JAKARTA - Larangan menikah di bulan tertentu menurut primbon Jawa kembali menjadi perbincangan setelah sebuah video membahas daftar tanggal yang dianggap tidak baik untuk melangsungkan pernikahan viral di media sosial. Dalam adat Jawa, beberapa tanggal dan bulan dipercaya berkaitan dengan peristiwa kurang menyenangkan yang dialami para nabi sehingga dihindari untuk acara sakral seperti pernikahan.
Kepercayaan mengenai hari baik dan hari larangan menikah masih dipegang sebagian masyarakat Jawa hingga sekarang. Tradisi tersebut biasanya dilakukan dengan menghitung weton calon mempelai, menentukan hari baik, hingga menghindari tanggal tertentu yang dianggap membawa kesialan dalam rumah tangga.
Dalam video yang beredar, narator menjelaskan bahwa aturan tersebut bukan semata-mata mitos tanpa makna. Menurutnya, leluhur Jawa membuat pedoman tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai adat, budaya, dan filosofi kehidupan.
Primbon Jawa Sebut Pernikahan Harus Menghindari Tanggal Tertentu
Narator menjelaskan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu sangat memperhatikan penentuan hari pernikahan. Tujuannya agar rumah tangga pasangan pengantin bisa langgeng, tenteram, adem ayem, dan penuh keberkahan.
“Menikah itu sesuatu yang sakral, jadi orang Jawa sangat rinci dalam menentukan waktunya supaya baik ke depannya,” jelasnya dalam video tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa larangan menikah pada tanggal tertentu sering disalahpahami sebagai tindakan musyrik atau syirik. Padahal, menurutnya, aturan tersebut lebih kepada filosofi dan bentuk penghormatan terhadap budaya leluhur.
Dalam tradisi Jawa, mencari hari baik dianggap sebagai bagian dari ikhtiar agar kehidupan rumah tangga berjalan harmonis. Karena itu, keluarga biasanya mempertimbangkan penanggalan Jawa sebelum menentukan tanggal akad nikah maupun resepsi.
Kepercayaan ini masih cukup kuat di berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, tidak sedikit pasangan yang rela mengubah jadwal pernikahan demi menghindari tanggal yang dianggap kurang baik menurut primbon.
Ini Daftar Tanggal Larangan Menikah Menurut Primbon Jawa
Dalam penjelasannya, narator menyebut sejumlah tanggal dan bulan yang dipercaya tidak baik untuk melangsungkan pernikahan. Larangan tersebut dikaitkan dengan kisah para nabi yang mengalami peristiwa berat atau musibah.
Berikut daftar tanggal larangan menikah menurut primbon Jawa yang disebut dalam video:
- Tanggal 13 bulan Suro, karena dikaitkan dengan peristiwa Nabi Ibrahim dibakar Raja Namrud.
- Tanggal 3 bulan Robiul Awal, bertepatan dengan Nabi Adam diturunkan ke dunia.
- Tanggal 16 Robiul Akhir, dikaitkan dengan Nabi Yusuf dimasukkan ke sumur oleh saudara-saudaranya.
- Tanggal 5 bulan Jumadil Awal, disebut berkaitan dengan Nabi Nuh dan banjir besar.
- Tanggal 12 atau 21 bulan Ramadan, dikaitkan dengan perjuangan Nabi Musa melawan Raja Firaun.
- Tanggal 24 Dzulkaidah, dipercaya bertepatan dengan peristiwa Nabi Yunus ditelan ikan paus.
- Tanggal 25 Dzulhijjah atau bulan Besar, berkaitan dengan Nabi Muhammad masuk ke gua.
Narator menyebut larangan tersebut dibuat karena pernikahan merupakan momen bahagia sehingga masyarakat Jawa menghindari waktu yang dianggap bertepatan dengan peristiwa duka atau cobaan besar.
Ia juga menekankan bahwa masih banyak hari lain yang dapat dipilih untuk menikah tanpa harus menggunakan tanggal yang dianggap kurang baik.
Filosofi Larangan Menikah Disebut Bentuk Penghormatan Leluhur
Menurut narator, masyarakat sebaiknya memahami terlebih dahulu filosofi di balik aturan adat sebelum langsung menyalahkan atau menolaknya. Ia menilai banyak orang saat ini terlalu cepat menghakimi tradisi tanpa mengetahui asal-usulnya.
“Segala sesuatu yang tidak tahu sebaiknya dicari tahu dulu filosofinya,” ujarnya.
Dalam budaya Jawa, adat pernikahan memang tidak hanya dipandang sebagai seremoni biasa, tetapi juga bagian dari tata krama dan penghormatan terhadap leluhur. Karena itu, berbagai aturan seperti weton, hari baik, dan larangan tanggal tertentu tetap dipertahankan hingga sekarang.
Meski demikian, sebagian masyarakat modern mulai menganggap tradisi tersebut cukup fleksibel dan tidak harus dijadikan patokan mutlak. Banyak pasangan kini lebih mengutamakan kesiapan finansial, waktu keluarga, dan ketentuan agama dibanding perhitungan primbon.
Namun di sisi lain, tradisi penentuan hari baik tetap dianggap penting oleh sebagian keluarga besar demi menjaga ketenangan batin dan menghormati adat yang diwariskan turun-temurun.
Editor : Natasha Eka Safrina