KEMARIN malam saya ngopi bareng dengan tiga teman di Kopinkmie. Tiga teman itu Aris Sudanang (Direktur Radar Tulungagung), Hanik Purwanto (mantan Pemred Tabloid Nyata dan pernah jadi redaktur Tabloid Wanita Indonesia), dan Anggi Septian (Redaktur Radar Tulungagung). Paling tua saya, dan paling muda Anggi--begitu panggilan Anggi Septian.
Obrolan malam itu lebih banyak membincang masa muda, ketika dulu masing-masing kita jadi redaktur. Alih-alih minum kopi sambil bernostalgia. Karena saya paling senior, maka Anggi yang bertubuh gembul seperti "Guru Gembul" itu meminta saya duluan yang berkisah.
"Ini saya minta Pak Wot bercerita dulu,. Kalau Pak Wot yang bercerita pasti ada karomahnya," kelakar Anggi. Mendengar permintaan itu saya diam sesaat dan tersenyum.
"Waduh, seperti wali saja punya karomah. Kalau maqom saya ini orang biasa dan suangat biasa, ya cukuplah punya maunah hehe. Eh, maunah juga belum tentu. Mungkin kalau 'remah-remah" masih ada," kata saya kepada Anggi dengan bercanda. Remah-remah itu "serpihan sisa roti" yang masih bisa dimakan.
Tiga teman yang mendengar manggut-manggut dan tersenyum. Agar celoteh saya terdengar jelas, Aris Sudanang meminta karyawan Kopinkmie untuk mengecilkan volume musik yang diputarnya terlalu keras. "Betul Pak Aris, nanti cerita Pak Wot nggak terdengar," timpal Anggi.
Suara musik caffe pun sudah mengecil. Setelah itu saya bertanya, "Banyak kisah yang menarik saat saya jadi wartawan, redaktur, dan jelek-jelek begini juga pernah lho jadi Kepala Biro Republika Jawa Timur. Terus yang mana ini yang harus saya ceritakan."
Saya berlagak bingung. "Yang mana saja boleh, biar saya bisa tahu kisahnya," sergah Anggi dengan cepat dan tangkas. Mendengar itu dalam hati saya bergumam, "Keren" juga ini anak muda. Anggi." Ia saya anggap muda karena umurnya sepantaran anak saya.
Bersamaan itu saya langsung ingat saat "mlonco" wartawan-wartawan "culun".
Masih "freshgraduate" dan "kaplak" yang masih juga tak bisa menulis berita. Saya ingat saat mlonco anak buah (wartawan). Saya kalau mlonco itu tidak pakai marah-marah, tapi saya suruh bikin kopi atau masak mie.
"Tidak seperti redaktur-redaktur jaman kolonial, mlonco wartawannya dengan dibentak-bentak dan dimarah-marahi. Tapi kalau saya, wartawan saya ajak duduk disamping kursi redaktur, tapi sebelumnya harus buatkan dulu kopi atau mie," kata saya.
Mendengar itu semuanya terlihat heran.
"Oh, asyik itu Cak Wot. Lanjut...lanjut Cak Wot ceritanya" pinta Aris Sudanang dengan senyum-senyum. Demikian Mas Hanik dan Mas Anggi.
"Sebetulnya itu cuma modus. Agar ngeditnya tidak ngantuk dan lapar.
Tapi, kalau ada wartawan yang nggak bisa nulis berita lalu sombong, ya saya ingatkan dengan keras. Naskah berita wartawan itu tak saya muat. Daripada ngedit naskah beritanya bikin kepala pusing," ungkap saya.
"Oh, saya juga begitu Cak Wot. Jika ada kiriman tulisan berita dari wartawan yang bikin pusing ngeditnya, mending tidak saya muat. Dulu ada wartawan dari Madura sering protes mengapa tulisannya selalu nggak dimuat. Alasan saya, maaf halamannya sudah penuh," sergah Aris Sudanang.
Hal serupa dialami Hanik Purwanto. Ia juga punya anak buah (wartawan), yang tidak bisa menulis dengan standar layak muat. "Jika beritanya tidak penting, saya juga begitu. Tapi kalau beritanya penting, saya mending telepon wartawannya, lalu saya suruh cerita kronologinya. Saya mending begitu, nulis sendiri dengan telepon wartawan yang liputan," kata Hanik Purwanto.
Setelah saya, Aris Sudanang, dan Hanik Purwanto bernostalgia jadi redaktur tak terasa malam sudah kian petang. "Dari kisah yang diceritakan, sepertinya Pak Wot yang mendatangkan berkah. Gara-gara suka "mlonco" wartawannya bikin kopi dan mie, kini anaknya ter-ilhami bikin usaha caffe dengan nama Kopinkmie. Kopi dan mie," kata konklusi Anggi dengan cermat. Kami berempat pun tertawa ngakak sebelum meninggalkan Kopinkmie.
Penulis wartawan senior tinggal di Tulungagung(*)
Editor : Anggi Septian A.P.