Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menjemput Cahaya yang Redup: Otokritik di Bilik Pesantren

Tim Redaksi • Rabu, 13 Mei 2026 | 06:56 WIB
Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, MAg.(Guru besar dalam bidang Ilmu Hadis dan Kaprodi S-2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, MAg.(Guru besar dalam bidang Ilmu Hadis dan Kaprodi S-2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Beberapa bulan terakhir, ruang publik kita sesak oleh berita yang menyayat hati. Pesantren, yang selama berabad-abad menjadi benteng moral dan oase intelektual bagi bangsa, kini tengah berada di bawah sorotan tajam.

Rentetan kasus dugaan tindakan amoral yang melibatkan oknum pengasuh atau ustadz bukan sekadar masalah hukum, melainkan sebuah guncangan pada marwah lembaga.

Sebagai bagian dari rahim pesantren, nurani kita terusik. Namun, tulisan ini tidak hadir untuk menghakimi personal, melainkan sebagai bentuk otokritik dan introspeksi bersama.

Sebab, kegelapan moral bisa menyapa siapa saja—baik tokoh agama, pejabat, hingga masyarakat awam—jika benteng integritasnya mulai retak. 

Baca Juga: Kepiawaian dan Kemenangan Iran dalam Negosiasi dengan Amerika

Ancaman Inflasi Retorika

Jika kita menengok jauh ke belakang, terdapat sebuah peringatan profetik dari sahabat Ibnu Mas’ud RA yang sangat relevan: “Sesungguhnya kalian berada di zaman yang banyak orang faqihnya namun sedikit oratornya. Dan akan datang suatu zaman yang banyak oratornya namun sedikit orang yang faqih.” (HR. Al-Bukhari).

Pernyataan ini adalah analisis sosiologis tentang "inflasi retorika". Di era digital, status keulamaan sering kali disematkan hanya karena kemampuan orasi yang memukau.

Padahal, kemahiran bicara sering kali tidak berbanding lurus dengan kedalaman tafaqquhfid din (pemahaman agama).

Dalam kaidah ushuliyah dikenal prinsip: “Al-Ibrahbial-ma’anilabial-alfadh” (Yang menjadi pegangan adalah substansi makna, bukan sekadar redaksi kata-kata). Ketika panggung dakwah lebih menonjolkan aspek "kemasan" daripada penjagaan moral, maka agama hanya akan berhenti di kerongkongan. 

Baca Juga: Program Magang Industri Penguatan Rantai Pasok KUMKM

Antara "Manekin" dan "Mesin"

Dalam beberapa kajian, saya sering menekankan bahwa pemimpin spiritual adalah subjek yang memiliki ruh, bukan manekin dan bukan mesin.

Namun, fenomena amoral menunjukkan terjadinya praktik "manekinisasi" agama. Oknum yang terpapar sesungguhnya sedang memerankan diri sebagai "manekin religius"—tampak sempurna secara simbolik di luar, namun hampa nilai di dalam. 

Mereka terjebak dalam apa yang diingatkan Al-Quran: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3).

Ketika ketaatan santri dimanipulasi sebagai "mesin" pengikut yang buta, maka fungsi pesantren sebagai ruang memanusiakan manusia telah bergeser menjadi ruang objektivasi yang opresif. 

Baca Juga: Peran Zakat Produktif untuk Mengentaskan Kemiskinan

Pintu Taubat dan Jebakan Menghakimi

Penting untuk ditegaskan bahwa kerentanan terhadap kesalahan adalah sifat manusiawi. Rasulullah SAW bersabda: “Kullu bani Adam khattha’un, wakhairual- khattha’inaat-tawwabun” (Setiap anak Adam pasti sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang paling banyak bertaubat). HR. Tirmidzi& Ibnu Majah.

Menjadi salah adalah manusiawi, namun menetap dalam kesalahan adalah kehancuran. Namun, di sisi lain, hadis ini juga merupakan teguran bagi kita semua sebagai masyarakat.

Ketika seseorang telah jatuh dalam kesalahan dan menempuh jalan taubat yang sungguh-sungguh, ia kembali bersih di mata Tuhan. Namun sering kali, sanksi sosial terasa jauh lebih berat dan berkepanjangan daripada sanksi hukum atau syariat. 

Ini sekaligus menjadi peringatan bagi kita untuk waspada agar jangan sampai karena terlalu asyik menghakimi dosa orang lain selamanya, kita justru terjebak dalam dosa baru yang lebih halus: kesombongan merasa lebih suci.

Menghujat tanpa batas hanya akan membuat kita mewarisi dosa lisan yang berkelanjutan. Tugas kita adalah membenci perbuatannya dan memperbaiki sistemnya, tanpa harus memutus harapan sang pelaku untuk kembali menjadi hamba yang saleh. 

Baca Juga: Pendidikan Bermutu untuk Semua: Fondasi Masa Depan Bangsa

Ubudiyah sebagai Uswah: Aksi Nyata

Ilmu dalam tradisi pesantren seharusnya bersifat transformatif. Maqalah ulama menyebutkan: “Al-’ilmu bila ‘amalinkaasy-syajari bila tsamarin” (Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah). Seorang pengasuh dan asatidz bukan sekadar pengajar teks, melainkan "Kitab Suci yang Berjalan". Sangat ironis jika pesan sabar disampaikan dengan amarah, atau pesan kehormatan dikhianati dengan pelecehan.

Implementasi aksi nyata dari evaluasi ini adalah dengan menghidupkan kembali prinsip: Berpikir Kritis, Bersikap Etis.

1. Bagi Pengasuh & Tokoh: Menyadari bahwa ketaatan santri/masyarakat adalah amanah, bukan modal kekuasaan. Perlu adanya sistem self-correction dan keterbukaan terhadap masukan demi menutup celah godaan di masa depan.

2. Bagi Santri & Masyarakat: Belajar agama tidak boleh mematikan nalar. Ketaatan kepada guru adalah kemuliaan, namun ia tidak boleh melampaui ketaatan kepada hukum Tuhan. Literasi otoritas sangat diperlukan agar masyarakat tidak menjadi korban "pesona orator" yang miskin integritas.

Baca Juga: Konsep Strategis dalam Mengelola Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hadir di Masyarakat

Menjemput Kembali Cahaya

Otokritik ini adalah ikhtiar untuk menjaga marwah pesantren sebagai telaga bening tempat masyarakat menitipkan harapan.

Kita harus menjemput kembali cahaya yang redup itu dengan cara mengembalikan fungsi pesantren sebagai laboratorium akhlak yang jujur. 

Mari kita tinggalkan jubah manekin yang palsu dan kembali pada tradisi keilmuan yang berbasis keteladanan nyata. Pesantren harus menjadi ruang paling aman bagi anak bangsa untuk belajar tentang kemuliaan manusia.

Taubat institusional dan personal inilah yang akan menjadi penghapus noda masa lalu sekaligus penutup celah agar luka serupa tidak terulang kembali. Saatnya bergerak dengan nalar kritis dan sikap etis, demi menjemput kembali fajar kejayaan moral di bumi pertiwi.(*) 

 

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#otokritik #taubat #pesantren #inflasi