RADAR TULUNGAGUNG – Jumlah korban dalam tragedi runtuhnya musala tiga lantai di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, terus bertambah.
Hingga Selasa (30/9/2025) pagi, tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi total 102 santri Ponpes Al Khoziny yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Peristiwa nahas yang terjadi pada Senin (29/9) sore sekitar pukul 15.00 WIB ini menyisakan duka mendalam, terutama bagi keluarga korban Ponpes Al Khoziny Sidoarjo yang meninggal dunia, Maulana Affan Ibrahimafic (15).
Musala yang sedang dalam tahap renovasi tersebut ambruk saat ratusan santri sedang melaksanakan salat Ashar berjamaah. Akibatnya, puluhan santri terjebak di bawah reruntuhan material bangunan.
Data awal yang dirilis Polda Jatim pada Senin malam menyebutkan 79 korban ponpes ambruk Sidoarjo telah dievakuasi.
Namun, data terbaru dari Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, pada Selasa pagi mengonfirmasi jumlah korban mencapai 100 orang, dengan rincian 99 selamat dan satu meninggal dunia. Angka ini kembali diperbarui menjadi 102 korban yang berhasil dievakuasi.
Para korban ponpes ambruk Sidoarjo yang selamat segera dilarikan ke tiga rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
Berdasarkan data awal, sebanyak 45 korban dirawat di RS Siti Hajar dan 34 korban lainnya di RS Notopuro Sidoarjo. Seiring bertambahnya korban yang dievakuasi, RS Delta Surya juga menjadi salah satu rujukan penanganan medis.
Satu-satunya korban meninggal dunia, Maulana Affan Ibrahimafic, merupakan santri berusia 15 tahun asal Kalianyar Kulon, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya. Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Jules Abraham Abast, menyatakan bahwa jenazah telah melalui proses administrasi untuk dipulangkan ke rumah duka.
Penyebab Diduga Akibat Penopang Cor Tidak Kuat
Meskipun investigasi resmi masih berlangsung, dugaan awal penyebab runtuhnya bangunan mengarah pada kegagalan struktur penopang.
Salah satu pengasuh ponpes, KH Abdus Salam Mujib, menjelaskan bahwa pada hari kejadian, sedang berlangsung proses pengecoran terakhir untuk bagian atap gedung.
Aktivitas pengecoran ini telah dimulai sejak pagi hari. "Sepertinya penopang cor itu tidak kuat. Jadi seperti menopang ke bawah," ungkapnya saat ditemui di lokasi kejadian.
Bangunan musala tersebut diketahui memang masih dalam tahap pembangunan. Meski demikian, lantai bawah bangunan tetap difungsikan untuk kegiatan ibadah sehari-hari para santri, seperti salat berjamaah dan mengaji.
Kesaksian dari santri yang selamat, Muhammad Rijalul Qoib (13), menguatkan dugaan tersebut.
Ia menuturkan mendengar suara material retak dari arah atas yang semakin lama semakin keras sebelum akhirnya bangunan ambruk total. "Dengar suara seperti material jatuh retak-retak tambah lama tambah keras akhirnya jatuh," ucapnya.
Proses Evakuasi Penuh Tantangan
Proses evakuasi para korban menjadi prioritas utama tim SAR gabungan yang terdiri dari ratusan personel dari berbagai instansi, termasuk Basarnas, BPBD, TNI-Polri, PMI, dan relawan lainnya.
Operasi penyelamatan ini menghadapi berbagai kendala di lapangan. Nanang Sigit dari Kantor SAR Surabaya menjelaskan bahwa struktur bangunan yang rapuh dan tertimbun material beton menjadi tantangan utama.
Tim harus bekerja dengan ekstra hati-hati karena adanya risiko runtuhan susulan yang bisa terjadi kapan saja.
Meskipun menghadapi kondisi yang tidak stabil, tim SAR tetap berupaya maksimal untuk mengevakuasi korban dengan mengutamakan keselamatan. Alat berat berupa ekskavator juga diturunkan untuk membantu menyingkirkan puing-puing beton.
Baca Juga: 79 Orang Menjadi Korban Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo yang Ambruk, 1 Santri Meninggal Dunia
Hingga Selasa pagi, tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian di lokasi untuk memastikan tidak ada lagi korban yang tertinggal di bawah reruntuhan.
Sementara itu, Tim Inafis Polda Jatim juga telah diturunkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengumpulkan informasi dan menyelidiki penyebab pasti dari tragedi ini. ****
Editor : Dharaka R. Perdana