RADAR TULUNAGUNG - Pamor keris yang satu ini namanya indah sekali. Yakni Kenanga Ginubah. Secara harafiah memiliki arti bunga kenanga yang ditata atau dironce.
Maknanya keindahannya bagaikan bunga kenanga yang ditata sebagai hiasan atau dekorasi yang tergores dalam bilah keris.
Baca Juga: Namanya Mirip Tanaman Obat Berkhasiat, Keris dengan Pamor Ini Terhitung Cukup Langka
Bukan hanya namanya yang indah, tetapi juga dari tampilan keris dengan pamor ini.
Lukisan dari tempaan berbagai besi dan bahan pamor, itu ditata hingga menyerupai bunga Kenanga menjuntai dari bilah keris bagian atas menuju ke sorsoran (bagian bawah).
Pamor ini tergolong pamor rekaan. Yakni penataan pamornya sudah direncanakan oleh sang empu.
Bukan perkara mudah bagi seorang empu dalam membuat pamor Kenanga Ginubah. Butuh ketelatenan dan kecermatan yang tinggi.
Sedikit saja kesalahan dalam proses pembuatannya, akan menjadi pamor gagal.
Secara filosofi, pamor ini bisa menebarkan bau yang harum. Seperti harumnya bunga kenanga.
Baca Juga: Keris Pusaka Milik Arjuna Ini Konon Dibuat dari Taring Dewa Pemangsa Manusia, Ini Faktanya
Pesan moralnya, seseorang hendaknya selalu berbuat baik dan terpuji. Sehingga akan melahirkan nama yang baik dan harum.
Bagi pecinta keris yang mempercayai isoteri atau yoni, pamor ini memiliki tuah yang baik bagi pemiliknya.
Sang pemilik akan memcapai prestasi yang tinggi dan mengukir nama besar.
Zaman dahulu, keris ini merupakan simpanan para pegawai dan seniman. Juga para priyayi dan keluarga terpandang.
Baca Juga: Keris Langka dengan Pamor Ini Jadi Buruan Kolektor, Abdi Negara Wajib Menyimak
Bahkan para pelajar pun banyak yang menyimpan keris tersebut. Harapannya bisa mencapai prestasi yang diinginkan.
Pamor ini digolongkan sebagai pamor yang tidak pemilih. Artinya, baik untuk dimiliki siapa saja.
Baca Juga: Sering Disebut Keris Cacat, Tapi Kok Bisa Membuat Lahan Jadi Luas, Ini Fakta Keris Pamengkang Jagad
Keris berpamor Kenanga Ginubah sudah ada sejak zaman Majapahit. Juga ditemukan pada tangguh Tuban, Mataram Islam, hingga sekarang.
Tetapi pamor ini jumlahnya hanya sedikit. Sehingga jarang ditemukan di tengah masyarakat.
Karena kelangkaannya, pamor tersebut selalu menjadi buruan para kolektor pusaka. Dan otomatis bernilai tinggi.
Editor : Dharaka R. Perdana