Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sarasehan dan Pagelaran Seni Wayang Jemblung

Wawan Susetya • Jumat, 29 Mei 2026 | 10:50 WIB
Wawan Susetya, Budayawan Tulungagung
Wawan Susetya, Budayawan Tulungagung

Jangankan anak-anak Gen Z dan Y, sedang masyarakat umum saja banyak yang belum tahu tentang Seni Wayang Jemblung. Sebenarnya Seni Wayang Jemblung merupakan kesenian (seni) tradisional seperti halnya kesenian wayang kulit, wayang uwong (wayang orang), kethoprak, ludruk, jaranan, reog, kentrung, jedhor dan sebagainya.

Hanya saja, sayangnya, seiring dengan perkembangan laju zaman, kesenian tersebut semakin surut; ibaratnya peribahasa; hidup segan, mati tak mau. Yang jelas keberadaan Seni Wayang Jemblung makin terpinggirkan di era digital seperti dewasa ini.     

Seni Wayang Jemblung sebenarnya merupakan kesenian teater tutur tradisional yang berasal dari daerah Banyumas, Jawa Tengah—sehingga seni wayang Jemblung ini dikenal sebagai kesenian khas Banyumas—yang awalnya hanya dimainkan tanpa iringan gamelan fisik.

Musik dan suara-suara iringan dihasilkan secara oral (mulut) oleh lima orang pemeran yang bertindak sebagai dalang, pemusik, sekaligus sindhen. Biasanya kesenian ini  dimainkan atau dipentaskan dalam acara selamatan bayi atau dalam tradisi jagong bayi terutama di daerah Banyumas.

Baca Juga: 'Tirakat Paling Joos': Mengenang 7 Tahun Wafatnya Mbah Moen

Meski demikian, lambat-laun kesenian Wayang Jemblung dari Banyumas tersebut berkembang dan melebar hingga ke berbagai daerah, seperti di Magelang dan sekitarnya hingga sampai ke beberapa daerah di Jawa Timur seperti Kediri, Blitar dan Tulungagung.

Karena Seni Wayang Jemblung mengandalkan aspek lisan, maka “kekuatan” atau penonjolan kesenian ini terletak pada narasi dan dialog yang dimainkan oleh ki dhalang bersama para pemainnya. Itulah yang menjadi kekuatan utama pada Seni Wayang Jemblung ini.

Dalam Seni Wayang Jemblung pada masa awal di Banyumas umumnya dimainkan oleh lima orang dengan menggabungkan unsur teater, musik vokal, dan wayang kulit/golek (biasanya hanya menggunakan bahan kertas koran).

Selain itu pada masa awal kesenian ini tanpa atau tidak menggunakan iringan gamelan, sedang suara musiknya digantikan oleh vokalisasi mulut para pemainnya.

Baca Juga: Peran Strategis Peternakan Rakyat

Dan, lakon pada fase awal kesenian Wayang Jemblung ini kebanyakan mengambil cerita dari cerita Menak, Serat Ambya, atau Babad (Banyumas/Pasir Luhur). Dengan demikian, kesenian ini merupakan perpaduan antara seni teater, seni suara, dan tradisi lisan yang unik serta masih dilestarikan sebagai warisan budaya khas Banyumasan.

Dan, yang terbaru yakni dengan  munculnya Wayang Wali yang mengisahkan syiar dakwah para Wali Sanga yang dipelopori oleh Ki Sudrun dari Krenceng Blitar.

Sementara itu, Seni Wayang Jemblung yang berkembang di Tulungagung juga masih berkaitan dengan seni teater tutur tradisional yang memadukan cerita dan sebagai sarana syiar dakwah Islamiyah terutama kepada masyarakat pedesaan.

Selain ada yang menggunakan iringan musik vokal (acapella) atau rebana, bahkan tak jarang ada juga yang menggunakan wayang dari kulit (wayang purwa) dan wayang krucil dengan karakter campuran. Dan, sebagian ada pula yang menggunakan wayang dengan beberapa tokoh Wayang Jemblung atau wayang krucil meskipun jumlahnya sangat terbatas.

Baca Juga: Tak di Arofah, Berdoa "Hari Arafah"

Dengan damikian kita sudah dapat memperkirakan atau menduga dengan keras bahwa Seni Wayang Jemblung tentu saja sangat langka di era digital seperti sekarang atau boleh disimpulkan sangat terpinggirkan atau termaginalisasi di tengah perubahan yang sangat cepat (era disrupsi).

Meski demikian kita masih bisa melacak sisa-sisa jejaknya keberadaan Seni Wayang Jemblung seperti di daerah Sendang, Boyolangu, Sumbergempol, Bandung dan sebagainya. Bentuk pertunjukan Seni Wayang Jemblung di Tulungagung sebagian sudah menggunakan vokal/musik dengan gamelan, meskipun tidak lengkap.

Selain sebagai hiburan, Seni Wayang Jemblung ini sesungguhnya juga merupakan media syiar dakwah Islam yang biasanya dimainkan pada acara khitanan, pernikahan atau mengisi acara desa.

Dan, cerita atau lakon pada Seni Wayang Jemblung di Tulungagung pada umumnya mengambil hikayat Amir Hamzah, Umar Maya dari Arab Saudi, kisah Wali Sanga dan sebagainya.

Baca Juga: Dekolonisasi Mental Ibadah: Memutus Mitos "Kurban Hanya untuk Si Kaya"

Yang jelas, keberadaan Seni Wayang Jemblung ini sangat berbeda jauh dengan perkembangan dan kemajuan seni wayang kulit yang sangat pesat karena mendapatkan perhatian pemerintah dan masyarakat, bahkan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (Karya Agung Budaya Lisan dan Takbenda Manusia) pada tanggal 7 November 2003.

Pengakuan itu menegaskan posisi wayang sebagai warisan budaya takbenda dari Jawa (Indonesia) yang sangat mengagumkan dan membanggakan. Dan, dari 18 buah warisan budaya Indonesia yang telah diakui sebagai Warisan dunia oleh UNESCO, yang dari Jawa antara lain Wayang kulit, gamelan, keris, pencak silat, Candi Borobudur, Candi Prambanan dan sebagainya.

Sebaliknya Seni Wayang Jemblung di Tulungagung sangat terpinggirkan di era digital dewasa ini. Padahal berdasarkan UU Kebudayaan mengenai 10 OPK (Obyek Pemajuan Kebudayaan) No, 5 tahun 2017, sebenarya Seni Wayang Jemblung sangat layak mendapat perhatian dan bantuan Pemerintah agar kesenian tradisional ini tidak punah ditelan zaman. Dalam hal ini tentu saja sangat diharapkan kepedulian dan apresiasi masyarakat mengenai kesenian ini (Seni Wayang Jemblung).

Oleh karena itu barangkali tak terlalu berlebihan kiranya jika kesenian tradisional—Seni Wayang Jemblung tersebut—terutama yang di Tulungagung patut diuri-uri (dilestarikan) dengan melibatkan berbagai pihak, bukan hanya dari unsur senimannya saja, tetapi juga pemerintah (Pemda Tulungagung) dan masyarakatnya. Sebab, bagaimana pun kesenian tradisional ini (Seni Wayang Jemblung) juga membutuhkan apresiasi baik dari pemerintah maupun dari masyarakat. 

Baca Juga: Israel, Resolusi PBB, Mahkamah Internasional, dan Dunia yang Amburadul

Sebagai bentuk apresiasi terhadap Seni Wayang Jemblung tersebut, ForSabda (Forum Sarasehan Seni & Budaya) Tulungagung bekerja sama dengan PPAL (Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut) Rayon Tulungagung akan menggelar Sarasehan Budaya dan Pagelaran Seni Wayang Jemblung bersama Ki Dhalang Muselam dari Picisan Sendang.

Sementara nara sumber sarasehan, antara lain Ki Dhalang Muselam, Ki Dhalang Sumadji Boyolangu dan Ki Wawan Susetya (Budayawan) dengan moderator Sugeng Lesung di Lotu’s Garden Tulungagung Jumat (malam Sabtu) tanggal 29 Mei 2026 jam 19.00 Wib.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#wayang jemblung #banyumas #kesenian #tradisional