Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

KOLABORASI ORGANISASI GAPOKTAN DALAM PERSPEKTIF CHESTER IRVING BARNARD

Doni Setiawan • Rabu, 5 Juli 2023 | 16:18 WIB
Putri Dwi Herliana - Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Malang
Putri Dwi Herliana - Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Malang

Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Namun Indonesia masih belum dapat memenuhi kebutuhan penduduknya sehingga masih perlu mengimpor dari negara lain. Dengan memberdayakan masyarakat, masyarakat petani diberdayakan untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. Salah satu caranya yaitu dengan membentuk kelompok tani di daerah pedesaan. Proses ini tidak lepas dari peran kelompok tani. Berdasarkan peraturan Menteri Pertanian No.237/Kpts/ OT.160/4/2007 bahwa, kelompok tani dapat diartikan sebagai kumpulan petani yang terikat secara informal atas dasar keserasian dan kepentingan yang sama dalam suatu organisasi yang tumbuh dikembangkan dari, oleh dan untuk petani. Gabungan kelompok tani ini menjadi wadah bagi petani untuk berkolaborasi dan memperoleh akses sumber daya yang lebih besar.

Gapoktan dapat membantu para petani untuk mengakses perdanaan, teknologi, dan pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian. Serta gapoktan juga dapat membantu petani untuk menjual produk mereka ke pasar yang lebih besar. Selain itu, gabungan kelompok tani di tingkat Internasional, gapoktan dapat berperan sebagai wadah bagi petani dari berbagai pengalaman dan pengetahuan dan dapat menjadi wadah bagi negaranegara berkembang untuk memperjuangkan hak-hak petani mereka ditingkat internasional. Namun disisi lain gapoktan di tingkat internasional juga menghadapi tantangan, seperti minimnya akses ke perdanaan dan kurangnya dukungan dari pemerintahan. Oleh karena itu, peran pemerintahan dan organisasi internasional sangat penting dalam membantu gapoktan untuk berkembang dan meningkatkan kesejahteraan petani. Oleh karena nya masih banyak masyarakat yang berasumsi bahwa kelompok tani tidak memiliki peranan yang penting dalam peningkatan pendapatan petani. Pengembangan organisasi kelompok tani tercermin dalam penerapan sistem dan peningkatan peran petani melalui kerjasama antar petani. Dalam sebuah organisasi pasti memerlukan kerjasama antara individu satu dengan individu yang lain. Kerjasama sendiri merupakan salah satu bentuk interaksi sosial. Pada pasal 28D (2) UUD 1945 yang menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapatkan imbalan dan perlakukan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. Selain itu, kerjasama suatu proses sosial yang didalamnya terdapat aktivitas yang ditunjukkan untuk mencapai tujuan bersama saling membantu satu sama lainnya.

Kerjasama dalam sebuah organisasi harus dilakukan karena bentuk hubungan didalam organisasi memerlukan kolaborasi yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang dapat menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak, salah satunya peningkatan pengembangan pada pertanian, untuk memahami dan menjelaskan bagaimana bentuk kerjasama itu dilaksanaka, agar kedua belah pihak yangb bekerja sama tersebut dapat saling percaya dan berkomitmen dalam rangka mempertahankan hubungan baik mereka dan dapat memberikan keuntungan, untuk menentukan teoriteori yang dapat digunakan untuk memahami kerjasama dalam hubungan organisasi kelompok tani. Terkait analisis yang digunakan pada artikel kolaborasi organisasi gapoktan dalam perspektif chester irving barnard penulis menggunakan teori yang telah disampaikan oleh dosen mata kuliah sosiologi organisasi yaitu Dr. Sulismadi, M.Si. Penggunaan teori sistem kerjasama dalam artikel ini dilakukan untuk melihat peranperan individu yang tergabung dalam gabungan kelompok tani dan untuk melihat bagaimana sistem kerja sama yang dilakukan oleh gabungan kelompok tani tersebut. Menurut Chester Irving Barnard menyatakan bahwa kerjasama tergantung dalam dua situasi yaitu efektifitas pencapaian dan efisiensi yang dihubungkan dengan kepuasan individu. Efektifitas pencapian mengacu pada kemampuan kelompok tani dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, beberapa faktor yang mempengaruhi efektifitas pencapian yaitu :Koordinasi dan komunikasi, kelompok tani harus memiliki saluran komunikasi yang efektif dan mekanisme koordinasi yang baik untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok bekerja menuju tujuan bersama.

Manajemen sumber daya, kelompok tani harus mengelola sumber daya seperti lahan, pupuk, air dan peralatan dengan efisien. Pengelolaan yang baik akan meningkatkan efektivitas penggunaan sumber daya dan hasil yang ingin di capai.

Pembagian tugas, tugas-tugas dalam kelompok tani harus didistribusikan secara adil dan sesuai dengan keahlian masing-masing anggota, tujuan yang jelas dan teorganisir akan meningkatkan efektivitas kelompok.

Efisiensi yang dihubungkan dengan kepuasan individu mengacu pda penggunaan sumber daya yang optimal dalam mencapai tujuan kelompok tani serta kepuasan individu merujuk pada tingkat kepuasan anggota kelompok tani terhadap kerjasama kelompok Beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi dan kepuasan individu antara lain :

1. Penggunaan teknologi, penerapan teknologi pertanian yang tepat dapat meningkatkan efisiensi produksi misalnya : penggunaan alat atau mesin modern seperti tractor, mesin tanam padi, mesin pemanen padi dan penggunaan pestisida yang tepat,

2. Penjadwalan yang efisien, pengaturan jadwal kerja yang efisien dan penggunaan waktu dengan bijaksana dapat meningkatkan produktivtas kelompok tani.

3. Pembagian hasil yang adil, pembangian hasil yan adil dan tranparan antara anggota kelompok tani akan memotivasi mereka untuk bekerja secara efisien

4. Partisipasi dan keterlibatan, memberikan kesempatan kepada nggota kelompok tani untuk berpartisipasi aktif dan terlibat dalam pengambilan keputusan.

Ketika alasan individu tidak dapat dicukupi, maka salah satunya berbagi dalam keuntungan atas pengamanan sasaran atau asosiasi perorangan dan kewajiban sebelumnya, maka aktivitas kerjasama tidak akan bisa terjadi. Hubungan kerjasama pada organisasi dapat berupa kolaborasi, kemitraan, dan jaringan. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi terbentuknya kerjasama, yaitu tujuan yang jelas, saling ketergantungan, dan kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. (*)

 

* Oleh : Putri Dwi Herliana

Jurusan : Sosiologi

Kampus : Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Doni Setiawan
#Organisasi Gapoktan #CHESTER IRVING BARNARD #kelompok tani #organisasi