KEMARIN malam saya ngopi bareng dengan Aris Sudanang, direktur Radar Tulungagung di Kopinkmie. Malam itu bertepatan dengan malam takbiran menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha 1447 H.
Selain ngobrol tentang kekinian yang sedang viral, Aris pun mengajak ngobrol tentang dakwah, yakni sosok Gus Baha (KH. Ahmad Bahaudin Nursalim).
Banyak pendakwah, kiai atau gus, tapi Aris Sudanang mengaku sangat mengagumi Gus Baha. "Saya ini sangat senang sekali dengan Gus Baha. Terus terang, saya ini pengagum berat Gus Bahak lho Cak Wot," kata Aris Sudanang kepada saya dengan serius.
Saking kagumnya, aku Aris Sudanang, hampir semua vedio ceramah Gus Baha yang ada di YouTube diikutinya.
Bahkan, ketika hendak tidur, ia pun sering mendengarkan ceramah Gus Baha. "Sampai segitunya lho Cak, saya dengan Gus Baha," ungkap Aris Sudanang sembari menyeruput kopi klangenannya.
Menurut Aris Sudanang, ceramah Gus Baha didengarnya terasa enak banget. Isinya tidak melangit, tapi lebih membumi. Materinya adalah hal-hal yang ada di sekitar kita. Bahasanya tidak "ndakik-ndakik" (sederhana--red), sehingga mudah dipahami.
Meski bahasanya sederhana, cakupan keilmuannya sangat luas. Ia bukan produk luar negeri, mondok di Mesir atau Saudi, tapi keilmuaannya agama Gus Baha bisa menandingi mereka yang jebolan luar negeri.
"Penguasaan ilmu tafsirnya Al-Quran, Gus Baha diacungi jempol oleh banyak ulama di antaranya Profesor Qurais Shihab. Keren nggak itu Gus Baha, Cak Wot," tanya Aris Sudanang dengan tersenyum.
Mendapat pertanyaan itu saya menggangguk. Pertanda saya pun mengagumi Gus Baha. Gus Baha memang pantas kita idolakan. Karena ia "alim" (berilmu), "tawadhuk" (rendah hati) dan "zuhud" (tidak kedonyan). Itu terlihat kesehariannya yang hanya selalu memakai baju putih, bersarung, dan berkopiah.
Dan kemana pun pergi (khususnya di daerahnya Rembang), ia selalu naik motor butut. Tak dengan naik mobil. Gus Baha sangat terkenal, tapi tak hidup bermewah-mewah. "Itu yang bikin saya tambah mengagumi Gus Baha," tambah Aris Sudanang.
Mendengar penjelasan itu tiba-tiba berkelebat sosok KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) di alam kesadaran saya. Lalu, saya pun segera merespons Aris Sudanang. "Semua itu karena "gemblengan" gurunya.
Berkat gemblengan Mbah Moen yang menjadikan Gus Baha seperti itu bos Aris," kata saya kepada Aris Sudanang dengan maksut menempatkan "adab" bahwa sehebat apa pun murid itu "barokahnya" mursyid.
Bersamaan itu saya teringat dengan momen meninggalnya Mbah Moen. Mbah Moen "kapundut" (wafat) saat ia sedang menunaikan ibadah haji (Tahun 2019), tepatnya detik-detik hendak wukuf di Arofah. Dan saat itu, saya juga pas sedang berhaji, masih di Mina. Jadi saya merasakan benar "aura" wafatnya Mbah Moen.
Kepergian Mbah Moen bukan hanya dirasakan jemaah haji di Tanah Suci, tapi juga berjuta anak bangsa di Tanah air juga merasakan dukacita yang mendalam. Banyak pihak menyatakan berkabung.
Mbah Moen selain tercatat sebagai ulama besar, ia juga tokoh bangsa. Saya pun ketika dalam perjalanan dari Mina menuju Arofah untuk Wukuf, di sela ber-talbiyah mengirim Al-fatehah untuk Mbah Moen.
Saya baru menziarahi makam Mbah Moen di Ma'la di Makkah, saat saya umrah pada pertengahan 2023. Selain menziarahi makam Mbah Moen, saya juga menziarahi KH. Nawawi Al-Bantani.
Kiai Nawawi Al-Bantani adalah ulama Banten, satu-satunya orang Indonesia--yang tercatat dalam sejarah-- pernah menjadi imam Masjidil Haram. Allahu Akbar.
Seperti Aris Sudanang mengagumi Gus Baha, saya juga mengagumi Mbah Moen. Sering saya mendengar dan mengulang-ulang ceramah Mbah Moen di YouTube.
Satu ceramahnya yang saya suka berjudul "Tirakat Paling Joos". Tirakat dari kata "tharikat" yang artinya "jalan'. Makna hakikatnya adalah "jalan" menuju Allah.
Begini pesan Mbah Moen dengan gaya bercanda yang saya suka: "Jika tidak kuat puasa, ya nggak usah puasa. Jika tidak kuat tahajut, ya nggak usah tahajud. Kalau nggak kuat seneng sodakoh, ancene nggak ndue duit, ya nggak usah akeh-akeh sodakohe. Kalau nggak bisa baca Al-Quran, ya nggak usah tirakat moco Al-Quran."
"Kalau sampean mau, saya beri tahu tirakat yang paling joos. Tirakat paling joos itu ternyata, tirakat ndue ati sing apik. Ojok ndue ati sing elek. Buat apa sampean wiritan, tapi atine bosok. Buat opo sampean yasinan tahlilan, tapi tetep ngarasani konco. Buat apa sampean tahajud, tapi atine tetep elek. Naudzubillahimindzalik. Jadi, ternyata, tirakat yang joos itu nduweni ati sing apik."
Penulis adalah wartawan senior yang Tinggal di Tulungagung (**)
Editor : Anggi Septian A.P.