TULUNGAGUNG – Tradisi Ulam Bana memiliki makna lebih dari sekadar ritual sembahyang bagi arwah. Dalam praktik masyarakat Tionghoa, ritual ini juga menjadi bentuk penghormatan dan kepedulian kepada arwah yang dipercaya tidak lagi memiliki keluarga atau keturunan yang dapat memberikan penghormatan.
Ulam Bana berkaitan dengan tradisi Ulam Bana yang berkembang dalam masyarakat Tionghoa dan memiliki akar dalam ajaran Buddha. Dalam perkembangannya, tradisi tersebut berinteraksi dengan praktik Taoisme serta kepercayaan masyarakat setempat sehingga bentuk pelaksanaannya dapat berbeda di berbagai daerah.
Ulam Bana juga kerap dikaitkan dengan bulan ketujuh kalender lunar yang dalam tradisi masyarakat Tionghoa dikenal sebagai masa untuk mengenang dan memberikan penghormatan kepada arwah. Dalam sejumlah tradisi, bulan tersebut dipercaya sebagai waktu ketika arwah dapat kembali ke dunia manusia.
Baca Juga: Rumah Haruku di Bali, Hunian Tradisional yang Menyatu dengan Sawah dan Hutan
Mengapa Ulam Bana Ditujukan bagi Arwah Tanpa Keluarga?
Salah satu ciri penting Ulam Bana adalah perhatian terhadap arwah yang dianggap tidak memiliki sanak keluarga atau keturunan yang masih mengurusnya. Karena tidak mempunyai keluarga yang secara khusus melakukan penghormatan, arwah tersebut turut didoakan dan diberi persembahan secara simbolis dalam ritual bersama.
Gagasan mengenai penghormatan kepada arwah yang tidak memiliki keturunan juga dikenal dalam tradisi Festival Hantu atau Hungry Ghost Festival. Praktik tersebut mencakup pemberian persembahan kepada arwah yang diyakini tidak mempunyai keturunan yang dapat menyediakan makanan atau melakukan ritual penghormatan.
Dengan demikian, ritual ini tidak semata-mata berbicara tentang hubungan antara seseorang dengan leluhurnya sendiri. Ada pula unsur kepedulian kepada arwah yang dianggap terlantar secara spiritual dalam kepercayaan masyarakat.
Berawal dari Tradisi Ulam Bana
Secara historis-keagamaan, Ulam Bana memiliki akar dalam Ullambana Sutra. Kisah yang menjadi dasar tradisi tersebut menceritakan murid Buddha, Maudgalyayana atau Mulian, yang berusaha menolong ibunya yang diyakini terlahir di alam penderitaan.
Dalam perkembangan selanjutnya, Ullambana menjadi ritual yang berkaitan dengan penghormatan kepada orang tua dan leluhur. Persembahan serta pelimpahan jasa kebaikan kepada mereka yang telah meninggal menjadi bagian penting dari makna ritual tersebut. Kajian akademis juga mencatat bahwa Ullambana mengalami perubahan bentuk ketika berkembang di berbagai wilayah Asia Timur.
Karena itu, pemaknaan Ulam Bana tidak selalu dapat diseragamkan untuk seluruh komunitas Tionghoa. Tradisi lokal, ajaran keagamaan, dan kebiasaan masyarakat ikut membentuk cara ritual tersebut dilaksanakan.
Sesajen Menjadi Bentuk Penghormatan Simbolis
Dalam pelaksanaan Ulam Bana di TITD Tjoe Tik Kiong Tulungagung pada 31 Agustus, umat menyiapkan sesajen sebagai bagian dari penghormatan simbolis kepada arwah. Ritual tersebut merupakan kegiatan tahunan yang terus dipelihara oleh komunitas setempat.
Rangkaian kegiatan juga menunjukkan adanya unsur sosial. Sekitar 3.000 paket sembako disiapkan dan sekitar 2.800 paket telah diambil atau dibagikan kepada umat serta relawan yang mengikuti kegiatan.
Pelaksanaan tersebut memiliki konteks tersendiri. Sehari sebelumnya digelar sembahyang arwah, sedangkan Ulam Bana secara khusus diarahkan kepada arwah yang diyakini sudah tidak memiliki sanak famili maupun keturunan yang mengurusnya.
Kepercayaan mengenai arwah yang kembali pada bulan ketujuh kalender lunar memang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa. Namun, kajian mengenai Festival Hantu menunjukkan bahwa praktik tersebut merupakan pertemuan antara unsur Buddhisme, Taoisme, dan kepercayaan rakyat sehingga tidak seluruh pemahamannya dapat dianggap sebagai doktrin tunggal.
Pada akhirnya, Ulam Bana dapat dipahami sebagai tradisi penghormatan kepada mereka yang telah meninggal sekaligus pengingat mengenai kepedulian terhadap arwah yang tidak lagi memiliki keluarga untuk mengenangnya.
Pelaksanaan ritual melalui doa dan sesajen menjadi cara simbolis masyarakat menjaga hubungan dengan mereka yang telah meninggal sekaligus mempertahankan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber