RADAR TULUNGAGUNG - Tulungagung masih menyimpan bakat di bidang seni lukis.
M Syaiful Huda contohnya. Siswa SMPN 1 Gondang, Tulungagung ini beberapa waktu lalu menyabet juara nasional seni lukis.
Ternyata kegemaran remaja Tulungagung ini pada dunia seni lukis sudah tampak sejak belia.
Baca Juga: Tahu Cabe Garam Ala Coffe Shop Sangat Mudah Dibuat Dirumah, Begini Resep dan Langkah Membuatnya
M Syaiful Huda yang masih duduk di bangku kelas 1 SD sering mencoret-coret dinding rumahnya.
Mendapati hal ini, kedua orang tuanya memutuskan untuk rutin membelikannya buku gambar sebagai media.
“Ikut sanggar seni lukis mulai kelas 2 SD. Pertama di Sanggar Lukis Matahari. Lalu, pindah di Bonorowo, Moyoketen. Sampai sekarang masih aktif les,” ucap remaja kelahiran 7 Maret 2009 ini.
Baca Juga: Lowongan Kerja di Tulungagung, Lulusan SMA Bisa Digaji di Atas UMR!
Seiring berjalannya waktu, Syaiful makin aktif berkegiatan di dunia seni lukis. Sejumlah lomba juga dia ikuti.
Lalu, dia juga mulai fokus pada salah satu aliran lukis. Yaitu, natural-realistis. Berbagai materi dan pengalaman dia lahap untuk mendalami aliran yang dia gemari itu.
Singkat cerita, remaja 15 tahun ini mendapat informasi ihwal lomba lukis yang digelar Kemenag dan Balitbang Agama Semarang.
Tak tanggung-tanggung, penyelenggara menunjuk tokoh-tokoh kawakan di bidang seni budaya di wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah (Jateng).
“Lomba lukis (bertema, Red) Moderasi Beragama. Pesertanya sekitar 1.700 orang dari seluruh Indonesia. Dibagi dua kategori. Yaitu, mahasiswa-umum dan pelajar. Saya ikut kategori pelajar,” kata pelajar yang duduk di tingkat IX di SMPN 1 Gondang ini.
Remaja 15 tahun ini menambahkan, proses penjurian dilakukan secara daring.
Teknisnya, para peserta diwajibkan diberi waktu pengerjaan karya lukis mulai 15 Oktober hingga 15 November.
Peserta diminta mengirim foto karya lukis ke panitia lomba. Selanjutnya, dewan juri akan mengurasi 20 karya luksi dari masing-masing kategori.
Baca Juga: Disparitas Ekonomi di Tulungagung Bisa Terus Menganga, Begini Saran Pengamat
Dari jumlah tersebut, juri akan melakuakn penilaian untuk menentukan daftar juara dari masing-masing kategori.
Di hari pengumuman, Syaiful dinyatakan sebagai juara di kategori pelajar. Meski begitu, remaja yang tinggal di Desa Jarakan, Kecamatan Gondang, ini mengaku sempat menemui kendala dalam prosesnya.
“Waktu pengiriman agak mepet. Saya kirim hari terakhir, jadi agak kesusu. Saya kerjakan mulai 28 Oktober. Karena terlalu santai, saya lihat tanggalnya masih lama,” ujarnya lantas terkekeh.
Baca Juga: Memang Tak Berbahaya, Ratusan Warga Tulungagung Terkena Gondongan selama 2024
Uniknya, meski harus merampungkan karya lukis hanya dalam waktu sekitar dua pekan, karya lukis Syaiful justru mencuri perhatian dewan juri.
Hal itu juga tak lepas dari dalamnya makna yang terkandung dalam lukisan yang dia torehkan.
“Lukisan saya berjudul Pertunjukan Kesenian Jaranan dan Barongan. Maknanya, lukisan ini menggambarkan salah satu tradisi budaya lokal. Yaitu, kesenian jaranan dan barongan. Menunjukkan antusiasme warga sekitar untuk memeriahkan tanpa adanya perbedaan agama,” jelas bungsu dari dua bersaudara ini. ***
Editor : Dharaka R. Perdana