JAKARTA – Ketidakpastian pasar global dan domestik yang masih tinggi membuat investor institusi mengambil sikap lebih berhati-hati. Di tengah isu rebalancing indeks dan volatilitas pasar saham, UOB menegaskan strateginya dengan mengedepankan pendekatan defensif, khususnya menghindari saham-saham yang dikaitkan dengan spekulasi masuk indeks MSCI.
Menurut pandangan UOB, fokus utama saat ini bukan lagi mengejar narasi jangka pendek berbasis indeks, melainkan kembali pada kualitas fundamental emiten. Saham-saham dengan earnings yang solid, margin sehat, serta valuasi yang masuk akal menjadi prioritas dalam strategi rebalancing portofolio.
“Untuk saat ini kami cenderung defensif. Kami fokus pada perusahaan dengan kualitas laba yang baik dan menghindari saham-saham yang hanya digerakkan oleh ekspektasi masuk MSCI,” ujar perwakilan UOB dalam diskusi pasar.
Baca Juga: THR dan Rapel Pensiunan 2026: Hak Anda Sudah Terjamin, Jangan Terperdaya Isu Liar
Valuasi Masuk Akal dan Dividen Jadi Kunci
UOB menilai bahwa dalam jangka menengah hingga panjang, valuasi akan selalu kembali mencerminkan kualitas kinerja perusahaan. Karena itu, saham dengan profil laba stabil dinilai lebih menarik dibandingkan saham yang bergerak karena sentimen sesaat.
Sektor perbankan menjadi salah satu pilihan utama. Selain fundamental yang relatif kuat, sejumlah bank besar juga menawarkan dividend yield menarik, bahkan sebagian sudah mencapai dua digit. Kondisi ini dinilai mampu memberikan bantalan di tengah volatilitas pasar.
Saham Emas Tetap Menarik, Tapi Sangat Volatile
Terkait saham produsen emas, UOB menilai sektor ini memiliki niche market tersendiri. Pergerakannya sangat dipengaruhi oleh harga emas dunia dan dinamika geopolitik global. Dalam beberapa waktu terakhir, harga emas sempat melonjak tajam sebelum akhirnya terkoreksi signifikan dalam waktu singkat.
“Emas sangat tergantung pada eskalasi tensi global. Pernyataan atau kebijakan dari tokoh global seperti Donald Trump bisa langsung memengaruhi sentimen,” jelas UOB.
Baca Juga: THR dan Rapel Pensiunan 2026: Alokasi Rp55 Triliun, Mekanisme Bertahap, dan Tips Aman Menerimanya
Meski demikian, koreksi tajam pada saham emas dinilai wajar mengingat kenaikannya yang terlalu cepat sebelumnya, ditambah tekanan dari isu MSCI dan koreksi harga komoditas secara global.
Sektor yang Masih Dihindari Sementara
Dalam jangka pendek, UOB masih menghindari saham-saham yang:
-
Dikaitkan dengan spekulasi masuk indeks MSCI
-
Memiliki valuasi mahal tanpa dukungan pertumbuhan laba yang kuat
Selain itu, perubahan metodologi perhitungan free float MSCI juga menjadi perhatian. Jika kepemilikan afiliasi diperketat dan tidak lagi dihitung sebagai free float, maka bobot Indonesia di indeks global berpotensi turun, yang bisa memicu outflow lanjutan, meski skalanya dinilai tidak sebesar kekhawatiran downgrade ke frontier market.
Proyeksi IHSG Masih Penuh Ketidakpastian
Untuk pergerakan IHSG, UOB menilai pasar masih akan berada dalam fase cautious hingga sekitar April atau Mei, menunggu kejelasan sikap MSCI. Uncertainty diperkirakan tetap tinggi hingga ada keputusan final terkait pemenuhan persyaratan indeks.
Baca Juga: Tren K-Pop di Kalangan Gen Z Tulungagung, Musik dan Visual Idol Jadi Daya Tarik Utama
Meski demikian, secara makroekonomi tidak ada perubahan fundamental signifikan. UOB tetap optimistis terhadap ekonomi Indonesia, menilai koreksi pasar saham saat ini lebih dipicu faktor teknikal dan sentimen, bukan karena pelemahan fundamental.
Konsumer Jadi Kandidat Rotasi Berikutnya
Selain perbankan, sektor konsumer dinilai memiliki fundamental yang mulai kembali menarik. Menjelang Ramadan, sektor ini berpotensi mendapat dorongan dari konsumsi domestik, terlebih inflasi masih terkendali dan data terakhir menunjukkan kondisi deflasi.
“Kalau pemerintah berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi, sektor konsumer harusnya kembali bergairah. Biasanya investor asing masuk perbankan dulu, lalu konsumer,” ungkap UOB.
Rotasi dari saham spekulatif ke saham berfundamental kuat dinilai akan membuat struktur pasar menjadi lebih sehat dan berkelanjutan. Dalam kondisi seperti ini, UOB menegaskan bahwa investasi berbasis fundamental tetap menjadi strategi paling rasional dibandingkan spekulasi jangka pendek.
Editor : Natasha Eka Safrina