Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ramalan Prabu Jayabaya soal Gempa Megathrust Kembali Viral, BMKG Sebut Potensi Gempa Besar di Selat Sunda dan Mentawai Tinggal Menunggu Waktu

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Kamis, 5 Maret 2026 | 17:30 WIB

Ramalan Prabu Jayabaya soal gempa megathrust kembali viral. BMKG menyebut potensi gempa besar di Selat Sunda dan Mentawai tinggal menunggu waktu.(Pinterest)
Ramalan Prabu Jayabaya soal gempa megathrust kembali viral. BMKG menyebut potensi gempa besar di Selat Sunda dan Mentawai tinggal menunggu waktu.(Pinterest)

Radar Tulungagung - Ramalan Prabu Jayabaya soal gempa megathrust kembali menjadi perbincangan setelah sejumlah video dan unggahan di media sosial mengaitkan nubuat raja Kediri tersebut dengan potensi gempa besar di Indonesia.

Isu ini muncul seiring peringatan dari para peneliti dan pemerintah mengenai kemungkinan terjadinya gempa megathrust di beberapa wilayah rawan di Tanah Air.

Sejumlah ahli menyebut zona megathrust di Indonesia menyimpan energi besar yang belum dilepaskan selama ratusan tahun. Kondisi ini membuat potensi gempa megathrust di Indonesia terus dipantau secara serius oleh para ilmuwan, termasuk oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Perbincangan semakin ramai setelah sebagian pihak mengaitkan potensi bencana tersebut dengan ramalan Prabu Jayabaya, yang disebut-sebut memprediksi bencana besar yang dapat mengguncang Pulau Jawa.

Ramalan Jayabaya dan Kisah Jawa Terbelah

Ramalan Jayabaya dikenal luas dalam berbagai naskah kuno Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu sumber yang sering disebut adalah kitab Musarar yang disusun oleh Sunan Prapen pada abad ke-17.

Dalam sejumlah tafsir, ramalan tersebut menyebutkan kemungkinan Pulau Jawa mengalami perubahan besar akibat bencana. Bahkan terdapat ungkapan yang sering dikutip, yakni “wong Jawa kari separo” yang diartikan jumlah penduduk Jawa tinggal separuh karena bencana atau konflik besar.

Sebagian pihak kemudian mengaitkan ramalan tersebut dengan potensi gempa megathrust yang diperkirakan dapat memicu tsunami besar di wilayah pesisir.

Dalam narasi yang beredar, gempa megathrust disebut berpotensi menimbulkan tsunami dengan ketinggian puluhan meter yang bisa berdampak luas di wilayah pesisir Pulau Jawa.

Prediksi Ilmuwan tentang Gempa Megathrust

Di sisi lain, para ilmuwan menegaskan bahwa potensi gempa megathrust di Indonesia memang nyata secara ilmiah, namun tidak berkaitan dengan ramalan atau prediksi spiritual.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, sebelumnya menjelaskan bahwa beberapa segmen megathrust di Indonesia sudah lama tidak mengalami gempa besar. Kondisi ini membuat tekanan energi di dalam bumi terus menumpuk.

Beberapa wilayah yang menjadi perhatian utama antara lain segmen megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.

Dalam kajian BMKG, megathrust Selat Sunda berpotensi memicu gempa dengan kekuatan hingga magnitudo 8,7. Sementara segmen Mentawai-Siberut diperkirakan mampu menghasilkan gempa berkekuatan hingga magnitudo 8,9.

Menurut Daryono, kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun tidak mengalami gempa besar sehingga energi yang tersimpan di dalamnya cukup signifikan.

“Rilis gempa di kedua segmen megathrust ini boleh dikata tinggal menunggu waktu,” ujar Daryono dalam keterangannya pada Agustus 2024.

Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa waktu pasti terjadinya gempa tidak dapat diprediksi secara akurat.

Potensi Tsunami Besar

Jika gempa megathrust benar-benar terjadi, salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah tsunami.

Dalam berbagai skenario simulasi kebencanaan, gempa besar di zona subduksi dapat memicu gelombang tsunami yang berpotensi menghantam wilayah pesisir.

Beberapa prediksi bahkan menyebut tsunami dapat mencapai puluhan meter, terutama jika gempa terjadi di dasar laut dengan kekuatan sangat besar.

Wilayah yang dinilai berpotensi terdampak antara lain pesisir barat Sumatera, Selat Sunda, hingga pesisir selatan Pulau Jawa.

Namun para ahli menekankan bahwa skenario tersebut merupakan hasil simulasi untuk kepentingan mitigasi bencana, bukan kepastian kejadian.

Penyebab Gempa Megathrust

Secara ilmiah, gempa megathrust terjadi akibat aktivitas subduksi, yaitu proses ketika lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua.

Indonesia sendiri berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire yang dikenal sebagai salah satu wilayah paling aktif secara tektonik di dunia.

Negara ini dikelilingi oleh sekitar 13 zona megathrust yang terbentuk akibat pertemuan beberapa lempeng besar, seperti lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Proses penunjaman lempeng tersebut menyebabkan tekanan atau stres pada batuan di dalam bumi yang terus meningkat selama puluhan hingga ratusan tahun.

Ketika batuan tidak lagi mampu menahan tekanan tersebut, energi akan dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk gempa bumi besar.

Pentingnya Kesiapsiagaan

BMKG menegaskan bahwa potensi gempa megathrust di Indonesia harus dihadapi dengan kesiapsiagaan yang matang, bukan dengan kepanikan.

Pemerintah telah mengembangkan sistem peringatan dini tsunami atau InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) untuk mempercepat penyampaian informasi jika terjadi gempa besar.

Sistem ini memungkinkan pemantauan gempa secara real time sekaligus memberikan peringatan dini kepada masyarakat yang berada di wilayah pesisir.

Selain teknologi, para ahli menekankan bahwa kesiapan masyarakat juga sangat penting. Edukasi tentang jalur evakuasi, latihan tanggap bencana, serta pemahaman terhadap risiko gempa dan tsunami dinilai dapat mengurangi dampak bencana.

Karena itu masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari lembaga terkait, sekaligus tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#tsunami #ramalan #megathrust #gempa megathrust