yang disegani oleh negeri-negeri lainya. Demikian juga raja-raja Jawa berikutnya, dibalik kejayaannya terdapat peran wanita disampingnya. Oleh karena itu setiap kerajaan di jawa pasti ada yang namanya garwa prameswari (atau sekarang = ibu negara) yang berperan memberikan keseimbangan (balancing) dalam mengendalikan kerajaan.
Bersamaan dengan peran penting wanita dalam kehidupan sosial politik, berbangsa dan bernegara, di nusantara juga pernah mempunyai sejarah yang berkesan kuat mengebiri peran wanita. Di antara perlakuan itu adalah bahwa wanita seringkali diperlakukan sebagai konco wingking (teman dibelakang) yang hanya berperan membantu suaminya semata.
Sehingga terjadilah apa yang disebut wanita pingitan (wanita yang disembunyikan). Wanita tidak diperbolehkan bergaul dengan dunia luar,jangankan untuk mendapatkan pendidikan, untukmendapatkan teman saja tidak diperbolehkan, karena ada anggapan yang terpenting wanita dapat memberikan pelayanan yang baik kepada suaminya.
Perjuangan wanita untuk mendapatkan hak-haknya sebagai bagian dari dunia sosial politik, berbangsa dan bernegara dilakukan melalui proses yang panjang, hingga akhirnya peran wanita mendapatkan pengakuan dari pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa negara telah mengangkat beberapa orang dari kalangan wanitauntuk mendapatkan gelar pahlawan, misalnya Cut NyakDien, RA Kartini, Dewi Sartika, Ratu Kalinyamat dan sebagainya.
Gelar pahlawan disematkan kepada putra dan atau putri bangsa Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar kepada bangsa dan negara untuk menjadi merdeka baik meredeka dari penjajahan kolonial maupun merdeka dari kungkungan nilai dan budaya yang memasung kebebasannya sehingga menghambat bagi dirinya untuk berkarya dan mengabdi kepada bangsanya. Termasuk dalam upaya mengangkat derajat wanita dalam spektrum persamaan gender adalah keharusan mengisi kuota 30% wanita pada pencalonan anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Baca Juga: Sosok Ibu Di Mata Gatut Sunu Wibowo Adalah Segalanya, Restu Ibu Menjadi Yang Utama
Peran Wanita sebagai Ibu
Banyak lakon yang bisa diperankan oleh wanita, salah satunya adalah wanita sebagai ibu. Peran wanita sebagai ibu bukan sesuatu yang bernilai biasa-biasa saja, akan tetapi peran wanita sebagai ibu merupakan peran yang sangat mulia dan luar biasa. Itulah maka dalam suatu hadits, Nabi Muhammad menempatkan posisi ibu itu berada ditiga tingkat di atas pria sebagai seorang ayah, dan bahkan lebih dari itu, derajat yang sangat mulia dipegang oleh ibu hingga surga saja posisinya berada di bawah telapak kakinya (al-jannatu tahta ‘aqdamil ummahati) [surga itu berada di bawah telapak kaki para ibu]).
Pernyataan metaforis Nabi ini menunjukkan gambaran betapa peran ibu itu tak tergantikan oleh apa dan siapapun bahkan oleh perkembangan teknologi yang sangat canggih sekalipun.
Mengapa ibu sedemikian mulia digambarkan oleh Nabi? Jawabnya sederhana, karena ibu melahirkan dan mendidiknya. Seorang ibu tidak hanya sekedar melahirkan anak, tetapi ibu memberikan kehidupan. Ibu yang melahirkan anak dengan susah payah pada akhirnya ibu pulayang harus memberikan air kehidupan kepada anaknya agar tumbuh besar dan sehat.
Hal ini menandakan bahwa peran ibu tidak semata melahirkan, akan tetapi juga menjaga tumbuh kembang anak. Karenanya jangan pernah berharap generasi penerus bangsa ini akan menjadi generasi yang baik tanpa penjagaan seorang ibu yang baik. Oleh karena itu, ibu berperan penting sebagai pendidik yang pertama dan utama. Anak pertama-tama mengenal bahasa adalah bahasa ibu, bahasa yang tidak bisa dipahami oleh siapapun melainkan oleh ibu dan anak itu sendiri. Seorang ibu tahu benar makna senyum anaknya bahkan makna tangis anaknya pun dikenali dengan baik. Maka ibu adalah peletak dasar nilai-nilai bagi tumbuh kembang anak di masa yang akan datang.
Ibu berperanan penting dalam mengawal perkembangananak-anaknya, di tangan ibu anak bisa mengenali bahasa orang-orang disekitarnya, dari tangan ibu anak memberihormat kepada orang yang lebih tua bahkan doa ibu menjadi sumber energi tak tergantikan bagi generasi penerusnya dan sebagainya. Dengan demikian, kemajuan bangsa ini tidak terlepas dari peran ibu, ibulah yang telah mempersiapkan generasi demi generasi untuk memberikan kontribusinya kepada lingkungan sosial masyarakatnya. Karenanya panggung kehidupan ini merupakan altar pemujaan, panggung pengabdian, bahkan bagai tempat sujud untuk mengabdikan diri dengan mempersiapkan generasi untuk masa depan yang lebih baik.
Peran Ibu di Antara Problem Wanita Masa Kini
Ibu adalah wanita, masa lalu dan masa kini bahkan masa depan pun ibu tetap wanita, dalam diri seorang ibu tidak terdapat persoalan apapun, karena ibu akan tetap ibu dan keramat sepanjang masa. Persoalan yang muncul bukan pada status “ibu”-nya akan tetapi persoalan akan muncul pada status “wanita”-nya.
Ketika emansipasi menggelorakan pembebasan wanita dari keterpurukannya sebagai “budak”, dalam masyarakat kapitalis wanita memasuki babak baru perbudakan. Wanita ketika memberontak peran yang diberikan oleh masyarakat industri dinilai sebagai kolot dan kampungan. Pada masyarakat kapitalis wanita cenderung lebih bermakna sebagai komoditas yang diperjual belikan.
Wanita sering dieksploitasi untuk tujuan promosi produk industri, tubuh wanita sering dipertontonkan untuk menarik selera konsumen, iklan sabun tak akan menarik tanpa gambar wanita setengah telanjang, iklan rokok tak akan menggiurkan kecuali tersemat pada bibir sensual wanita dan sebagainya.
Demi emansipasi, maka banyak wanita yang lupa bahwa ia adalah ibu. Ibu yang senyum ramahnya mendamaikan anak-anak, ibu yang penampilannya diteladani anak-anak, ibu yang bicaranya menenteramkan hati anak-anak, ibu yang semangatnya meneguhkan hati anak-anak, ibu yang doanya menembus petala langit dan mengguncang Arasy.
Wanita boleh berkarir, wanita boleh bekerja di luar rumah, namun harus ingat bahwa wanita adalah ibu, perjuangan wanita dalam karir dan pekerjaannya di luar rumah harus tetap membawa eksistensinya sebagai ibu. Sebagai ibu ia tokoh utama dalam rumah tangga yang mempersiapkan lahirnya generasi masa depan, sebagai ibu ia adalah istri yang menjaga keseimbangan kehidupan keluarga. Ibu adalah spirit bagi keluarganya karena doa ibu dikabulkan Tuhan, ibu...ibu...ibu. Selamat Hari Ibu.***
Editor : Mukhamad Zainul Fikri