RADAR TULUNGAGAUNG- Fenomena cuaca ekstrem masih terus melanda berbagai wilayah Indonesia dan memicu bencana hidrometeorologi bertubi-tubi, mulai dari banjir, longsor, hingga tanah bergerak. Dalam beberapa hari terakhir, kejadian tanah bergerak di Tegal hingga banjir di Sumatera Utara kembali menjadi perhatian publik.
Pakar hidrometeorologi dari Institut Teknologi Bandung, Armi Susandi, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi saat ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Intensitas hujan tinggi berlangsung lebih lama dan terjadi berulang tanpa jeda cukup panjang.
Menurutnya, kondisi ini menyebabkan akumulasi air di dalam tanah meningkat sehingga memicu pergerakan tanah di sejumlah wilayah rawan. Dampaknya, berbagai daerah mengalami bencana susulan yang terjadi hampir setiap hari akibat cuaca ekstrem yang belum menunjukkan tanda mereda.
Tanah Bergerak di Tegal Akibat Hujan Berturut-turut
Peristiwa tanah bergerak terjadi di wilayah Tegal setelah hujan deras mengguyur selama tiga hari berturut-turut, masing-masing berlangsung hingga enam jam setiap harinya. Akumulasi air membuat tanah kehilangan kekuatan sehingga lapisan tanah meluncur di atas batuan yang sudah jenuh air.
Armi menjelaskan, perbedaan utama tanah bergerak dan longsor terletak pada prosesnya. Longsor biasanya terjadi secara tiba-tiba, sementara tanah bergerak terjadi secara perlahan karena air mengisi pori-pori tanah hingga menjadi licin dan mudah bergeser.
Selain faktor hujan, pemukiman yang berada di dekat aliran sungai serta kondisi tata guna lahan yang kurang ideal turut memperbesar risiko bencana. Banyak wilayah di Pulau Jawa kini menjadi lebih rentan akibat kepadatan penduduk dan pembangunan yang mengurangi daya resap tanah.
Hujan Tak Kunjung Pindah dari Pulau Jawa
Biasanya, pola hujan ekstrem hanya bertahan sekitar dua minggu di satu wilayah sebelum bergeser. Namun kali ini, hujan deras bertahan lebih dari satu bulan di Pulau Jawa.
Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah daerah, termasuk kawasan permukiman di Sentul, mengalami banjir limpasan. Air hujan yang seharusnya meresap ke tanah justru mengalir di permukaan akibat banyaknya area yang sudah tertutup beton.
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa pembangunan di wilayah perbukitan perlu dievaluasi kembali agar tidak memperbesar risiko bencana saat hujan ekstrem terjadi.
Banjir Kembali Terjadi di Tapanuli Tengah
Sementara itu, banjir juga kembali melanda wilayah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Hujan deras menyebabkan sungai meluap dan membawa material kayu serta lumpur yang merendam permukiman warga.
Pemerintah daerah terpaksa kembali mengevakuasi warga ke lokasi yang lebih aman. Tanggul darurat yang sebelumnya diperbaiki kembali jebol akibat debit air yang meningkat drastis.
Menurut Armi, wilayah Sumatera memang memiliki karakteristik curah hujan tinggi sepanjang tahun, bahkan beberapa daerah hampir tidak mengalami musim kemarau. Namun kondisi saat ini dinilai lebih ekstrem karena hujan terus berlangsung tanpa jeda normal.
Waspada Hingga April, Potensi Bergeser ke Wilayah Lain
Armi memperkirakan kondisi cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga April mendatang sebelum pola angin berubah dan memasuki periode lebih kering. Selama masa tersebut, potensi bencana susulan masih bisa terjadi, terutama di wilayah yang tanahnya sudah jenuh air.
Ia juga mengingatkan bahwa hujan ekstrem berpotensi bergeser menuju wilayah Kalimantan dan Sulawesi dalam beberapa minggu ke depan.
Pembelajaran dari negara seperti Filipina menunjukkan bahwa daerah rawan banjir dapat mengalami bencana berulang dalam setahun jika tata ruang dan mitigasi tidak diperbaiki.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, sementara pemerintah diharapkan memperkuat penataan ruang, memperbaiki sistem mitigasi, serta mengedepankan pembangunan yang ramah lingkungan agar dampak cuaca ekstrem tidak terus memicu kerugian besar setiap tahun.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani