Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Oligarki Aikah dan Istana Tubba’: Cermin Retak Integritas Bangsa

Tim Redaksi • Jumat, 6 Maret 2026 | 09:12 WIB

Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, MAg.(Guru besar dalam bidang Ilmu Hadis dan Kaprodi S-2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN)
Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, MAg.(Guru besar dalam bidang Ilmu Hadis dan Kaprodi S-2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN)

Kemajuan peradaban suatu bangsa yang diukur dari angka pertumbuhan ekonomi dan megahnya infrastruktur sering kali membuat dunia kontemporer terjebak dalam delusi.

Dalam epistemologi Islam, Al-Qur'an tidak sekadar menghadirkan kisah masa lalu sebagai pengantar tidur atau romantisasi sejarah. Kisah-kisah tersebut adalah ibrah—jembatan makna yang menghubungkan kesadaran dari peristiwa masa silam menuju refleksi masa kini.

Ia berfungsi sebagai instrumen koreksi, ruang cermin untuk refleksi, sekaligus sumber motivasi bagi pembangunan karakter bangsa. Al- Qur’an banyak merekam sejarah peradaban bangsa dan mengabadikannya dalam kisah-kisah (Qishash Al-Qur’an); bahwa kehancuran bangsa-bangsa besar justru terjadi ketika mereka berada di puncak kejayaan material, namun keropos secara moral.

Di antara sekian banyak narasi sejarah dalam Al-Qur'an, barangkali kisah Ashabul Aikah dan Kaum Tubba’ dalam Surah Qaf ayat 14 termasuk yang jarang tersentuh dalam diskursus publik kita.

Padahal, jika dibedah melalui pendekatan hermeneutika kritis-kontekstual, ayat ini menyimpan kode-kode penting mengenai bagaimana sebuah bangsa merawat atau justru merobohkan pilar-pilar penyangganya.

Dua narasi besar tentang Ashabul Aikah dan Kaum Tubba’ bisa menjadi peringatan bagi siapa pun yang memiliki hati atau yang menggunakan pendengarannya dengan bersaksi.

Mengenal Aikah dan Tubba’: Deskripsi Tekstual dan Historis

“Dan (juga) penduduk Aikah serta kaum Tubba'. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka berlakulah ancaman-Ku (atas mereka). (Qs. Qaf:14)

Sebelum menariknya ke dalam carut-marut realitas kita hari ini, penting untuk mengenal siapa mereka dalam panggung sejarah. Ashabul Aikah secara harfiah berarti "Penduduk Hutan" atau semak belukar yang rimbun. Mereka adalah kaum Madyan, umat Nabi Syuaib as, sebagai representasi kaum yang diberkahi secara materi yang memiliki akses besar dalam penguasaan sumber daya alam dan jalur perdagangan yang strategis.

Namun di sisi lain, mereka memiliki cacat secara moral. Kejayaan dan kemakmuran telah membuat mereka lengah dan pongah. Praktik tathfif atau manipulasi sistem takaran dan timbangan telah menodai kebesarannya. Bagi mereka, keuntungan adalah tuhan, dan manipulasi pasar adalah seni bertahan hidup (survival).

Ini bukan sekadar pelanggaran teknis perdagangan, melainkan bentuk kezaliman eksistensial yang sangat dicela dalam agama.

Dalam Surah Al-Muthaffifin, Allah bahkan memulai firman-Nya dengan ancaman “Wail” (kecelakaan besar) bagi mereka yang melakukan tathfif—yakni mereka yang jika menerima takaran ingin dipenuhi, namun jika menakar untuk orang lain justru mengurangi. Ayat ini menegaskan bahwa perilaku ekonomi yang egois adalah akar dari keretakan sosial yang lebih luas.

Di sisi lain, Al-Qur'an menyandingkan mereka dengan Kaum Tubba’ sebutan kaum yang dirujukkan pada dinasti raja-raja Himyar di Yaman. Nama "Tubba’" sendiri sebenarnya adalah gelar kehormatan bagi raja yang agung.

Narasi ini menjadi menarik karena dalam tinjauan sejarah, di mana salah satu raja mereka bernama Tubba’ As’ad Abu Karib digambarkan sebagai pemimpin yang memiliki nurani jernih dan beriman.

Namun, ironinya, dia hidup di lingkaran istana yang tidak kondusif yang menimbulkan kisah tragis. Tragedi Tubba’ adalah tragedi kepemimpinan yang berhadapan dengan sistem yang sudah terlanjur korup.

Kebaikan personal sang raja seringkali tak berdaya menembus dinding kesombongan kaumnya yang telanjur mabuk oleh kemegahan otoritas kekuasaan dan kekuatan militer yang berujung pada mendustakan risalah Tuhan

Kedua kaum ini mewakili dua kutub utama peradaban: Aikah sebagai simbol pasar (ekonomi) dan Tubba’ sebagai simbol istana (politik). Ketika keduanya bersekutu dalam kebatilan, kehancuran hanya menunggu waktu.

Akar Penyakit: Ketidakjujuran Sistemik (Keserakahan dan Arogansi)

Secara tematik, kehancuran Ashabul Aikah berakar pada hilangnya etika publik. Ada keserakahan, arogansi dan ketidakjujuran. Ketidakjujuran ekonomi dalam pandangan Islam memiliki dampak domino yang mengerikan. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra:

"...Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali akan ditimpakan kepada mereka paceklik (kemiskinan), beban hidup yang berat, dan kezaliman penguasa atas mereka." (HR. Ibnu Majah).

Hadis ini disampaikan oleh Rasulullah ﷺ di hadapan kaum Muhajirin sebagai bentuk peringatan keras terhadap mereka. Bahwa perilaku pasar dan pemimpin yang tidak berintegritas akan menimbulkan krisis ekonomi dan lahirnya pemimpin zalim, karena keduanya adalah dua sisi mata uang yang tidak berdiri sendiri.

Jika kejujuran telah tercabut dari akar ekonomi rakyat, maka tidak heran jika yang tumbuh di pucuk kekuasaan adalah bibit-bibit kezaliman.

Hadis ini menegaskan sebuah fundamental value bahwa kecurangan ekonomi di tingkat mikro akan berdampak pada penderitaan makro.

Saat pasar kehilangan kejujuran, maka akan berimbas pada rusaknya tatanan sosial tersebut, disebabkan oleh penguasa yang zalim.

Di sisi lain, kisah Kaum Tubba’ mengajarkan bahwa integritas pemimpin saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan transformasi sistemik pada pada semua level, mulai dari pemerintah hingga rakyatnya. Kekuasaan yang tidak berlandaskan tauhid sosial hanya akan menjadi "mesin" penindas.

Sebagaimana maqalah bijak menyebutkan: "Kekuasaan tanpa moralitas laksana api dalam genggaman; ia menerangi sesaat namun menghanguskan pemiliknya selamanya."

Kontekstualisasi: Menakar Realitas Bangsa

Membaca fenomena Indonesia hari ini melalui kacamata tersebut, rasanya narasi Aikah dan Tubba’ menemukan relevansinya. Indonesia yang kaya akan "Aikah" (sumber daya alam yang melimpah) kini tengah menghadapi tantangan besar berupa Oligarki Sektoral.

Mereka adalah Ashabul Aikah Modern yang mengeksploitasi sumber daya alam melalui manipulasi regulasi dan mengeruk isi bumi tanpa sisa demi keuntungan segelintir elit.

Perilaku ini tentu menciptakan ketimpangan ekonomi yang membuat rakyat kecil terjepit dalam "beban hidup yang berat”. Ketika "takaran" kebijakan disunat demi kepentingan modal, rakyat kecil-lah yang menanggung beban ekonomi dan kerusakan ekologis paling berat.

Inilah manifestasi modern dari praktik tathfif __ persis seperti yang digambarkan dalam hadis di atas.

Fenomena ini semakin kompleks jika kita melihat dinamika di pusat kekuasaan. "Istana" sebagai simbol pusat pemerintahan dan kementerian-kementerian di bawahnya, semakin dipertanyakan integritasnya. Ada dua potret kontras yang muncul.

Pertama, rusaknya tatanan akibat pemimpin yang sejak awal kehilangan integritas. Kedua, potret yang lebih tragis, yakni adanya sosok-sosok pemimpin yang sejatinya memiliki rekam jejak bersih dan niat baik, namun ketika masuk ke dalam sistem birokrasi yang sudah "menggurita" dan berkarat.

Mereka yang seharusnya menjadi pengayom laksana sosok Tubba’ justru menjadi mesin kekuasaan yang terseret oleh arus sistemik yang ada. Di sana, mereka berpakaian rapi dengan segala protokoler, tapi seolah tak berdaya menghadapi syahwat politik kelompok atau tekanan modal.

Inilah "Paradoks Tubba’" di era modern. Betapa pun kuatnya itikad baik seorang individu di dalam kabinet atau lembaga negara, jika sistem yang mengitarinya sudah dirancang untuk kepentingan pragmatis, maka niat baik tersebut seringkali hanya menjadi ornamen yang tak berdaya atau mandul dalam melakukan perubahan.

Kepemimpinan akhirnya terjebak menjadi "manekin" birokrasi; tampak berwibawa di luar, namun geraknya didikte oleh benang-benang kepentingan yang tak terlihat.

Carut-marutnya penegakan hukum dan tumpang tindihnya kepentingan pribadi dengan urusan negara menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami krisis identitas. Ingin terlihat sebagai bangsa besar dan modern di mata dunia, tapi melupakan nasib rakyatnya sendiri.

Revitalisasi Nilai: Kembali ke Khittah Integritas

Pembacaan kritis ini tidak lahir dari semangat menjatuhkan, melainkan sebagai bentuk cinta terhadap tanah air (hubbul wathan).

Dengan merevitalisasi pesan Surah Asy-Syura ayat 13 tentang pentingnya menegakkan integritas agama dalam ruang publik, kita diajak untuk memastikan bahwa pasar kembali pada kejujurannya dan istana kembali pada nuraninya.

Sejarah Aikah dan Tubba’ adalah cermin bagi kita untuk segera menyadari adanya keretakan dan segera berbenah sebelum pecah berantakan

Sebagai anak bagsa yang mengemban amanat sebagai pendidik, saya melihat fenomena ini sebagai alarm keras.

Menghadapi situasi semacam ini, maka sesungguhnya menegakkan agama dalam konteks berbangsa bukan sekadar simbol ritual, tapi menghadirkan nilai-nilai Ilahiyah dalam dua pilar peradaban, yaitu pasar (ekonomi) dan istana (kekuasaan).***

 

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#sejarah #pertumbuhan ekonomi #infrastruktur #peradaban bangsa