TULUNGAGUNG - Jenang khas Tulungagung Pak Lasimun menjadi salah satu kuliner tradisional yang masih mempertahankan proses pembuatan secara manual. Adonan jenang diolah dengan cara tradisional menggunakan kayu hingga menghasilkan tekstur kenyal dan mulur.
Jenang tersebut diproduksi di pusat oleh-oleh khas Tulungagung milik Pak Lasimun. Lokasi ini tidak hanya menjual jenang, tetapi juga menyediakan berbagai makanan tradisional seperti madu mongso, wajik, alen-alen, dan kembang goyang.
Usaha yang sudah berjalan cukup lama itu kini semakin ramai. Pengunjung datang bukan hanya untuk membeli oleh-oleh, tetapi juga bisa melihat langsung proses pembuatan jenang di workshop.
Adonan Jenang Masih Diaduk Menggunakan Kayu
Proses pembuatan menjadi salah satu daya tarik jenang khas Tulungagung Pak Lasimun. Pengolahan masih dilakukan secara manual dan belum sepenuhnya mengandalkan mesin.
Baca Juga: MacBook Neo Bawa Chip A18 Pro, Harga Murah tapi Performa Bikin Kaget
Saat proses berlangsung, adonan jenang diaduk menggunakan alat berbahan kayu. Pengadukan dilakukan terus-menerus hingga adonan matang dan memiliki tekstur yang diinginkan.
Pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga karena adonan yang dimasak memiliki bobot cukup berat. Proses pengadukan juga harus dilakukan dengan teliti agar jenang tidak rusak dan dapat menghasilkan tekstur yang konsisten.
Setelah matang, adonan kemudian dipindahkan ke tempat pencetakan. Jenang yang sudah dicetak selanjutnya dipotong menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sebelum dikemas.
Cara tradisional tersebut menjadi bagian dari identitas produk. Pengelola tetap mempertahankan metode lama untuk menjaga cita rasa jenang yang sudah dikenal konsumen.
Tidak Hanya Menjual Jenang
Pusat oleh-oleh Pak Lasimun menyediakan berbagai pilihan makanan khas Tulungagung. Jenang menjadi salah satu produk utama yang banyak dicari.
Baca Juga: 17 Provinsi Masuk Status Awas Kekeringan 11-20 Agustus 2026, El Nino Masih Bertahan
Selain jenang ketan, tersedia pula madu mongso dan wajik. Berbagai makanan ringan khas daerah juga dapat ditemukan di lokasi tersebut.
Beberapa di antaranya adalah alen-alen dan kembang goyang. Dengan banyaknya pilihan, pengunjung dapat membeli beberapa jenis makanan sekaligus untuk dibawa pulang.
Lokasi tersebut juga menampilkan sertifikat halal sebagai salah satu informasi bagi konsumen. Keberadaan sertifikat tersebut menjadi bagian penting bagi usaha makanan yang melayani pembeli dari berbagai daerah.
Bisnis Kuliner Merambah Warung Makan
Pengembangan usaha Pak Lasimun ternyata tidak berhenti pada penjualan jenang dan oleh-oleh. Usaha tersebut juga merambah bidang kuliner dengan membuka tempat makan di Tegal Pule.
Warung tersebut menawarkan makanan yang berbeda dari produk oleh-oleh. Salah satu menu yang menjadi perhatian adalah sego gego.
Sego gego disajikan menggunakan daun pisang. Pilihan lauknya cukup beragam, termasuk ikan tuna dan ayam.
Selain sego gego, pengunjung dapat menikmati botok. Menu yang tersedia antara lain botok ikan, botok ayam, dan rempelo ati.
Saat dikunjungi, warung tersebut terlihat ramai. Kondisi itu membuat pengunjung memilih membawa pulang makanan yang dipesan.
Kuliner Tradisional yang Terus Dikembangkan
Perjalanan usaha Pak Lasimun menunjukkan bagaimana kuliner tradisional dapat dikembangkan menjadi bisnis yang lebih luas. Jenang menjadi produk utama, sedangkan pusat oleh-oleh dan warung makan menjadi bagian dari pengembangan usaha.
Proses pembuatan jenang yang masih dilakukan secara manual juga menjadi daya tarik bagi pengunjung. Mereka dapat melihat langsung bagaimana adonan diolah sebelum menjadi makanan siap jual.
Tekstur jenang yang kenyal dan mulur menjadi salah satu karakteristik yang terlihat ketika produk dicicipi.
Keberadaan usaha tersebut turut memperlihatkan bahwa makanan tradisional Tulungagung masih memiliki pasar. Dengan mempertahankan proses pengolahan dan menghadirkan beragam produk, kuliner lokal dapat terus dikenal oleh masyarakat.
Bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh khas Tulungagung, jenang Pak Lasimun menjadi salah satu pilihan yang menawarkan lebih dari sekadar makanan. Pengunjung juga dapat melihat proses produksi tradisional sekaligus mencoba kuliner lain yang dikembangkan oleh pengelola.
Editor : Maylanni Diana Fitri