JAKARTA - Keyakinan bahwa ada hari naas yang membawa kesialan atau musibah dinilai tidak tepat dalam sebuah kajian keagamaan. Penutur menjelaskan bahwa tidak ada hari yang secara khusus disebut sebagai hari celaka. Semua hari dapat menjadi hari yang baik bagi seorang hamba selama diisi dengan kebaikan dan ibadah.
Sebaliknya, hari dapat menjadi buruk bagi seseorang ketika waktu tersebut digunakan untuk melakukan maksiat. Karena itu, manusia tidak dianjurkan menilai sebuah hari sebagai pembawa kesialan hanya karena pernah terjadi kejadian buruk pada waktu tersebut.
Penutur memberikan contoh hari Jumat. Hari tersebut disebut sebagai hari yang mulia. Apabila sebuah musibah terjadi pada Jumat, keadaan itu tidak membuat Jumat berubah menjadi hari celaka.
“Tidak ada hari celaka, nggak ada hari naas,” ujar penutur dalam kajian tersebut.
Pandangan yang sama disampaikan untuk tanggal tertentu. Penutur mencontohkan tanggal 18 Dzulhijjah. Jika seseorang menjalani hari tersebut dengan ibadah, maka hari itu menjadi baik baginya. Namun, jika malam Jumat justru digunakan untuk melakukan maksiat, keburukan tersebut berasal dari perbuatan manusia, bukan karena waktu yang dijalaninya.
Musibah Bukan Bukti Hari Tertentu Membawa Sial
Dalam kajian tersebut, penutur juga mengingatkan agar musibah tidak langsung dikaitkan dengan hari atau tanggal tertentu. Sebuah bencana yang terjadi pada waktu tertentu tidak dapat menjadi alasan untuk menyebut waktu tersebut sebagai hari naas.
Baca Juga: Yadea GT80 Rp29,8 Juta, Bergaya XMAX dan Punya Kecepatan hingga 93 Km/jam
Menurut penjelasan penutur, seorang mukmin memiliki sikap berbeda ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Ketika memperoleh musibah, ia bersabar. Sementara ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur.
Kedua sikap tersebut sama-sama memiliki nilai kebaikan bagi orang beriman. Musibah yang dihadapi dengan kesabaran tidak dipandang sebagai tanda bahwa seseorang berada pada hari celaka.
Peristiwa tsunami di Aceh juga disinggung sebagai contoh dalam kajian. Penutur mempertanyakan anggapan yang menjadikan hari terjadinya bencana tersebut sebagai hari naas. Menurut penjelasan yang disampaikan, musibah bagi orang beriman justru dapat menjadi sarana pengampunan dosa dan pengangkatan derajat.
Karena itu, bencana tidak selalu dipahami sebagai bentuk keburukan bagi orang beriman. Cara seseorang menyikapi musibah menjadi bagian penting dalam penjelasan tersebut.
Jangan Mengaitkan Kesialan dengan Hari dan Pertanda
Kajian itu juga membahas apabila seorang wali Allah menyampaikan bahwa pada hari tertentu akan terjadi musibah. Menurut penutur, informasi tersebut tidak berarti hari yang disebut merupakan hari naas.
Baca Juga: Yadea Kinis Ternyata Kencang, Motor Listrik Rp44 Juta Ini Sudah Sold Out
Pernyataan mengenai kemungkinan terjadinya musibah dipandang sebagai berita mengenai sebuah kejadian. Hal itu berbeda dengan keyakinan bahwa hari tersebut memiliki sifat buruk atau membawa kesialan.
Penutur kemudian mengingatkan agar umat tidak mudah membangun prasangka buruk kepada Allah. Prasangka tersebut tidak hanya dikaitkan dengan hari, tetapi juga dengan tanda-tanda tertentu yang dianggap membawa kesialan.
Salah satu contoh yang disebut adalah burung gagak. Ada anggapan tertentu yang menghubungkan keberadaan atau ketidakberadaan burung tersebut dengan kematian. Namun, penutur menegaskan bahwa manusia tidak seharusnya membangun prasangka buruk berdasarkan pertanda semacam itu.
Setiap hari tetap dapat diisi dengan berbagai aktivitas dan kemungkinan. Ada orang yang meninggal setiap hari, tetapi hal tersebut tidak otomatis berkaitan dengan keberadaan burung tertentu ataupun hari tertentu.
Pesan utama kajian tersebut adalah mengubah cara pandang terhadap waktu dan kejadian. Hari tidak perlu dicap sebagai buruk hanya karena sebuah musibah pernah terjadi pada waktu tersebut.
Menurut penutur, orang beriman seharusnya menjaga prasangka baik kepada Allah. Musibah dihadapi dengan sabar, sedangkan nikmat disikapi dengan syukur. Dengan cara pandang itu, tidak ada alasan untuk menetapkan hari tertentu sebagai hari naas atau hari celaka.
Kajian tersebut pada akhirnya menekankan bahwa seluruh hari dapat menjadi kesempatan untuk melakukan kebaikan. Penilaian terhadap baik dan buruknya kehidupan tidak semestinya ditentukan hanya berdasarkan hari atau tanggal, melainkan juga dari bagaimana seorang hamba menjalani dan menyikapi setiap keadaan yang diberikan kepadanya.
Editor : Maylanni Diana Fitri