Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ketimpangan Sosial dalam Era Digital

Tim Redaksi • Sabtu, 20 Desember 2025 | 14:49 WIB
(Halmarina Rafa Azzahra/202510040110082/Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang)
(Halmarina Rafa Azzahra/202510040110082/Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang)

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat modern, terutama dalam cara manusia berinteraksi, membangun relasi sosial, dan mengakses informasi.

Digitalisasi menciptakan ruang sosial baru yang memungkinkan individu terhubung tanpa batasan ruang dan waktu melalui jaringan internet.

Media sosial, aplikasi pesan, serta berbagai platform digital menjadi sarana utama dalam aktivitas komunikasi sehari-hari.

Perubahan ini memperluas ruang interaksi sosial dari yang semula berbasis tatap muka menjadi ruang maya yang fleksibel dan terbuka, sekaligus membentuk realitas sosial baru dalam kehidupan masyarakat.

Masyarakat digital ditandai oleh meningkatnya ketergantungan pada teknologi dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga pembentukan identitas diri.

Generasi muda menjadi kelompok yang paling cepat beradaptasi dengan perubahan ini karena terbiasa menggunakan perangkat digital dalam aktivitas sehari-hari.

Namun, tidak semua kelompok masyarakat memiliki kemampuan yang sama dalam mengakses dan memanfaatkan teknologi.

Perbedaan akses internet, literasi digital, serta kemampuan ekonomi menciptakan kesenjangan digital yang memperlihatkan ketimpangan sosial dalam masyarakat modern.

Kajian sosiologi dan antropologi memberikan kerangka penting untuk memahami fenomena ini.

Teori masyarakat jaringan menjelaskan bahwa struktur sosial kini terbentuk melalui keterhubungan digital yang tidak lagi bergantung pada kedekatan fisik.

Relasi sosial dibangun dalam bentuk jaringan informasi yang saling terhubung, memungkinkan terciptanya solidaritas digital dan komunitas daring.

Namun, di sisi lain, pergeseran ini juga berdampak pada menurunnya intensitas interaksi tatap muka, sehingga sebagian hubungan sosial menjadi lebih dangkal dan kurang bermakna.

Ruang digital juga memengaruhi pola perilaku sosial masyarakat.

Aktivitas seperti berbagi konten, memberikan komentar, dan membangun opini di media sosial menjadi kebiasaan baru yang membentuk cara berpikir individu.

Informasi yang beredar secara cepat di ruang digital dapat membentuk persepsi masyarakat terhadap isu sosial, tetapi juga membawa risiko berupa penyebaran hoaks dan polarisasi opini.

Oleh karena itu, literasi digital menjadi kompetensi sosial yang sangat penting agar masyarakat mampu bersikap kritis terhadap informasi dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara daring.

Digitalisasi turut memengaruhi pembentukan identitas dan representasi diri. Identitas digital memungkinkan individu menampilkan citra diri yang fleksibel dan dapat dikurasi sesuai dengan norma komunitas daring.

Melalui media sosial, individu memainkan peran tertentu di hadapan publik digital, sebagaimana dijelaskan dalam teori dramaturgi.

Identitas ini dapat menjadi sarana ekspresi diri dan pemberdayaan, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan sosial akibat tuntutan untuk tampil ideal dan mendapatkan pengakuan sosial.

Selain identitas individual, ruang digital juga melahirkan identitas kolektif melalui komunitas daring.

Komunitas digital membangun solidaritas dengan menggunakan simbol visual, narasi, dan konten kreatif sebagai sarana komunikasi.

Budaya digital berkembang pesat melalui praktik seperti pembuatan meme, video viral, dan kampanye sosial daring.

Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa ruang digital bukan hanya arena individual, tetapi juga ruang kolektif yang membentuk makna sosial baru dalam masyarakat.

Namun, perkembangan budaya digital tidak terlepas dari persoalan ketimpangan sosial.

Akses teknologi yang tidak merata, rendahnya literasi digital di wilayah tertentu, serta perbedaan modal digital antar kelompok sosial memperkuat kesenjangan yang sudah ada.

Ketimpangan ini terlihat dalam partisipasi sosial, relasi keluarga, hingga dunia kerja digital.

Bahkan, teknologi berpotensi mereproduksi hierarki sosial melalui diskriminasi berbasis identitas dalam ekonomi platform.

Secara keseluruhan, digitalisasi merupakan proses sosial yang tidak hanya membawa peluang, tetapi juga tantangan serius bagi struktur sosial masyarakat.

Tanpa pemerataan akses dan penguatan literasi digital, transformasi digital berisiko menciptakan bentuk ketimpangan sosial baru.

Oleh karena itu, pemahaman kritis terhadap masyarakat digital menjadi penting agar perkembangan teknologi dapat mendorong inklusi sosial, keadilan, dan keberlanjutan dalam kehidupan masyarakat modern.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#teknologi #Masyarakat modern #media sosial