Urip Iku Urup

Wawan Susetya • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 16:03 WIB
Wawan Susetya, Penulis dan Budayawan Tulungagung
Wawan Susetya, Penulis dan Budayawan Tulungagung

 

ADA falsafah mengenai hidup dan kehidupan yang berkembang di masyarakat Jawa yaitu Urip iku urup; artinya hidup itu menyala bagaikan pelita yang menerangi sekelilingnya. Tidak lain dan tidak bukan, falsafah Urip iku urup memiliki tujuan agar hidup kita (manusia) dapat menjadi bermakma.

Ternyata falsafah Urip iku urup itu merupakan Dasa Pitutur, yakni 10 nasihat Sunan Kalijaga agar hidup bermakna. Dan, Dasa Pitutur  (10 nasihat) Sunan Kalijaga tersebut, yakni;

1.    Urip iku urup;
artinya hidup itu mrmyala yang berarti hidup itu hendaknya dapa
t memberikan manfaat kepada sesama manusia. 

2. Memayu hayuning bawana, ambrastha dur hangkara; yakni hemdaknya kita (manusia) dapat berupaya menyelamatkan dan memakmurkan bumi seisinya serta memberantas sifat angkara murka (kejahatan). 

3. Sura dira jaya jayaningrat lebur dening pangastuti;
artinya keberanian dan kejahatan dapat dikalahkan oleh kebenaran dan kebijaksanaan.

4. Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha; artinya berperang sendirian tanpa membawa pasukan, menang tanpa mengalahkan, berwibawa (sakti) tanpa aji-aji (ilmu kesaktian, jimat), kaya tanpa (m
emiliki) harta benda.

5. Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan; artinya tidak merasa sakit hati
bila menerima musibah, tidak bersedih ketika sedang kehilangan sesuatu.

6. Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman;
artinya
jangan gampang merasa heran, jangan gampang menyesal, jangan gampang terkejut, jangan gampang manja.

7. Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman; artinya jangan gampang terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, harta benda dan kepuasan duniawi.

8. Aja kuminter mundhak keblinger, aja cidra mundhak cilaka; artinya jangan merasa
paling pandai, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.

9. Aja melik barang kang melok, aja mangro mundhak kendho; artinya
jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah dan indah, jangan berfikir mendua agar tidak kendor niatnya. 

10. Aja adigang, adigung, adiguna;
artinya jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti
(berguna)

Demikianlah falsafah Dasa Pitutur mengenai hidup dan kehidupan karya Sunan  Kalijaga. Selain sebagai Wali Sanga, Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai seorang maestro budaya. Maka tak mengherankan ketika berdakwah Sunan Kalijaga juga dengan mendhalang (menjadi dhalang) seperti yang dilakukan ketika peresmian Masjid Agung Demak Bintara. Saat itu Sunan Kalijaga menggelar pagelaran wayang kulit dengan diiringi gamelan yang dimainkan oleh para niyaga dengan lakon Bima Suci. Yang menarik ada tiket masuk agar bisa menyaksikan pagelaran wayang kulit yang dimainkan oleh Sunan Kalijaga, yakni dengan mengucapkan Syahadat.

Hal itu merupakan cara atau strategi syi’ar dakwah yang dilakukam Sunan Kalijaga, yakni mengombinasikan ilmu agama yang mumpuni dan jiwa seni yang tinggi sehingga menarik perhatian masyarakat Jawa.

Dalam karya seni pewayangan, Sunan Kalijaga juga menggubah atau “mengislamkan” pernikahan poliandry antara Pandhawa dengan Dewi Drupadi sehingga menjadi monogami yaitu antara Prabu Yudhistira alias Puntadewa dengan Dewi Drupadi saja. Selain itu Sunan Kalijaga juga menciptakan carangan dalam lakon pewayangan, seperti menambah paraga dalam pewayangan dengan para punakawan; Ki Lurah Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong, Layang Jamus Kalimasada, lakon Petruk Dadi Ratu, dan sebagainya.

Sebagai seorang maestro budaya, Sunan Kalijaga juga yang menciptakan dan mengenalkan mode baju taqwa kepada masyarakat muslim saat itu. Bahkan. Sunan Kalijaga pulalah yang membuat tradisi Grebeg Maulud, perayaan Sekatenan, hingga yang menggagas lanskap Kraton dengan alun-alun beringin kembar dan masjid.

Urip iku Urup

Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa falsafah Urip iku urup itu salah satu dari Dasa Pitutur (10 nasihat) Sunan Kalijaga yang artinya hidup itu menyala bagaikan pelita yang menerangi sekelilingnya. Dengan kata lain bahwa falsafah Urip iku urup memiliki tujuan agar hidup kita (manusia) dapat menjadi bermakma.

Barangkali untuk menguak makna falsafah Urip iku urup agar hidup kita dapat bermakna—baik bermakna kepada diri (sendiri) maupun kepada orang lain atau sesama manusia—tentu harus dimulai dari diri sendiri atau dari dalam. Dalam hal ini ada baiknya kita belajar dari pitutur luhur atau nasihat dari Sri Paku Buwana IV dalam Tembang Kinanthi yang termaktub dalam Serat Wulangreh,  yakni;

Padha gulangening kalbu,

Ing sasmita amrih lantip,

Aja pijer mangan nendra,

Kaprawiran den kaesthi,

Pesunen sariranira,

Sudanen dhahar lan guling.

Berdasarkan piutur luhur atau nasihat Sri Paku Buwana IV tersebut, para putra wayah Beliau atau orang-orang Jawa pada umumnya diharapkan senantiasa melatih, mengasah atau mengajari hati (kalbu)-nya agar gampang tanggap ing sasmita, memiliki kecerdasan hati  atau kerpekaan batin (mudah menangkap isyarat kehidupan).

Caranya (tentu saja) dengan menjalani tirakat (ekspresi keprihatinan) jangan hanya membiasakan makan-tidur saja, tetapi hendaknya mengutamakan cita-cita dengan dibarengi watak ksatria dan berbudi luhur yaitu dengan cara melatih diri dengan rasa keprihatinan serta dengan mengurangi makan dan tidur sebagai upaya pengendalian hawa nafsu.

Setelah dari dalam atau diri sendiri, tentu kita berusaha agar hidup kita  lebih bermakna lagi, yakni memiliki manfaat kepada sesama manusia.

Sri Paku Buwana IV dalam Serat Wulangreh memberikan pitutur luhur yang disebutkan dalam Tembang Mijil, yakni;

Dedalane guna lawan sekti; artinya cara atau jalan untuk menggapai guna (hidup yang bermakna atau bermanfaat) dan sekti (berpengetahuan, memiliki ilmu yang bermanfaat).

Kudu andhap asor: artinya harus dengan berlaku rendah hati (tidak sombong).

Wani ngalah luhur wekasane; artinya berani mengalah sehingga menjadi luhur (martabat) hidupnya.

Tumungkula yen dipun dukani; artinya menunduk ketika dimarahi atau ketika dinasihati.

Bapang den simpangi; artinya menyingkirkan suatu penghalang (sesuatu yang bahaya).

Ana catur mungkur; artinya kalau melihat orang menggunjing atau menyebarkan fitnah lebih baik meninggalkannya. 

Dan, falsafah Urip iku urup yang artinya hidup itu menyala bagaikan pelita yang menerangi sekelilingnya atau agar kita dapat lebih bermakna lagi, barangkali kita perlu menelisik mengenai sosok (dalam pewayangan) yaitu Raden Sumantri alias Patih Suwanda. Hal itu sebagaimana dituturkan oleh Sri Mangkunegara IV dalam Tembang Dhandhanggula dalam Tripama  yang ditulis dalam Serat Wedatama, yakni;

Yogyanira kang para prajurit,

          lamun sira arsa anuladha,

          duk ing nguni caritane,

          andelira Sang Prabu,

          Sasrabahu ing Maespati,

          aran Patih Suwanda,

          lelabuhanipun,

          kang ginelung tri prakara,

          guna kaya purun ingkang den antepi,

          nuhoni trah utama

Tema utama yang disebutkan dalam tembang tersebut berkenaan dengan sosok dalam pewayangan yaitu Raden Sumantri yang kemudian setelah diangkat sebagai Patih Maespati berjuluk Patih Suwanda. Khususnya bagi para pamong praja (ASN, TNI/Polri) atau prajurit tentu sangat diharapkan dapat meneladani sosok Raden Sumantri yang suwita (mengabdi) kepada Sang Prabu Arjua Sasrabahu, Raja ing Maespati yang dikenal pula sebagai Raja titising Bathara Wisnu.  Dalam pengabdiannya, setidaknya Raden Sumantri alias Patih Suwanda memiliki tiga hal lelabuhan (telung perkara) yaitu guna kaya dan purun yang dijalankan dengan  nuhoni trah utama sebagai seorang ksatria utama. 

Berawal ketika Bambang Sumantri hendak suwita (mengabdi)  kepada Prabu Arjuna Sasrabahu di negara Maespati. Pada saat itu bersamaan ada sayembara prang di negara Magada yang diikuti sewu Raja (seribu orang Raja) yang hendak memperebutkan  Dewi Citrawati, putri Prabu Citrasena (Raja Magada).

Maka dari itu Prabu Arjuna Sasrabahu memberikan syarat kepada Sumantri; barangsiapa dia dapat memboyong Dewi Citrawati untuk Sang Prabu Arjuna, maka pasuwitan-nya bakal diterima. Sumantri pun sendika, lalu berangkat ke Magada. Sayangnya kedatangan Sumantri terlambat, padahal sayembara prang sudah selesai dan dimenangkan oleh Prabu Darmawasesa. Maka dari itu Sumantri sebagai utusan Prabu Arjuna lalu menantang Prabu Darmawasesa.

Keduanya tandhing-tiyasa dengan seru sekali. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh Sumantri. Itulah lelabuhan Sumantri yang pertama yang dapat memberikan guna, yakni dapat mrantasi gawe (menyelesaikan masalah) ketika diperintah Prabu Arjuna Sasrabahu melamarkan Dewi Citrawati, yakni dengan mengalahkan Prabu Darmawasesa dalam sayembara prang di Magada.

Setelah itu, Sumantri menerima bebana (hadiah) berupa mas picis rajabrana dan Putri Dhomas (800 orang putri sebagai emban atau dhayang-dhayang untuk Dewi Citrawati) dari sewu raja (seribu Raja) yang dipasrahkan Prabu Darmawasesa. Maka Raden Sumantri kembali dengan memboyong Dewi Citrawati yang kemudian dihaturkan kepada Prabu Arjuna Sasrabahu serta menyerahkan pula mas picis raja brana dan Putri Dhomas; yaitu merupakan wujud lelabuhan Sumantri yang kedua kepada Prabu Arjuna Sasrabahu.

Dan, lelabuhan Sumantri ketiga (ketika sudah diangkat menjadi Patih Maespati dengan berjuluk Patih Suwanda) yaitu purun, artinya mau menjalankan jejibahan (kewajiban) tugasnya selaku satriya berperang menghadapi para raseksa dari Ngalengkadiraja yang menyerang Negara Maespati.

Akhirnya Patih Suwanda (Sumantri) gugur ketika menghadapi Prabu Dasamuka, Raja Ngalengka yang dikenal digdaya pilih tandhing. Dengan demikian, Raden Sumantri alias Patih Suwanda nuhoni trah utama (menjalankan darmaning satriya dengan menjalankan kebenaran).

Apa yang dilakukan oleh Raden Sumantri dengan ungkapan “kang gielung tri pakara´yaitu guna kaya dan purun tersebut mengingatkan semboyan Bung Karno yang kesohor; “Jangan tanyakan apa yang telah diberikan oleh bangsa dan negara kepadamu, tetapi tanyakan kepada dirimu; apa yang telah engkau berikan kepada bangsa dan negaramu.” []

Editor : Vidya Sajar Fitri
Urip Iku Urup jawa manusia masyarakat