RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Proses pembuatan gula merah tradisional masih dilakukan secara manual oleh sejumlah perajin di berbagai daerah. Mulai dari penyaringan air nira hingga proses pencetakan, seluruh tahapan membutuhkan ketelatenan dan waktu yang tidak singkat.
Pembuatan gula merah diawali dengan pengumpulan cairan manis atau nira yang diperoleh dari pohon aren. Cairan tersebut menjadi bahan utama sebelum diolah menjadi gula cetak yang umum digunakan masyarakat sebagai pemanis alami.
Setelah nira berhasil dikumpulkan, tahap berikutnya adalah proses penyaringan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan cairan yang akan dimasak terbebas dari berbagai kotoran.
Nira Disaring Menggunakan Kain Halus
Perajin menggunakan kain kelambu atau kain bertekstur halus untuk menyaring nira.
Penyaringan dilakukan karena saat proses pengambilan, tidak jarang terdapat serangga, dedaunan, maupun kotoran lain yang ikut masuk ke dalam wadah penampungan.
Kebersihan nira menjadi faktor penting karena dapat memengaruhi kualitas, warna, dan rasa gula yang dihasilkan.
Setelah dipastikan bersih, nira kemudian dipindahkan ke wajan besar untuk memasuki tahap perebusan.
Perebusan Dilakukan Hingga Cairan Mengental
Tahap perebusan menjadi proses paling panjang dalam pembuatan gula merah tradisional.
Nira dimasak dengan api hingga kandungan airnya berkurang secara perlahan. Selama proses tersebut, cairan akan mengeluarkan busa di bagian permukaan.
Busa yang muncul kemudian diangkat secara berkala agar hasil akhir gula tetap bersih.
Dalam proses ini, perajin juga menambahkan sedikit minyak untuk mencegah cairan meluap keluar dari wajan.
Seiring berjalannya waktu, warna nira berubah menjadi lebih pekat dan teksturnya semakin kental.
Kondisi tersebut menandakan kadar gula di dalam cairan mulai meningkat dan mendekati tahap akhir pengolahan.
Menentukan Waktu yang Tepat untuk Mengangkat Gula
Sebelum diangkat dari tungku, perajin terlebih dahulu memastikan tingkat kematangan cairan.
Salah satu cara yang digunakan adalah dengan melihat tekstur cairan yang mulai membentuk benang ketika diangkat menggunakan alat.
Selain itu, cairan gula juga diuji dengan cara diteteskan ke dalam air dingin.
Apabila tetesan tersebut langsung mengeras, maka gula dianggap telah siap untuk diproses lebih lanjut.
Namun jika teksturnya masih lembut, perebusan harus terus dilanjutkan hingga mencapai tingkat kekentalan yang diinginkan.
Dicetak Menggunakan Tempurung Kelapa
Setelah matang, cairan gula diangkat dan diaduk hingga siap dimasukkan ke dalam cetakan.
Menariknya, perajin masih menggunakan tempurung kelapa sebagai media pencetak gula.
Cara tradisional ini sudah digunakan sejak lama dan dinilai praktis karena mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Baca Juga: Cara Membuat Gula Aren Tradisional, Dari Penyaringan Nira hingga Dicetak di Tempurung Kelapa
Setelah dituangkan ke dalam cetakan, cairan gula didiamkan beberapa saat hingga mengeras.
Hasil akhirnya berupa gula merah cetak yang siap digunakan atau dipasarkan.
Pembuatan gula merah tradisional tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang masih dipertahankan oleh masyarakat.
Meski perkembangan teknologi semakin pesat, metode tradisional tetap dipilih karena mampu menghasilkan cita rasa khas yang berbeda dibanding produk olahan modern.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : Petani Aren, You Tube, DIOLAH