Pasaran Jawa Punya Sejarah Panjang, dari Pasar Kuno hingga Kalender Digital

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 17:10 WIB
Pasaran Jawa Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon memiliki sejarah panjang dari pasar kuno, kalender Sultan Agung hingga era digital.(pinterest)
Pasaran Jawa Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon memiliki sejarah panjang dari pasar kuno, kalender Sultan Agung hingga era digital.(pinterest)

JAKARTA - Pasaran Jawa yang dikenal melalui lima nama, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon, ternyata bukan sekadar pelengkap nama hari. Sistem lima harian ini memiliki jejak sejarah yang panjang dan telah melewati berbagai perubahan zaman, mulai dari masyarakat Jawa kuno, masa Mataram Islam, hingga kehidupan digital.

Kelima nama tersebut merupakan bagian dari pancawara, yaitu siklus lima hari dalam sistem penanggalan Jawa. Istilah pasaran sendiri berkaitan dengan kata pasar. Pada masa lalu, rotasi lima harian disebut berkaitan dengan waktu beroperasinya pasar tradisional di sejumlah wilayah Jawa.

Artinya, pasaran memiliki fungsi praktis dalam kehidupan masyarakat. Hari tertentu dapat menjadi waktu sebuah pasar ramai didatangi pedagang dan pembeli. Berbagai hasil bumi, ternak, makanan, kain, dan kebutuhan sehari-hari diperdagangkan dalam kesempatan tersebut.

Pasar juga menjadi tempat bertemunya masyarakat. Selain transaksi, terjadi pertukaran kabar dan hubungan sosial. Dari sinilah pasaran dapat dilihat sebagai bagian dari cara masyarakat mengatur kehidupan sehari-hari sebelum sistem waktu modern digunakan secara luas.

Jejak Pasaran Sudah Ada Sebelum Sultan Agung

Sejarah pasaran Jawa ternyata tidak bermula ketika Sultan Agung menyusun kalender Jawa. Jejak pancawara disebut telah ditemukan dalam penanggalan Jawa kuno.

Baca Juga: Buruk Preman, Cermin Dipecah

Salah satu petunjuknya terdapat dalam Prasasti Cunggrang bertarikh Saka 851. Prasasti tersebut mencatat unsur penanggalan yang memadukan sejumlah siklus hari, termasuk pancawara. Dalam sumber Jawa kuno juga ditemukan bentuk nama seperti umanis, pahing, pon, wagai, dan kaliwang.

Nama-nama tersebut kemudian mengalami perkembangan seiring perubahan bahasa dan kebudayaan. Bentuk yang lebih dikenal masyarakat sekarang adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Pada masa Jawa kuno, sistem penanggalan tidak hanya mengenal siklus lima dan tujuh hari. Ada pula sadwara dengan enam hari serta berbagai perhitungan lain, termasuk wuku yang membentuk siklus 210 hari.

Sistem tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa memiliki cara berlapis dalam memahami perjalanan waktu. Penanggalan tidak hanya mencatat tanggal, tetapi juga terhubung dengan aktivitas masyarakat dan lingkungan kehidupan mereka.

Perubahan besar terjadi pada 1633 ketika Sultan Agung melakukan pembaruan kalender Mataram. Sistem tersebut kemudian dikenal sebagai kalender Sultan Agungan.

Kalender baru itu memadukan penomoran tahun yang meneruskan tradisi Saka dengan sistem perhitungan lunar yang berkaitan dengan kalender Islam. Namun, pembaruan tersebut tidak menghapus pancawara.

Lima pasaran tetap berjalan bersama siklus tujuh hari atau saptawara.

Bertemu Menjadi Weton 35 Hari

Pertemuan siklus lima hari dan tujuh hari menghasilkan pola 35 hari. Karena itu, kombinasi hari dan pasaran yang sama akan kembali setelah 35 hari.

Baca Juga: Berkendara Motor Malam Hari, Ini Tips Mengenali Kendaraan Berhenti atau Terparkir di Jalan

Dalam tradisi Jawa, kombinasi tersebut dikenal sebagai weton. Seseorang tidak hanya memiliki hari kelahiran seperti Senin atau Selasa, tetapi juga memiliki pasangan pasaran, misalnya Selasa Pahing.

Dari sinilah pasaran berkembang menjadi bagian dari identitas waktu seseorang. Weton kemudian digunakan dalam berbagai tradisi masyarakat.

Nilai yang melekat pada hari dan pasaran dikenal sebagai neptu. Nilai tersebut menjadi bagian dari petungan atau pitungan Jawa yang berkembang untuk berbagai keperluan.

Penggunaannya tidak seragam di semua daerah. Dalam sejumlah tradisi, perhitungan weton digunakan sebagai pertimbangan untuk pernikahan, perjalanan, membangun rumah, maupun kegiatan tertentu.

Namun, makna tersebut perlu ditempatkan dalam konteks budaya. Kepercayaan terhadap petungan merupakan bagian dari tradisi masyarakat, bukan bukti ilmiah bahwa pasaran tertentu dapat menentukan masa depan seseorang.

Bertahan Saat Kalender Berubah

Masuknya kehidupan modern tidak membuat lima pasaran tersebut hilang. Kalender Masehi memang menjadi sistem yang digunakan untuk berbagai keperluan resmi, seperti sekolah, pemerintahan, administrasi, dan aktivitas sehari-hari.

Namun, kalender Jawa tetap digunakan dalam sejumlah lingkungan adat dan keluarga. Keraton Yogyakarta juga masih mempertahankan kalender Jawa Sultan Agungan untuk berbagai kegiatan tradisional.

Nama pasaran pun masih dapat ditemukan dalam penamaan pasar. Pasar Legi, Pasar Kliwon, Pasar Pon, Pasar Wage, dan Pasar Pahing menjadi contoh bahwa hubungan antara pasaran dan pasar masih meninggalkan jejak.

Perkembangan teknologi kemudian membawa pasaran ke bentuk baru. Masyarakat tidak harus menghitung secara manual untuk mengetahui weton. Kalender digital dan berbagai perangkat teknologi dapat membantu menentukan hari serta pasarannya.

Kondisi tersebut membuat pasaran tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu. Sistem tersebut kini dapat dipelajari dari sisi sejarah, kebudayaan, maupun matematika.

Bagi generasi modern, mengetahui weton juga tidak harus berarti mempercayai seluruh tafsir tradisional. Seseorang dapat mempelajarinya sebagai bagian dari sejarah keluarga dan warisan budaya.

Pada akhirnya, Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon mampu bertahan bukan karena zaman berhenti berubah. Justru kelima nama itu terus menemukan tempat baru ketika masyarakat dan teknologi berubah.

Dari ritme pasar tradisional, pasaran masuk ke kalender Jawa, berkembang menjadi bagian dari weton dan tradisi, lalu hadir kembali di layar digital. Lima nama tersebut menjadi salah satu jejak bagaimana masyarakat Jawa sejak masa lampau berusaha memahami waktu sekaligus mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Editor : Maylanni Diana Fitri
pasaran Jawa Legi Pahing Pon Wage Kliwon Sultan Agung weton kalender jawa