JAKARTA - Gunung Budheg Tulungagung bukan hanya dikenal sebagai gunung api purba dan kawasan yang lekat dengan cerita rakyat Joko Budek. Kawasan tersebut juga menjadi perhatian Agus Utomo, pelestari lingkungan dan budaya yang mengaku telah merawat Gunung Budheg sejak 2003.
Dalam video yang membahas Gunung Budheg, Agus menceritakan perjalanan panjangnya menghijaukan kawasan tersebut. Ia menyebut kondisi vegetasi ketika pertama kali datang sangat memprihatinkan.
Menurut Agus, pada 2003 tutupan tanaman di Gunung Budheg hanya sekitar 10 persen dari luas lahan. Setelah dilakukan penanaman selama bertahun-tahun, ia menyebut tutupan lahan kini telah mencapai sekitar 90 persen.
Perawatan itu dilakukan secara bertahap. Agus mengatakan sebagian besar bibit yang digunakan diperolehnya sendiri tanpa meminta dukungan pihak lain.
Dua Dekade Merawat Gunung Budheg
Agus mulai masuk ke kawasan Gunung Budheg pada 2003. Pada awalnya, ia menanam di lereng utara hingga 2005. Kemudian, pada 2006 dan 2007, lokasi penanaman bergeser ke bagian barat daya.
Baca Juga: Berburu Mobil Bekas Murah di Alparis Motor Tangerang, Ada Kijang Super hingga Honda City
Ia juga mendirikan pos kecil untuk menyimpan peralatan seperti cangkul, garpu, dan perlengkapan penanaman.
Setelah itu, Agus berpindah ke kawasan puncak. Selama dua tahun, sekitar 500 batang tanaman disebut berhasil ditanam. Pada tahun ketiga, ia melakukan evaluasi dan menyebut tingkat pertumbuhannya mencapai 90 persen.
Penanaman kemudian dilanjutkan ke sisi selatan Gunung Budheg hingga ke arah timur. Agus menyebut titik tersebut mulai dikerjakannya sejak 2011 dan terus dirawat hingga sekarang.
Dalam prosesnya, Agus mengaku mencari sendiri sekitar 90 persen bibit yang digunakan. Ia bahkan membawa bibit, air minum, serta peralatan seperti cangkul ketika melakukan penanaman.
Menurutnya, jumlah tanaman yang bisa dibawa dan ditanam menyesuaikan kondisi medan. Dalam setengah hari, satu orang disebut dapat membawa dan menanam sekitar 250 batang.
Penghijauan Berkaitan dengan Keselamatan Warga
Bagi Agus, penghijauan Gunung Budheg tidak semata-mata berkaitan dengan lingkungan. Ia menilai kondisi kawasan tersebut juga berhubungan dengan keselamatan dan perekonomian masyarakat di sekitar lereng.
Baca Juga: Toyota Kijang Kapsul Diesel 1997 Mulai Rp60 Juta, Ini Kelebihan dan Kekurangannya
Ia menceritakan, sebelum kawasan tersebut tertangani, air dari lereng dapat turun dalam jumlah besar ketika hujan. Aliran air kemudian menuju sawah dan saluran irigasi.
Jika saluran tidak mampu menampung aliran tersebut, Agus menyebut embung dapat jebol dan petani berisiko mengalami gagal panen.
Selain persoalan air, ia juga menyinggung ancaman longsor. Menurut Agus, kemiringan Gunung Budheg sangat ekstrem sehingga kondisi tanah dan batuan di lereng perlu diperhatikan.
Ia mengatakan penanaman yang dilakukan sejak 2003 hingga 2010 menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko longsoran tanah dan batu.
Agus juga menegaskan bahwa tanaman yang berada di sejumlah titik puncak, menurut pengakuannya, bukan berasal dari pemerintah atau Perhutani. Tanaman tersebut ditanam dan dirawat menggunakan biaya yang sebagian besar berasal dari dirinya sendiri.
Jejak Sejarah dan Cerita Joko Budek
Selain persoalan lingkungan, Gunung Budheg juga memiliki cerita sejarah dan budaya yang disampaikan dalam video tersebut.
Agus menjelaskan kawasan ini dikaitkan dengan cerita rakyat Joko Budek dan Roro Kembang Sore pada masa Majapahit. Ada pula kisah mengenai Watu Joko Budek yang disebut berkaitan dengan tradisi masa sebelumnya.
Dalam penuturannya, kawasan Gunung Budheg juga disebut pernah menjadi tempat pertapaan tokoh-tokoh pada masa lalu. Agus menyebut gunung tersebut sebagai tanah wingit, tetapi ia membedakannya dari istilah angker.
Ia juga menceritakan keberadaan bangunan peninggalan masa Belanda di bagian timur gunung yang disebut kelop. Menurut cerita yang ia dengar dari warga dan para sesepuh, bangunan tersebut dahulu memiliki gardu dan cermin besar.
Gunung Budheg juga disebut berada sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Tulungagung. Agus mengaitkannya dengan posisi pendopo dan garis imajiner yang menghubungkan sejumlah tempat penting dalam sejarah Mataram.
Selama lebih dari dua dekade merawat kawasan tersebut, Agus mengatakan dirinya tidak bermaksud mencari pujian. Ia berharap upaya menjaga Gunung Budheg dapat terus dilanjutkan.
Ia bahkan menyatakan siap menyerahkan pengelolaan aset yang telah dirawatnya kepada desa atau pemerintah daerah apabila kelak diperlukan. Bagi Agus, dirinya hanya merasa ikut hidup dan mengabdi di kawasan tersebut.
Editor : Maylanni Diana Fitri