RADAR TULUNGAGUNG - Meskipun saat ini belum masuk musim kemarau, namun BMKG mengingatkan masyarakat untuk melakukan antisipasi dini.
Karena berkaca dari pengalaman sebelumnya, musim kemarau memiliki dampak yang tidak bisa diprediksi.
Baca Juga: Awal Musim Kering di Indonesia Sama, Puncak Kemarau Justru Terjadi di Bulan-Bulan Berikut Ini
Khususnya terhadap kelangsungan lahan pertanian yang lazimnya paling sering terdampak.
Plt Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau di sektor pertanian, dapat, menyesuaikan jadwal tanam di wilayah-wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih awal maupun lebih lambat.
Baca Juga: Pernah Alami Krisis Air di Musim Kemarau, Ini Langkah Warga Desa Notorejo di Tulungagung!
Yakni dengan memilih varietas tahan kekeringan, serta mengoptimalkan pengelolaan air di daerah dengan musim kemarau lebih kering dari normal.
Sementara itu, wilayah yang berpotensi mengalami musim kemarau lebih basah dapat memanfaatkannya dengan memperluas lahan sawah untuk meningkatkan produksi pertanian.
Baca Juga: Dua Sumur Bor Dibangun di Desa Kalibatur, Masyarakat Menjadi Lebih Tenang Jika Terjadi Kemarau
Untuk sektor kebencanaan dapat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan yang diprediksi mengalami musim kemarau dengan curah hujan Normal atau Bawah Normal.
Sektor lingkungan dapat mewaspadai memburuknya kualitas udara di kota-kota besar dan wilayah rawan karhutla.
Serta potensi gangguan kenyamanan akibat suhu udara panas dan lembap selama musim kemarau.
Di sektor energi dapat menghemat dan mengelola pasokan air secara efisien untuk menjaga keberlanjutan operasi PLTA, irigasi, dan pemenuhan kebutuhan air baku, terutama di wilayah dengan musim kemarau bawah normal atau lebih panjang dari normal.
Terakhir di Sektor Sumber Daya Air bisa mengoptimalkan sumber air alternatif dan memastikan distribusi air yang efisien guna menjaga ketersediaan air bagi masyarakat selama musim kemarau.
“BMKG menghimbau agar informasi dalam Prediksi Musim Kemarau 2025 ini dapat dijadikan dasar dalam mendukung program asta cita melalui optimalisasi kondisi iklim sesuai dengan sumber daya di wilayah masing-masing,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana