Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Puluhan Juta Penduduk Pesisir Selatan Jawa Bakal Terdampak Jika Megathrust Terjadi, Begini Pendapat Peneliti BRIN

Dharaka R. Perdana • Selasa, 28 Oktober 2025 | 03:57 WIB

 

Zona subduksi gempa bumi di selatan Pulau Jawa. (UNIVERSITAS DIPONEGORO)
Zona subduksi gempa bumi di selatan Pulau Jawa. (UNIVERSITAS DIPONEGORO)

RADAR TULUNGAGUNG - Tsunami raksasa akibat megathrust di pesisir selatan Jawa bukan sekadar cerita purba yang terkubur dalam lapisan pasir dan cangkang foraminifera.

Di balik endapan geologi yang ditemukan oleh para peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, BRIN, tersimpan kisah berulang tentang gempa megathrust yang datang dengan siklus ribuan tahun dan kini, perhitungannya menunjukkan giliran berikutnya bisa semakin dekat.

Namun kali ini, bukan hanya alam yang berubah. Di sepanjang garis pantai selatan Pulau Jawa dari Banten hingga Banyuwangi berdiri kota-kota baru, jalur lintas selatan yang ramai, dan jutaan jiwa yang menggantungkan hidup pada pesisir.

Baca Juga: Potensi Megathrust di Selatan Jawa Bukan Sekadar Kemungkinan, Ancaman Nyata dari Jejak Paleotsunami Ribuan Tahun Ini Jadi Buktinya

BRIN memperkirakan bahwa pada tahun 2030, sekitar 30 juta penduduk akan tinggal di wilayah yang berpotensi terekspos langsung tsunami jika gempa besar magnitudo 9 mengguncang.

Jejak Tsunami Purba, Bayangan Bencana Masa Depan

Peneliti BRIN, Purna Sulastya Putera, menyebutkan bahwa berdasarkan studi paleotsunami di sejumlah lokasi seperti Lebak, Pangandaran, Cilacap, Kulonprogo, hingga Lumajang terbukti tsunami besar telah berulang kali melanda selatan Jawa.

Rentang waktunya cukup konsisten, antara 600 hingga 1.200 tahun sekali, bahkan hasil perhitungan matematis McCaffrey menunjukkan siklus sekitar 675 tahun untuk gempa megathrust bermagnitudo 9.

Lapisan pasir, fragmen karang berdiri, dan mikrofauna laut yang terperangkap di dalam tanah menjadi saksi bahwa pernah ada gelombang raksasa yang menyapu daratan hingga kilometer ke pedalaman.

Jika perulangan itu benar, maka wilayah selatan Jawa kini sedang berada dalam rentang waktu potensi kejadian berikutnya.

Baca Juga: BRIN Ungkap Ancaman Nyata Gempa Megathrust di Indonesia, Zona ‘Seismic Gap’ di Selatan Jawa Jadi Titik Rawan

Pesisir yang Kian Padat, Risiko yang Kian Besar

Berbeda dari masa lalu, kini pesisir selatan bukan lagi garis sepi. Pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) menghubungkan kota demi kota, membuka akses ekonomi, pariwisata, dan perikanan.

Permukiman tumbuh pesat di kawasan seperti Pangandaran, Kulonprogo, Pacitan, dan Jember — wilayah yang justru berhadapan langsung dengan zona subduksi megathrust di Samudra Hindia.

Pertumbuhan penduduk pesisir dipicu oleh faktor ekonomi, urbanisasi, dan infrastruktur baru. Namun di sisi lain, semakin banyak warga yang hidup di wilayah berisiko tinggi bencana geologi.

“Hingga 2030, kami perkirakan sekitar 30 juta penduduk selatan Jawa berpotensi terekspos tsunami jika megathrust terjadi,” ujar Purna Sulastya Putera.

Itu artinya, dalam satu generasi, jumlah manusia yang hidup di zona rawan tsunami meningkat drastis — bahkan melampaui kesiapan mitigasi dan kapasitas evakuasi di banyak daerah.

Tantangan: Menyelaraskan Pembangunan dan Mitigasi

Pembangunan yang terus mendorong wilayah ke arah pesisir harus diimbangi dengan peta risiko bencana berbasis sains paleotsunami.

Tanpa perencanaan berbasis risiko, jalur ekonomi selatan Jawa justru bisa berubah menjadi koridor bahaya ketika gempa besar datang.

Baca Juga: BMKG Ungkap Gempa Megathrust di Indonesia Hanya Tunggu Waktu, Ini 13 Zona Merah yang Wajib Diwaspadai

Studi paleotsunami bukan hanya menggali masa lalu, melainkan menyediakan peta peringatan dini masa depan.

BRIN menilai bahwa hasil riset ini harus menjadi acuan strategis pemerintah pusat dan daerah dalam menyusun tata ruang, menentukan zona aman, dan membangun sistem peringatan dini tsunami yang lebih responsif. ****

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#megathrust #tsunami raksasa #pesisir selatan Jawa