RADAR TULUNGAGUNG - KH Amal Fathullah Zarkasyi wafat dan meninggalkan duka mendalam bagi dunia pesantren Indonesia.
Kabar berpulangnya salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor ini menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga besar Gontor, tetapi juga bagi perkembangan pendidikan Islam nasional.
KH Amal Fathullah Zarkasyi wafat setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Moewardi Solo. Almarhum menghembuskan napas terakhir akibat penyakit usus buntu yang dideritanya.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat di lingkungan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, dan dihadiri ribuan santri, alumni, serta tokoh nasional.
Kepergian KH Amal Fathullah Zarkasyi wafat menutup perjalanan panjang seorang kiai yang dikenal tangguh, visioner, dan konsisten memperjuangkan kemajuan pesantren di Indonesia.
Sosok Pimpinan dan Cendekiawan Muslim
KH Amal Fathullah Zarkasyi merupakan satu dari tiga pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.
Selain berperan sebagai pengasuh pesantren, almarhum juga dikenal sebagai akademisi dengan reputasi internasional.
Ia pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor pada periode 2014 hingga 2020.
Dalam dunia keilmuan, almarhum dikenal sebagai profesor di bidang akidah dan ilmu kalam. Keilmuannya yang mendalam membuatnya dihormati tidak hanya di lingkungan pesantren, tetapi juga di kalangan akademisi dalam dan luar negeri.
Kiprah Nasional dan Internasional
Semasa hidupnya, KH Amal Fathullah Zarkasyi wafat meninggalkan jejak pengabdian luar biasa. Ia aktif membangun jaringan kerja sama internasional Unida Gontor dengan berbagai institusi pendidikan di Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara, hingga Afrika.
Almarhum juga dipercaya menjadi Ketua Forum Asia Africa Diversity yang berpusat di Pakistan serta anggota dewan eksekutif Liga Universitas Islam Dunia yang berkedudukan di Mesir.
Peran ini menunjukkan besarnya pengaruh almarhum dalam percaturan pendidikan Islam global.
Atas dedikasinya, KH Amal Fathullah Zarkasyi menerima berbagai penghargaan bergengsi. Salah satunya adalah gelar Doctor Honoris Causa bidang Dirasat Islamiyah dari Fatoni University, Thailand, pada tahun 2017.
Perjuangan Melahirkan Undang-Undang Pesantren
Salah satu warisan terpenting almarhum adalah perannya dalam memperjuangkan lahirnya Undang-Undang Pesantren.
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid yang turut hadir dalam prosesi pemakaman menegaskan bahwa KH Amal Fathullah Zarkasyi memiliki kontribusi besar dalam memperkuat posisi pesantren secara nasional.
Melalui Undang-Undang Pesantren, lulusan pondok pesantren kini memiliki pengakuan negara yang setara.
Santri dapat melanjutkan pendidikan ke berbagai jurusan perguruan tinggi tanpa harus mengikuti ujian negara tambahan, sebuah terobosan besar dalam sejarah pendidikan Islam Indonesia.
Duka dari Keluarga dan Murid
Tokoh Muhammadiyah sekaligus kerabat almarhum, Din Syamsuddin, turut mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Kehadiran para tokoh nasional menjadi bukti luasnya pengaruh dan keteladanan almarhum.
Rektor Unida Gontor saat ini, Hamid Fahmi Zarkasyi, mengaku sangat kehilangan sosok guru dan pemimpin yang menjadi panutan.
Ia menegaskan bahwa perjuangan almarhum telah menjadikan Gontor memiliki jaringan pendidikan yang kuat hingga tingkat internasional.
“Kami sebagai murid dan sesama alumni sangat kehilangan. Beliau adalah sosok dengan pengalaman luas dan visi besar,” ujarnya.
Warisan Pemikiran dan Keteladanan
KH Amal Fathullah Zarkasyi wafat, namun pemikiran dan perjuangannya akan terus hidup. Dedikasinya dalam memajukan pesantren, memperjuangkan hak santri, serta membangun jaringan pendidikan Islam dunia menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Kepergian almarhum menjadi pengingat bahwa pesantren Indonesia pernah dan masih memiliki tokoh besar yang berani berpikir jauh ke depan.
Dunia pesantren kini berduka, namun juga bersyukur pernah memiliki sosok pemimpin sekelas KH Amal Fathullah Zarkasyi.***
Editor : Vidya Sajar Fitri