Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Penyebab Cuaca Panas BMKG Menyengat di Indonesia, Awan Minim hingga Pergeseran Matahari Jadi Biang Keladi

Iqbal Pangestu • Rabu, 15 Oktober 2025 | 19:18 WIB

Cuaca panas ekstrem melanda Indonesia, BMKG menyebut minimnya awan dan pergeseran posisi matahari sebagai penyebab utamanya.
Cuaca panas ekstrem melanda Indonesia, BMKG menyebut minimnya awan dan pergeseran posisi matahari sebagai penyebab utamanya.

RADAR TULUNGAGUNG - Gelombang cuaca panas yang menyengat belakangan ini telah menjadi keluhan utama masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa hingga Bali.

Suhu udara yang terasa jauh lebih terik dari biasanya, bahkan sejak pagi hari, memicu kekhawatiran dan memunculkan berbagai spekulasi di kalangan warganet, yang bahkan ada yang menyamakannya seperti 'disembur naga'.

Menanggapi fenomena ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah mengenai akar penyebab suhu ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini.

Pihak BMKG cuaca panas mengungkapkan bahwa faktor utama di balik suhu yang memanas ini adalah pergeseran posisi semu matahari dan minimnya tutupan awan di atmosfer.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG cuaca panas, Guswanto, menjelaskan bahwa suhu yang terasa sangat panas ini dipengaruhi oleh pergeseran semu matahari ke arah selatan wilayah Indonesia. Pergeseran ini menyebabkan peningkatan intensitas radiasi matahari, terutama di wilayah selatan.

Dampak langsung dari pergeseran matahari tersebut adalah pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan menjadi jarang.

Kondisi minimnya tutupan awan inilah yang berperan besar membuat sinar matahari langsung menembus ke permukaan bumi tanpa hambatan.

Akibatnya, pemanasan permukaan Bumi menjadi kuat, menyebabkan udara terasa panas sepanjang hari. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa fenomena pergeseran semu matahari ke selatan Indonesia merupakan pemicu utama dari panas ekstrem yang terasa saat ini.

Baca Juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini 8-10 Oktober 2025: Jawa Timur Waspada Angin Kencang

Selain dipicu oleh pergeseran posisi semu matahari dan kurangnya awan, suhu tinggi yang dirasakan ini juga merupakan ciri khas masa pancaroba. Indonesia saat ini tengah berada dalam masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

Menurut Guswanto, masa pancaroba ini ditandai dengan suhu udara yang tinggi, angin kering, dan pola cuaca yang tidak menentu.

Periode transisi ini diperkirakan berlangsung hingga sekitar pertengahan Oktober 2025. Pola cuaca yang tidak menentu selama pancaroba dapat menghasilkan hari yang terasa panas ekstrem di siang hari, diikuti dengan hujan deras lokal pada sore atau malam hari.

Namun, kabar baiknya, BMKG memprediksi bahwa intensitas cuaca panas BMKG yang ekstrem ini kemungkinan akan mereda seiring masuknya musim hujan, diperkirakan terjadi pada akhir Oktober hingga awal November 2025.

Dampak dan Wilayah Paling Terdampak

Fenomena minimnya tutupan awan berdampak pada peningkatan radiasi matahari, khususnya di wilayah daratan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Pemanasan permukaan bumi yang intensif ini bahkan dapat memicu pembentukan awan konvektif seperti Cumulonimbus (Cb), yang berpotensi menyebabkan hujan lokal yang lebat.

Masyarakat di media sosial menggambarkan kondisi ini dengan metafora ekstrem karena suhu udara terasa jauh lebih menyengat, bahkan menyebabkan dampak fisik seperti kulit yang "flare up" atau gatal-gatal pada beberapa individu.

Beberapa wilayah mencatat suhu tertinggi yang paling terdampak oleh panas terik ini. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, merinci data suhu di beberapa kota besar:

DKI Jakarta: Suhu mencapai 35°C.

Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur: Suhu tercatat hingga 36°C.

Semarang, Grobogan, dan Sragen di Jawa Tengah: Suhu berkisar antara 34°C hingga 35°C.

Bali dan Nusa Tenggara: Juga mengalami suhu tinggi yang mencapai 35°C.

Baca Juga: BMKG Beri Peringatan Indonesia Dihantui Ancaman Curah Hujan Tinggi Akibat Fenomena Akhir Tahun 2025, Ini Dampaknya

Prediksi Iklim Jangka Panjang

Meskipun panas menyengat ini mendominasi saat ini, BMKG memberikan proyeksi terkait pergeseran musim.

Cuaca panas ekstrem akan mulai mereda seiring dengan peningkatan tutupan awan dan kedatangan musim hujan.

Selain itu, BMKG memprediksi adanya fenomena La Nina lemah yang akan berlangsung dari Oktober 2025 hingga Januari 2026.

Dampak dari La Nina ini diperkirakan akan meningkatkan curah hujan secara bertahap, terutama di wilayah dengan suhu laut yang hangat, dimulai dari bulan November hingga Januari.

Imbauan dan Kewaspadaan BMKG

Menghadapi kondisi suhu tinggi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah-langkah pencegahan guna menghindari dampak buruk paparan sinar matahari langsung.

Masyarakat disarankan untuk menghindari paparan langsung sinar matahari, terutama pada jam-jam paling terik, yaitu antara pukul 10.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Untuk aktivitas di luar ruangan, BMKG menyarankan penggunaan pelindung diri seperti topi, payung, dan tabir surya (sunscreen).

Selain itu, BMKG juga mengingatkan agar masyarakat mewaspadai potensi penyakit yang mungkin timbul akibat cuaca panas yang melanda Indonesia.

Dengan memahami penyebab dan prediksi ini, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada dan melindungi diri dari suhu ekstrem. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#bmkg #cuaca panas #pergeseran matahari #pancaroba