PERTAMA KALI saya mendengar ujaran “Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat” dari budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil Cak Nun melalui acara Sinau Bareng di berbagai tempat beberapa tahun lalu. Menurut Cak Nun, kearifan lokal tersebut berasal dari masyarakat di sekitar lereng Gunung Merapi di daerah Sleman-Yogyakarta yang telah mendarah-daging. Artinya, kearifan lokal yang yang mengandung makna falsafah mendalam tersebut telah dijalankan oleh masyarakat di sekitar kawasan Gunung Merapi sesuai dengan sosio-kultur dan budaya masyarakat di sana dengan baik. Karena dianggap memiliki nilai-nilai falsafah yang adiluhung dan islami, tak mengherankan bila Cak Nun kerapkali menyosialisasikan kearifan lokal “Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat” di berbagai daerah dalam acara Sinau Bareng bersama CNKK (Cak Nun Kiai Kanjeng).
Dalam konteks ini, tentu yang menjadi subyek-nya adalah orang Jawa. Sebab, masyarakat di sekitar Gunung Merapi terletak di daerah Sleman-Yogyakarta yang berbatasan dengan daerah Magelang dan Klaten Jawa Tengah yang merupakan Suku Jawa. Allah Swt juga telah menegaskan mengenai keberadaan bangsa-bangsa dan suku-suku di muka bumi sebagaimana disebutkan dalam Surah Al Hujurat ayat 13.
Pertama, ujaran “Jawa digawa” mengisyaratkan bahwa hal itu merupakan pengingat kepada kita sebagai orang Jawa untuk memelihara dan melestarikan khasanah Jawa (Kejawen) atau meneguhkan pribadi kita sebagai orang Jawa yang meliputi banyak hal, seperti bahasa, budaya, tradisi & adat-istiadat termasuk kearifan lokal, dan sebagainya. Secara umum, tutur kata dan bahasa Jawa—terutama masyarakat Solo dan Yogyakarta, tempat Kasultanan atau kraton di Jawa sekaligus pusat kebudayaan Jawa—dikenal sangat halus dan lembut serta memiliki khasanah budaya yang adiluhung. Selain itu, masyarakat Jawa juga dikenal memiliki sifat wicaksana (bijaksana) dan kesabaran dalam kehidupan, terlepas ada sifat-sifat lainnya.
Dalam konteks ini, patut kiranya diketengahkan pula identifikasi orang Jawa yang sangat menarik, yakni ditandai dengan simbol-simbol, antara lain 1 Busana (pakaian Jawa, baik untuk laki-laki maupun perempuan), 2 Wisma (rumah limas), 3 Kukila (burung Perkutut sebagai peliharaan), 4 Turangga (kendaraan kuda), 5 Curiga (senjata berupa keris).
Kedua, ujaran “Arab digarap” mengisyaratkan bahwa meskipun ajaran Agama Islam serta kitab suci al-Qur’an diturunkan di Tanah Suci Arab (Mekkah dan Madinah), namun kita harus menyerap nilai ajarannya, sedang budayanya tidak harus diikuti. Memang, orang Arab terkenal dengan kekuatan dan ketegasannya dalam menghadapi tantangan hidup. Hal itu tidak berlebihan karena Rasulullah Saw memerintahkan kepada para orang tua supaya melatih anak-anak mereka melakukan tiga jenis olah raga, yakni berenang, berkuda dan memanah. Dan, tiga jenis olah raga tersebut tergolong mahal dan mewah di negara kita.
Dalam hal ini, kita perlu mengapresiasi pesan Bung Karno yang mengatakan, “Kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.” Dalam konteks budaya, KH Abdurrahman Wahis alias Gus Dur pun juga pernah mengingatkan: “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab, bukan aku jadi ana, kamu jadi antum, saudra jadi akhi, tetapi kita harus pertahankan milik kita, kita serap ajarannya, bukan budaya Arabnya.”
Baik pernyataan Bung Karno maupun Gus Dur di atas memiliki substansi yang sama yakni silahkan rakyat Indonesia memeluk salah satu dari agama-agama, entah Hindu, Budha, Islam atau Kristen dengan menyerap dan menjalankan ajaran agamanya, bukan budayanya. Sebab kita sebagai bangsa Jawa sudah memiliki budaya dan bahasa sendiri yang semestinya kitalah yang memelihara dan melestarikannya.
Ketiga, ujaran “Barat diruwat” mengisyaratkan bahwa meskipun bangsa Barat terkenal dengan kreativitasnya yang tinggi dengan penemuan IT-nya yang canggih, namun kita selaku orang Jawa hendaknya mampu me-ruwat; menyempurnakan dan memfilter-nya dengan baik. Sebut saja mengenai penggunaan internet melalui gadget atau hp canggih yang sebenarnya dapat mempermudah kehidupan manusia, namun bila kurang atau tidak berhati-hati dalam penggunaannya dapat mengalami musibah. Yang namanya alat atau piranti canggih yang ultra modern tentunya sifatnya netral, hanya saja hal itu bergantung dari penggunaan atau pemanfaatannya. Kalau alat atau piranti canggih tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya atau melampaui batas-batas kewajaran, lihat saja betapa banyak anak-anak remaja maupun masyarakat umum yang terlibat dalam judi online, prostitusi online, pornografi, game online dan sebagainya. Bahkan yang namanya iming-iming untuk belanja online melalui marketplace di berbagai aplikasi media sosial sangat menarik perhatian khususnya kalangan ibu-ibu yang dibuat keranjingan dalam belanja online karena produknya bagus-bagus dengan harga murah. Dan, kemudahannya lagi dapat belanja tanpa keluar rumah.
Dari khasanah kearifan lokal masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi yakni “Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat” yang merujuk bangsa Jawa, Arab, dan Barat, lalu timbul suatu gagasan bagaimana orang Jawa memandang atau menanggapi bangsa China?
Barangkali “China dipernahna” atau diarahkan menjadi lebih baik. Bagaimana pun kita mengetahui sejarah perjalanan orang-orang China dari “Negeri Tirai Bambu” yang menyebar hampir di seluruh dunia lantaran kepadatan penduduk di sana. Karena mereka menyadari hidup di perantauan, maka dibutuhkan semangat kerja yang ulet dan kesungguhan dalam bekerja melalui jaringan link bisnisnya yang mirip seperti jaring laba-laba. Tak mengherankan bila kebanyakan orang-orang China yang hidup di kota-kota Pulau Jawa rata-rata mengalami sukses. Hanya saja, mereka tidak diizinkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk membeli aset tanah di daerah Yogyakarta. Dalam hal ini tentu ada alasannya, lantaran bangsa China yang tinggal di Indonesia pada masa penjajahan ikut dekat atau bahkan bergabung dengan penjajah Belanda maupun Jepang, bukan pribumi.
Tentang Kasta Di Jawadwipa
Dulu, pada masa Kerajaan Majapahit, warga masyarakat Jawadwipa (Tanah Jawa) saat itu mayoritas memeluk Agama Kapitayan atau penghayat Kapercayan kepada Gusti Kang Maha Agung yang memiliki tradisi di masyarakat Jawa mengenai kasta; yaitu mengenai tingkatan (strata) tinggi-rendahnya derajat manusia di masyarakat. Walaupun kasta tersebut peninggalan dari ajaran Agama Hindu-Budha, tetapi pada saat itu masih dipelihara oleh warga Jawadwipa.
Dan, kasta yang masih diuri-uri (dipelihara) warga masyarakat Jawa saat itu, yakni;
Pertama, Kasta Kaum Brahmana; yaitu sebagai kasta atau derajat yang paling terhormat atau paling dihormati oleh masyarakat saat itu. Kasta brahmana sangat dihormati oleh warga masyarakat karena hampir semua hidupnya dipersembahkan berhubungan dengan Gusti Kang Maha Agung melalui tapa brata atau samadi. Artinya, dengan demikian Kaum Brahmana tidak memikirkan sama sekali urusan duniawi. Meski menjadi manusia elite di zamannya, Kaum brahmana itu tinggalnya tidak di istana atau di pusat kekuasaan, tetapi di sebuah padhepokan sederhana di tengah hutan, di atas gunung, di desa yang terpencil jauh dari pusat kutharaja, dan sebagainya.
Kedua, Kasta Ksatria; yaitu Raja atau Ratu (penguasa) serta para pangeran, para nayaka praja (pamong praja) atau para pejabat dan sebagainya. Para Kasta Ksatria itu hanya memikirkan serta melindungi para kawula-dasih (rakyat), tanpa memikirkan bandha-donya (duniawi). Sebab para ksatria tersebut semua kebutuhannya sudah dicukupi oleh negara (kerajaan).
Ketiga, Kasta Waisya; yaitu golongan para petani, nelayan, jasa dan sebagainya. Kasta Waisya itu seperti petani dan nelayan, hasil dari bekerjanya yang separuh untuk diri dan keluarganya, sedang yang separuh lagi untuk memikirkan orang lain.
Keempat, Kasta Sudra; yaitu tergolong orang bebar (liar). Artinya Kasta Sudra itu bebas mengumpulkan atau mencari uang atau harta dunia sebanyak-banyak hingga menjadi kaya-raya. Yang paling banyak di antara golongan Kasta Sudra yaitu para pedagang, rentenir dan sebagainya. Tidak benar bahwa kasta sudra itu hanya orang-orang miskin saja, sebab orang yang ber-kasta sudra juga bisa menjadi kaya-raya.
Selain 4 (empat) kasta itu, ada lagi golongan kasta yang lebih rendah derajatnya, antara lain kasta paria, yaitu golongan yang rendah derajatnya karena pekerjaannya hanya melayani para brahmana dan ksatria. Ada lagi kasta malecca atau algojo yang menjalankan hukuman mati kepada para nara pidana yang mendapat hukuman mati dari kraton (negara). Meski malecca atau algojo tadi menjalankan tugas kraton (nagara), tapi jenis profesi seperti itu tergolong rendah derajatnya di masyarakat saat itu. Yang terakhir disebut kasta candhala yaitu orang asing atau keturunan dari perkawinan dengan orang asing. Kasta candhala itu hanya boleh bekerja hanya menjadi budak saja. Tidak boleh bekerja seperti kebanyakan orang pada umumnya.
Maka, tidak berlebihan kiranya jika mengacu kearifan lokal di atas “Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat”, lalu “China dipernahna” atau diarahkan menjadi lebih baik. Mustahil bagi orang Jawa sekarang menolak kedatangan China, sedang sehari-harinya mereka telah tinggal dan membaur dengan masyarakat di bumi Nusantara. *Penulis adalah Sastrawan-budayawan dan penulis buku, tinggal di Tulungagung-Jatim
o0o
NB:
N a m a : Wawan Susetya
Tempat & tgl lahir : Tulungagung, 1 Desember 1969
Agama : Islam
Pekerjaan : Sastrawan-budayawan & Penulis buku
Pegiat ForSabda dan Maiyah SWA (Segi Wilasa Agung)
& Sanggar Triwida Tulungagung, Satu Pena Jawa Timur
Pendidikan : S-1 Pendidikan Bahasa Inggris
Alamat : RT 1/RW 1 Glotan 29, Ds. Tanggung, Kec. Campurdarat,
Kab. Tulungagung, Jatim 66272
E-mail : wawan.susetya@gmail.com
No. Rekening BCA : 128.1254.222 a.n Wawan Susetya
WA/HP : 0821.3922.7725
Editor : Firman Aji Saputra