Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cuaca Ekstrem Terus Mengguyur Indonesia, Pakar Ungkap Penyebab Tanah Bergerak di Tegal hingga Banjir Berulang di Sumatera

Kirana Meigita Luciana Rani • Jumat, 13 Februari 2026 | 11:33 WIB

 

Cuaca ekstrem picu tanah bergerak di Tegal dan banjir Sumatera. Pakar ungkap hujan deras masih berlangsung hingga April.
Cuaca ekstrem picu tanah bergerak di Tegal dan banjir Sumatera. Pakar ungkap hujan deras masih berlangsung hingga April.

RADAR TULUNGAGAUNG-  Fenomena cuaca ekstrem masih terus melanda berbagai wilayah Indonesia dan memicu bencana hidrometeorologi bertubi-tubi, mulai dari banjir, longsor, hingga tanah bergerak. Dalam beberapa hari terakhir, kejadian tanah bergerak di Tegal hingga banjir di Sumatera Utara kembali menjadi perhatian publik.

Pakar hidrometeorologi dari Institut Teknologi Bandung, Armi Susandi, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi saat ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Intensitas hujan tinggi berlangsung lebih lama dan terjadi berulang tanpa jeda cukup panjang.

Menurutnya, kondisi ini menyebabkan akumulasi air di dalam tanah meningkat sehingga memicu pergerakan tanah di sejumlah wilayah rawan. Dampaknya, berbagai daerah mengalami bencana susulan yang terjadi hampir setiap hari akibat cuaca ekstrem yang belum menunjukkan tanda mereda.

Baca Juga: Samsung Galaxy A57 5G Siap Meluncur, Layar Super AMOLED 120 Hz, Kamera OIS, dan Fast Charging 45W Jadi Andalan

Tanah Bergerak di Tegal Akibat Hujan Berturut-turut

Peristiwa tanah bergerak terjadi di wilayah Tegal setelah hujan deras mengguyur selama tiga hari berturut-turut, masing-masing berlangsung hingga enam jam setiap harinya. Akumulasi air membuat tanah kehilangan kekuatan sehingga lapisan tanah meluncur di atas batuan yang sudah jenuh air.

Armi menjelaskan, perbedaan utama tanah bergerak dan longsor terletak pada prosesnya. Longsor biasanya terjadi secara tiba-tiba, sementara tanah bergerak terjadi secara perlahan karena air mengisi pori-pori tanah hingga menjadi licin dan mudah bergeser.

Selain faktor hujan, pemukiman yang berada di dekat aliran sungai serta kondisi tata guna lahan yang kurang ideal turut memperbesar risiko bencana. Banyak wilayah di Pulau Jawa kini menjadi lebih rentan akibat kepadatan penduduk dan pembangunan yang mengurangi daya resap tanah.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG 12 Februari 2026: Hujan Lebat dan Angin Kencang Intai Banyak Wilayah, Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem

Hujan Tak Kunjung Pindah dari Pulau Jawa

Biasanya, pola hujan ekstrem hanya bertahan sekitar dua minggu di satu wilayah sebelum bergeser. Namun kali ini, hujan deras bertahan lebih dari satu bulan di Pulau Jawa.

Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah daerah, termasuk kawasan permukiman di Sentul, mengalami banjir limpasan. Air hujan yang seharusnya meresap ke tanah justru mengalir di permukaan akibat banyaknya area yang sudah tertutup beton.

Fenomena ini menjadi peringatan bahwa pembangunan di wilayah perbukitan perlu dievaluasi kembali agar tidak memperbesar risiko bencana saat hujan ekstrem terjadi.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG 13 Februari 2026: Hujan Lebat Ancam Bali, NTB, NTT hingga Maluku, Sejumlah Kota Waspada Petir

Banjir Kembali Terjadi di Tapanuli Tengah

Sementara itu, banjir juga kembali melanda wilayah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Hujan deras menyebabkan sungai meluap dan membawa material kayu serta lumpur yang merendam permukiman warga.

Pemerintah daerah terpaksa kembali mengevakuasi warga ke lokasi yang lebih aman. Tanggul darurat yang sebelumnya diperbaiki kembali jebol akibat debit air yang meningkat drastis.

Menurut Armi, wilayah Sumatera memang memiliki karakteristik curah hujan tinggi sepanjang tahun, bahkan beberapa daerah hampir tidak mengalami musim kemarau. Namun kondisi saat ini dinilai lebih ekstrem karena hujan terus berlangsung tanpa jeda normal.

Waspada Hingga April, Potensi Bergeser ke Wilayah Lain

Armi memperkirakan kondisi cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga April mendatang sebelum pola angin berubah dan memasuki periode lebih kering. Selama masa tersebut, potensi bencana susulan masih bisa terjadi, terutama di wilayah yang tanahnya sudah jenuh air.

Baca Juga: Setelah Ringinpitu, Minimarket di Kacangan Ngunut Tulungagung Jadi Sasaran Pencurian, Polisi Periksa CCTV dan Saksi

Ia juga mengingatkan bahwa hujan ekstrem berpotensi bergeser menuju wilayah Kalimantan dan Sulawesi dalam beberapa minggu ke depan.

Pembelajaran dari negara seperti Filipina menunjukkan bahwa daerah rawan banjir dapat mengalami bencana berulang dalam setahun jika tata ruang dan mitigasi tidak diperbaiki.

Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, sementara pemerintah diharapkan memperkuat penataan ruang, memperbaiki sistem mitigasi, serta mengedepankan pembangunan yang ramah lingkungan agar dampak cuaca ekstrem tidak terus memicu kerugian besar setiap tahun.

Baca Juga: Sebanyak 127 Jabatan Kepala Sekolah di Tulungagung Kosong hingga Februari 2026, Disdik Targetkan Terisi Tahun Ini

Editor : Kirana Meigita Luciana Rani
#tanah bergerak Tegal #Bencana hidrometeorologi #cuaca ekstrem Indonesia