JAKARTA - Tradisi Jawa memiliki beragam pengetahuan dan kebiasaan yang diwariskan lintas generasi, mulai dari perhitungan weton, istilah Kliwon dan Wage, hingga tradisi nyadran untuk mengenang leluhur. Dalam sebuah ceramah, masyarakat diajak memahami konteks tradisi tersebut sebelum memberikan penilaian.
Pembicara menilai banyak istilah dan praktik Jawa yang mulai kehilangan maknanya karena tidak lagi dipelajari generasi sekarang. Salah satunya adalah penggunaan nama hari seperti Wage, Kliwon, Pahing, Pon, dan Legi.
Menurut dia, perhitungan hari tersebut merupakan bagian dari pengetahuan masyarakat Jawa sejak dahulu. Perhitungan itu tidak hanya berkaitan dengan persoalan spiritual, tetapi juga digunakan untuk menentukan waktu tertentu dalam aktivitas kehidupan.
Ia mencontohkan masyarakat terdahulu yang memperhatikan hari untuk kegiatan pertanian, seperti menentukan waktu menanam maupun memanen hasil bumi.
Karena itu, pembicara mengingatkan pentingnya menjaga pengetahuan yang diwariskan orang tua dan leluhur.
Weton dan Istilah Jawa Perlu Dipahami
Pembicara juga menyoroti perubahan pemahaman terhadap sejumlah istilah dalam budaya Jawa. Salah satunya adalah istilah danyang yang dalam pemahaman masyarakat modern terkadang langsung dikaitkan dengan makhluk gaib.
Baca Juga: Buruk Preman, Cermin Dipecah
Dalam ceramah tersebut, danyang dijelaskan dalam konteks istilah Jawa yang berkaitan dengan tokoh terdahulu atau leluhur yang dihormati. Ia juga menghubungkannya dengan istilah seperti danghyang dan sang hyang dalam sejarah penggunaan bahasa Jawa.
Menurutnya, perubahan bahasa membuat sebagian istilah Jawa semakin jarang dipahami. Ia mencontohkan penggunaan istilah kekerabatan yang dahulu lebih beragam, tetapi kini banyak digantikan dengan istilah dari bahasa asing.
Kondisi tersebut dinilai membuat generasi muda semakin jauh dari istilah dan filosofi yang pernah digunakan masyarakat Jawa.
Pembicara kemudian mengaitkan tradisi Jawa dengan perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat. Ia berpandangan bahwa sejumlah bentuk budaya lama dapat diberi makna baru sesuai dengan keyakinan yang dianut masyarakat.
Ia mencontohkan praktik sosial, kesenian, musik, hingga berbagai kegiatan masyarakat yang menurutnya tidak harus langsung ditolak hanya karena berasal dari tradisi lama.
Nyadran dan Khol Jadi Cara Mengingat Leluhur
Salah satu tradisi yang mendapat perhatian adalah nyadran atau khol. Menurut pembicara, tradisi tersebut berkaitan dengan penghormatan dan doa kepada orang-orang yang telah meninggal.
Baca Juga: Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026, Adira Finance Hadirkan #TerimaKasihSahabat di Tulungagung
Dalam praktik yang dipaparkan, kegiatan itu dapat diisi dengan ziarah kubur, doa, tahlil, membaca Yasin, hingga sedekah.
Pembicara menilai kegiatan semacam itu juga memiliki fungsi sosial. Pertemuan keluarga dan masyarakat dalam kegiatan tahunan membuat generasi berikutnya tetap mengenal leluhur mereka.
Ia kemudian menjelaskan pentingnya silsilah keluarga. Dari satu orang tua terdapat dua orang tua di atasnya, kemudian empat kakek-nenek, delapan buyut, dan seterusnya. Penjelasan tersebut digunakan untuk menggambarkan panjangnya hubungan antargenerasi.
Karena itu, ia mengingatkan agar seseorang tidak melupakan asal-usul keluarganya. Konsep tersebut dikaitkan dengan ungkapan Jawa sangkan paraning dumadi, yakni pengingat mengenai asal dan tujuan kehidupan.
Nilai Jawa Ditekankan dari Lahir hingga Meninggal
Ceramah tersebut juga membahas tembang-tembang macapat sebagai gambaran perjalanan kehidupan manusia.
Mas Kumambang dikaitkan dengan masa sebelum kelahiran. Mijil menggambarkan kelahiran, sedangkan Kinanti dikaitkan dengan masa anak-anak dan proses pendidikan.
Tahap berikutnya adalah Sinom yang menggambarkan masa muda. Asmaradana dikaitkan dengan persoalan asmara, kemudian Gambuh dengan kehidupan rumah tangga.
Setelah itu terdapat Dhandhanggula yang menggambarkan pengalaman merasakan manis dan pahit kehidupan. Durma dikaitkan dengan pengabdian dan penggunaan kemampuan untuk membantu orang lain.
Perjalanan kemudian berlanjut pada Pangkur yang dikaitkan dengan masa tua, Megatruh dengan perpisahan kehidupan, dan Pucung dengan proses pemakaman.
Menurut pembicara, rangkaian tersebut menunjukkan bahwa budaya Jawa tidak hanya berisi tradisi, tetapi juga pesan moral mengenai kehidupan manusia.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan agama, akhlak, penghormatan kepada orang tua, serta kepedulian terhadap sesama.
Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, pembicara mengingatkan agar masyarakat tidak kehilangan sejarah dan nilai budaya. Perubahan dari radio, televisi, surat kabar hingga teknologi digital dinilai menunjukkan betapa cepat kehidupan berubah.
Menurutnya, teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, akan terus berkembang. Namun, manusia tetap perlu memahami sejarah dan nilai yang diwariskan generasi sebelumnya.
Pesan tersebut dirangkum dalam ajakan untuk tidak meninggalkan sejarah. Tradisi boleh mengalami perubahan bentuk, tetapi nilai tentang keluarga, penghormatan kepada orang tua, kepedulian sosial, dan hubungan antargenerasi dinilai tetap perlu dijaga.
Editor : Maylanni Diana Fitri