RADAR TULUNGAGUNG- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap dampak Siklon Tropis Penha yang memengaruhi kondisi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia. Meski pusat siklon telah bergerak menjauhi wilayah Indonesia dan mendarat di Mindanao, Filipina bagian selatan, dampak tidak langsungnya masih terasa hingga beberapa hari ke depan.
BMKG mencatat dinamika atmosfer akibat keberadaan Siklon Tropis Penha tetap memicu potensi hujan lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk pelayaran dan perikanan.
Dalam laporan pembaruan cuaca yang dirilis awal Februari 2026, BMKG menjelaskan bahwa Siklon Tropis Penha berkembang dari bibit siklon tropis berkode 94W sebelum mencapai intensitas siklon tropis pada 4 Februari 2026. Meski berada di luar wilayah Indonesia, pengaruh sirkulasi angin masih membawa massa udara lembap ke sejumlah kawasan timur Indonesia.
Wilayah Berpotensi Hujan Lebat
BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia bagian timur. Daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.
Selain hujan, potensi angin kencang juga diprediksi melanda wilayah Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud. Kondisi ini dapat memicu gangguan transportasi laut serta meningkatkan risiko pohon tumbang di wilayah pesisir.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk mempersiapkan langkah antisipasi, terutama di daerah rawan banjir, longsor, dan genangan air. Warga juga diminta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, termasuk sistem drainase dan aliran sungai.
Ancaman Gelombang Tinggi di Sejumlah Perairan
Tak hanya hujan dan angin kencang, dampak lain dari sistem siklon ini adalah peningkatan tinggi gelombang laut. BMKG memperkirakan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di Samudra Pasifik Utara Papua, perairan Papua Barat Daya, hingga perairan sekitar Kepulauan Sangihe dan Laut Sulawesi bagian timur.
Sementara itu, gelombang lebih tinggi, berkisar 2,5 hingga 4 meter, diprakirakan terjadi di perairan Kepulauan Talaud dan Samudra Pasifik Utara wilayah Maluku. Kondisi ini berisiko bagi kapal nelayan, kapal tongkang, maupun kapal penumpang.
BMKG mengingatkan nelayan dan operator kapal untuk mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melaut. Keselamatan pelayaran menjadi prioritas utama di tengah dinamika cuaca yang masih labil.
BMKG Imbau Masyarakat Pantau Informasi Resmi
BMKG menegaskan bahwa meski pusat siklon telah bergerak menjauh, sirkulasi atmosfer yang tersisa masih berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem di beberapa wilayah. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak lengah dan terus memantau pembaruan informasi cuaca.
Informasi terbaru dapat diakses melalui kanal resmi BMKG maupun laman pemantauan siklon tropis yang diperbarui secara berkala. Data tersebut penting sebagai acuan bagi masyarakat, khususnya pelaku transportasi laut, nelayan, serta masyarakat pesisir.
Para ahli meteorologi juga mengingatkan bahwa musim hujan masih berlangsung di sebagian wilayah Indonesia, sehingga potensi hujan lebat bisa terjadi sewaktu-waktu, meski tanpa keberadaan siklon sekalipun.
Baca Juga: Viral Klaim Dana Rapel Pensiun Mulai Cair, TASPEN Tegaskan Belum Ada Keputusan Resmi Pemerintah
Waspada Dampak Turunan Cuaca Ekstrem
Selain banjir dan gelombang tinggi, kondisi cuaca ekstrem juga dapat memicu longsor di daerah perbukitan serta gangguan transportasi udara maupun laut. Oleh sebab itu, kesiapsiagaan masyarakat sangat diperlukan.
BMKG berharap masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan deras disertai angin kencang. Pemerintah daerah juga diminta aktif memberikan peringatan dini kepada warga di wilayah rawan bencana.
Dengan terus memantau informasi cuaca resmi, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko kerugian akibat perubahan cuaca ekstrem yang masih dipengaruhi sistem Siklon Tropis Penha.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani