Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Peran Strategis Peternakan Rakyat

Tim Redaksi • Kamis, 28 Mei 2026 | 09:08 WIB
Prof. Dr. Eka Handayanta (Fakultas Peternakan/PSP-KUMKM LPPM UNS)
Prof. Dr. Eka Handayanta (Fakultas Peternakan/PSP-KUMKM LPPM UNS)

Tercapainya swasembada pangan nasional bukan hanya dari kontribusi usaha peternakan skala besar atau industri peternakan modern semata, melainkan juga konstribusi peternakan rakyat.  Di tengah dinamika ketahanan pangan yang terus berubah, peternakan rakyat telah terbukti menjadi pilar utama dalam produksi bahan pangan asal ternak (hewani).

Keberadaannya tidak hanya menjamin ketersediaan pasokan pangan hewani, tetapi juga berperan besar dalam menjaga stabilitas harga, meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha (peternak), sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Kita harus menyadari bahwa peternakan rakyat adalah aset bangsa yang sangat besar potensinya. Keberhasilan program swasembada pangan, stabilitas harga pangan, peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan, serta kelestarian lingkungan sangat bergantung pada bagaimana kita mendukung sektor ini.

Pemangku kepentingan (stakeholder) seperti pemerintah pusat (kementerian), pemerintah daerah, dinas instransi terkait dan masyarakat perlu bersatu, memberikan pendampingan teknologi, mempermudah akses permodalan, menjamin pasar, serta memberikan penyuluhan pengelolaan lingkungan. Hanya dengan cara ini, peternakan rakyat dapat tumbuh, berkembang dan menjadi lebih kuat posisi usahanya, dan manfaat besarnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga: Tak di Arofah, Berdoa "Hari Arafah"

Peran Strategis Peternakan Rakyat

Pertama, peran peternakan rakyat sangat penting dan strategis dalam menopang keberhasilan program swasembada pangan. Komoditas utama peternakan seperti daging, susu dan telur, sebagian besar dipasok dari usaha peternakan rakyat yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sebagai mata rantai produksi yang terdekat dengan konsumen, peternak mampu menjamin ketersediaan bahan pangan hewani secara luas, baik di kota besar maupun di daerah terpencil sekalipun. Dengan jumlah pelaku usaha (peternak) yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar, risiko terganggunya dan atau terhambatnya pasokan (suplay) akibat bencana alam atau gangguan distribusi lainnya dapat diminimalkan.

Pemerintah melalui Presiden secara resmi mengumumkan bahwa negara kita Indonesia telah mencapai swasembada pangan pada Januari 2026. Namun demikian, fokus swasembada pangan ini lebih ke komoditi beras. Didukung data BPS bahwa Tahun 2025 produksi beras diprediksi mencapai 34,71 juta ton dan ini melampau kebutuhan dalam negeri (domistik). Kita patut bersyukur dan apresiasi atas capaian  prestasi pemerintah c.q. Kementrian Pertanian RI yang telah mampu mencapai swasembada pangan (beras).

Khusus untuk komoditi pangan asal ternak  (hewani) seperti daging telur dan susu, kondisinya berdeda. Komoditi daging dan telur ayam produksi dalam negeri sudah dinyatakan mencukupi kebutuhan dalam negeri bahkan surplus (terbukti ekspor produk ke beberapa negara). Namun untuk komoditi daging (khusunya daging sapi) dan susu, produksinya masih jauh dari kebutuhan dalam negeri, sehingga masih harus impor dan ini menguras divisa kita.

Jika peternakan rakyat tumbuh dan berkembang, maka pondasi ketahanan pangan nasional akan semakin kokoh, dan cita-cita swasembada pangan khususnya untuk komoditi produk peternakan seperti daging, dan susu yang merupakan bahan pangan berkualitas tinggi, sumber protein hewani akan semakin dekat terwujud. Yang pada akhirnya dapat menghemat devisa negara.

Baca Juga: Dekolonisasi Mental Ibadah: Memutus Mitos "Kurban Hanya untuk Si Kaya"

Kedua, keberadaan peternakan rakyat menjadi kunci utama agar harga produk peternakan tetap stabil dan terjangkau. Berbeda dengan sistem usaha yang terpusat, peternakan rakyat beroperasi dengan biaya produksi yang relatif lebih rendah dan menggunakan banyak sumber daya lokal. Hal ini membuat harga jual produknya lebih bersaing dan tidak mudah fluktuasi tajam saat terjadi gejolak pasar.

Ketika pasokan didominasi oleh banyak pelaku usaha, persaingan yang sehat tercipta, sehingga konsumen tidak dibebani harga yang terlalu tinggi. Kestabilan harga ini sangat penting agar seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kalangan menengah ke bawah hingga ke atas, tetap dapat memenuhi kebutuhan gizi dari bahan pangan hewani sebagai bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang.

Ketiga, penguatan sektor peternakan rakyat adalah jalan paling efektif untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak. Selama ini, banyak peternak rakyat masih berada dalam lingkaran pendapatan dan kesejahteraan yang rendah karena skala usaha yang kecil, akses modal yang terbatas, serta ketergantungan pada perantara dagang. Namun, jika didukung dengan pembinaan teknis (penyuluhan, pelatihan, bimtek), akses pasar yang lebih luas, dan penguasaan teknologi tepat guna (TTG), produktivitas mereka dapat meningkat.

Peningkatan jumlah produksi dan kualitas produk secara otomatis akan mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan peternak. Ketika kesejahteraan peternak terjamin, mereka akan semakin bersemangat mengembangkan usahanya, sehingga tercipta siklus positif: produksi bertambah, pasokan terjamin, dan dengan harapan ekonomi keluarga peternak semakin sejahtera.

Baca Juga: Israel, Resolusi PBB, Mahkamah Internasional, dan Dunia yang Amburadul

Keempat, tidak kalah penting, peternakan rakyat memiliki keunggulan besar dalam hal pengendalian pencemaran lingkungan dibandingkan peternakan skala industri besar. Karena ukuran usahanya yang relatif kecil dan tersebar, limbah yang dihasilkan relatif lebih mudah dikelola (diolah). Limbah kotoran ternak dapat langsung dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk lahan pertaniannya, sehingga tercipta sistem pertanian-terpadu (integrate farming) yang ramah lingkungan.

Hal ini berbeda dengan usaha berskala besar yang berisiko tinggi menimbulkan pencemaran air, tanah, dan udara jika pengelolaan limbahnya tidak baik. Dengan pengelolaan yang baik, peternakan rakyat justru mendapat nilai tambah  dari pengelolaan limbah (kotoran ternak) menjadi pupuk organik yang berkualitas. Dapat menekan/mengurangi biaya produksi (biaya pupuk) dari usaha pertaniannya. Hal ini juga dapat   menjadi solusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah pencemaran lingkungan di sekitar wilayah pemukiman.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#swasembada pangan #industri #peternak #peternakan