Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tuhan dan Alam Semesta pun Berpuasa

Wawan Susetya • Rabu, 18 Februari 2026 | 18:44 WIB
Wawan Susetya
Wawan Susetya

PUASA, puasa, dan puasa. Barangkali, begitulah “perjalanan” puasa terhadap semua lini kehidupan: yakni bagi malaikat, manusia, makhluk jin, binatang, alam semesta (matahari, bulan, bumi, bintang, planet-planet, dan sebagainya) bahkan Tuhan pun “berpuasa”.

“Perjalanan” puasa yang diwajibkan bagi umat manusia—sebagaimana yang diwajibkan kepada kaum muslimin—sebenarnya merupakan jenis peribadatan kepada Allah yang tertua.

Betapa Adam a.s ketika masih di surga, oleh Tuhan sudah disuruh untuk “berpuasa” untuk tidak menyentuh buah khuldi. Iblis—yang sudah divonis harus enyah dari surga—memanfaatkan peluang emas tadi dengan membujuk Adam dan Hawa dengan maksud agar kedua manusia tadi mengikuti jejaknya; terusir dari surga.

Ternyata, bisikan dan godaan iblis kepada dua insan tadi benar-benar mengena. Dan, terusir pulalah Adam dan Hawa dari surga ke dunia yang fana ini.

Dalam fenomena di atas menunjukkan bahwa “puasa” Adam-Hawa batal.

Mereka yang mestinya menikmati fasilitas di surga yang melimpah itu, ternyata terjangkit penyakit hati berupa kerakusan dan ketamakan; menginginkan buah khuldi. Terpaksa batal. Gara-garanya menuruti bisikan dan godaan laknatullah (iblis) tadi.

 Mengapa iblis (setan) menggoda Adam dan Hawa?

Sebab, “puasa”-nya telah batal sebelumnya: yakni bersujud kepada Adam, manusia pertama sekaligus yang menjadi khalifatullah di muka bumi.

Kegagalan “puasa” iblis tadi lantaran dia merasa enggan untuk menjalankan perintah Tuhan (bersujud kepada Adam) karena dirinya merasa lebih baik daripada Adam.

Dia (iblis) tercipta dari api, sedangkan Adam tercipta dari tanah. Ketakaburan alias kesombongan ternyata telah menyebabkan terusirnya dari surga.

Tidak ada tempat lagi di surga bagi makhluk yang menyombongkan diri sebagaimana iblis yang terusir itu.

Hanya saja, ada beda antara batal “puasa”-nya Adam dan iblis. Jika Adam dan Hawa mau bertobat dengan mengucapkan “Rabbanaa dholamnaa anfusanaa wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin” (QS 7:23), tetapi iblis enggan bertobat malah bermaksud menggoda bani Adam (anak keturunan Adam) ketika berada di dunia.

Setan menggoda manusia dari sebelah depan, belakang, kanan, dan kiri. Godaan dari depan maksudnya adalah godaan terhadap keimanan (keyakinan) kepada Allah dan hari akhirat.

Kalau manusia terlepas dari keimanan ini, maka seterusnya mereka menjadi “makanan empuk” atau sasaran yang mudah bagi setan untuk dijerumuskan ke jurang neraka.

Godaan dari belakang maksudnya agar manusia cinta harta. Harta, kata setan, harus diletakkan di hati bukan di tangan, bahkan harus diakui sebagai hak milik pribadi yang harus dijaga sepenuhnya; kalau perlu dengan kikir.

Bukankah yang namanya kebahagiaan itu, begitu setan membisiki, adalah orang yang kaya harta sehingga menjadi terpandang?

Godaan dari sebelah kanan maksudnya agar manusia tidak menjalankan syariat yang telah ditetapkan Allah, seperti mengerjakan Rukun Islam dan aturan fiqh (hukum) yang menjadi ketetapan-Nya.

Dan, godaan dari sebelah kiri maksudnya adalah agar manusia cenderung melakukan dosa atau berbuat maksiat kepada Allah.

Kenikmatan sejati—menurut setan—adalah kenikmatan yang harus dibiayai secara mahal: minum-minuman keras di bar atau diskotek, “membeli” perempuan cantik yang mahal untuk melampiaskan hawa nafsunya, menghambur-hamburkan uang dengan tinggal di hotel berbintang dan makan di restoran yang mahal sehingga dianggap sebagai orang yang bergengsi, dan seterusnya.

Meski demikian, bagi “orang-orang yang berpuasa”—yakni yang terlepas dari godaan setan tadi—mereka tidak mampu digoda oleh setan.

Merekalah orang-orang yang mukhlis (orang yang ikhlas); yakni yang mengerjakan segala sesuatu karena Allah, bukan karena siapa-siapa.

Dalam peradaban kenabian (kerasulan) setelah Adam a.s pun, Allah juga telah menetapkan ibadah puasa sesuai dengan syariat yang berlaku.

Misalnya, dalam peradaban Nabi Daud a.s, yakni sehari puasa sehari berbuka. Atau mengerjakan puasa selama tujuh hari ketika mendapatkan ujian (musibah) dari Allah. Begitu pula, Nabi Musa a.s pun juga berpuasa selama 40 hari menjelang turunnya Kitab Taurat dalam Kalamullah (berbicara langsung dengan Allah).

Yusuf a.s pun ketika menjadi Bendaharawan Mesir juga berpuasa sehingga tetap merasakan lapar agar tidak melupakan nasib warga Mesir yang saat itu sedang kelaparan karena menghadapi musim paceklik.

Begitu seterusnya hingga di zaman kenabian Muhammad Saw, Allah mewajibkan kepada orang-orang yang beriman agar berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum mereka agar mereka meraih derajad ketakwaan (muttaqien).

 Malaikat pun juga “berpuasa” yakni senantiasa taat mengerjakan perintah Allah dalam beribadah.

Ada Malaikat yang tugasnya bertasbih memuji-Nya, membagikan rizki-Nya kepada manusia, menurunkan hujan, bersujud terus-menerus, menyampaikan wahyu kepada para rasul-Nya seperti yang dilakukan Jibril a.s, Munkar-Nakir yang menanyai manusia di alam kubur, menjaga surga (tugas Malaikat Ridwan), dan sebagainya.

Jangankan manusia, jin, dan malaikat, sedangkan Allah pun juga berpuasa (Emha Ainun Nadjib: “Tuhan pun Berpuasa”). Betapa Tuhan amat bersabar atau menahan (“berpuasa”) untuk tidak segera menghukum hamba-hamba-Nya yang melakukan kemungkaran-kemungkaran di muka bumi.

Bahkan, Tuhan malah memberikan keleluasaan kepada manusia yang dholim tadi dalam kehidupan sehari-hari.

Bukankah banyak orang-orang yang menghalalkan segala cara dalam memperkaya diri melalui KKN, menimbun harta, berbuat sewenang-wenang, dan sebagainya justru terlihat aman-aman saja?

Bukankah sebaliknya orang-orang yang beriman kepada Allah malah banyak yang miskin hidupnya? Begitu dahsyatnya sandiwara yang diskenario langsung oleh Allah, sehingga orang-orang yang hanya memuaskan hawa nafsunya benar-benar merasa berbangga diri.

Mereka lupa bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja, sebab ada kehidupan kelak di akhirat yang kekal.

Orang-orang yang demikian tolok ukurnya memang kesuksesan di dunia ini saja. Maka, kehidupan mereka di dunia rata-rata sukses atau kaya-raya.

Mereka kaya di dunia, tetapi sebaliknya mereka akan miskin di akhirat. Jika demikian, bukankah orang yang miskin di dunia tetapi kaya di akihrat lebih baik dari orang yang kaya di dunia tetapi miskin di akhirat?

Tarian Ritmis Bumi dan Rembulan Mengitari Matahari

Jika manusia, malaikat, jin bahkan Tuhan pun berpuasa, tidak ketinggalan segenap alam semesta (ayat-ayat Tuhan yang tersirat) pun juga berpuasa.

Betapa sabarnya bumi bersama bulan mengelilingi matahari sebagai porosnya, sehingga dalam arti maknawi hal tersebut merupakan “puasa”-nya alam semesta.

Bahkan, ketika bumi mengelilingi matahari, sedangkan bulan menyertainya dengan mengelilingi bumi yang sekaligus juga mengelilingi matahari terlihat ada tarian ritmis yang indah sekali.

Barangkali, gerakan bumi dan bulan dalam mengelilingi matahari tadi akan sangat sulit ditiru dalam gerak manusia.

Bumi mengelilingi matahari selama setahun, sedangkan bulan mengelilingi bumi selama sebulan dengan tetap istiqamah.

Apa yang terjadi, misalnya, jika bumi mogok mengerjakan tugasnya dalam mengelilingi matahari, begitu pula bulan juga tidak menjalankan tugasnya?

Bagaimana pula jika matahari tidak mau terbit dari timur dan tidak mau memberikan penerangan dengan sinarnya kepada alam raya ini?

Begitu pula dengan planet-planet di angkasa luar yang jumlahnya ribuan itu jika tidak mau bertasbih lagi kepada Allah?

Jika itu terjadi, namanya kiamat: yakni berakhirnya kehidupan dunia dan alam semesta ini. Itu semua merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah bagi siapa saja yang mau bertafakur atau merenung!

Bahwa sampai sekarang matahari masih terbit dari timur, bersinar, menerangi jagad raya, dan terbenam di sebelah barat, berarti masih belum kiamat.

Matahari, dengan demikian, masih bertasbih kepada-Nya. Begitu pula jika bumi masih mau mengelilingi matahari dan bulan mengelilingi bumi, berarti masih belum kiamat.

Matahari, bumi, dan bulan senantiasa bertasbih kepada-Nya. Demikianlah bentuk “puasa” mereka kepada Tuhan semesta alam (Rabbul ‘alamien).

Ketika terjadi gerhana matahari (yakni sinar matahari ke bumi terhalang oleh bulan) di siang hari dan gerhana bulan (yakni sinar matahari ke bulan terhalang oleh bumi) di malam hari, berarti telah terjadi apa-apa dalam tarian ritmis bumi dan bulan dalam mengelilingi matahari.

Ketika fenomena itu terjadi, biasanya karena mereka (matahari, bumi dan matahari) menangkap ada perubahan perilaku manusia secara kolektif yang menyimpang; manusia menebangi hutan, mencemarkan udara dan lautan, menyimpang dalam berpolitik, a-susila merajalela di mana-mana, dan sebagainya.

Kalau manusia di muka bumi berjalan secara normatif dan alamiah, mereka pun juga tidak akan bermacam-macam. Istiqamah dalam bertasbih kepada Allah.

Bukankah diciptakan-Nya alam semesta ini untuk manusia? Makanya, karena ada getaran, hawa, bion ruhaniah, dan sebagainya hal tersebut menyebabkan pergeseran dan perubahan pada alam semesta itu.

Dalam tafsir alam (wacana spiritual), matahari yang merupakan ayat tersurat melambangkan rahmat Tuhan. Bulan melambangkan para Rasul dan Nabi Allah, pemimpin, ulama, umara’ dan sebagainya, sedangkan bumi adalah lambang rakyat.

Dengan demikian, fenomena gerhana matahari berarti mengisyaratkan gelapnya rakyat karena telah dibodohi oleh sang pemimpin.

Bumi (lambang rakyat) ternyata tidak mendapatkan sinar matahari (lambang rahmat Tuhan) sehingga mengakibatkan bumi (rakyat) menjadi kegelapan.

Begitu pula dalam peristiwa gerhana bulan, sinar matahari yang mestinya memantul ke bulan ditutupi oleh bumi, sehingga bulan dan bumi menjadi gelap. Karena pemimpin tidak memantulkan kebenaran, rakyat bergolak.

Akhirnya menyebabkan kegelapan itu sendiri. Kegelapan maknanya kebingungan, sedangkan orang yang bingung tidak mengetahui arah; mana utara-selatan dan timur-barat.

Orang yang kegelapan, bahkan, tidak bisa membedakan mana isteri maupun pembantu, mana madu maupun racun, bahkan telanjang pun tidak malu.

Dengan demikian, jika manusia benar-benar “berpuasa” dalam arti luas dalam kehidupan ini, maka alam semesta pun (matahari, bumi dan bulan) pun tentu akan “berpuasa” juga.

Baca Juga: Bersolidaritas Terhadap Guru Korban Kekerasan

Begitu pula, jika manusia senantiasa bertasbih kepada Allah, maka alam semesta pun juga bertasbih kepada-Nya.

Ketika Tuhan murka karena melihat kebiadaban manusia di muka bumi, maka Tuhan bermaksud akan menghancurkan dan meluluh-lantakkan mereka, tetapi tiba-tiba redalah murka Tuhan karena Tuhan melihat masih ada hamba-hamba-Nya yang bersujud dan beristighfar di malam hari, ada bayi yang masih menetek air susu ibunya, dan masih ada yang shalat berjamaah di masjid-masjid.

Bukankah rahman-rahim dan rahmat Allah lebih besar daripada siksa dan murka-Nya?!

o0o

NB:

N a m a : Wawan Susetya

Tempat & tgl lahir : Tulungagung, 1 Desember 1969

Agama : Islam

Pekerjaan : Penulis buku dan Sastrawan-budayawan Pegiat ForSabda (Forum Sarasehan Seni & Budaya) dan Maiyah SWA (Segi Wilasa Agung) Tulungagung

Pendidikan : S-1 Pendidikan Bahasa Inggris IKIP PGRI MALANG

Organisasi : Sanggar Triwida Tulungagung dan Satu Pena Jatim

Akun FB : AyuTya Susetya

NIK : 3504160112690004

Alamat : RT 1/RW 1 Glotan 33, Ds. Tanggung, Kec. Campurdarat, Kab. Tulungagung, Jatim 66272

E-mail : wawan.susetya@gmail.com

WA/HP : 0821.3922.7725

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#ibadah #ramadan #puasa