Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Daya Beli Masyarakat Jadi Sorotan, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen Tapi Benarkah Terasa hingga Rumah Warga?

M. Helmi Nurhisam • Kamis, 18 Juni 2026 | 16:40 WIB
Daya beli masyarakat jadi sorotan saat ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen. Benarkah pertumbuhan ekonomi terasa bagi warga?(Pinterest)
Daya beli masyarakat jadi sorotan saat ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen. Benarkah pertumbuhan ekonomi terasa bagi warga?(Pinterest)

Radar Tulungagung - Daya beli masyarakat kembali menjadi sorotan setelah pemerintah menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih tetap kuat di tengah berbagai tekanan global. Meski pertumbuhan ekonomi nasional tercatat berada di atas 5 persen, sejumlah indikator menunjukkan adanya tantangan yang membuat masyarakat belum sepenuhnya merasakan dampak positif pertumbuhan tersebut.

Daya beli masyarakat menjadi perhatian karena sejumlah sektor yang berkaitan langsung dengan konsumsi justru menunjukkan perlambatan. Penjualan kendaraan, konsumsi bahan bangunan, hingga beberapa indikator belanja rumah tangga mengalami penurunan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah pertumbuhan ekonomi yang tercatat secara makro benar-benar sudah dirasakan oleh masyarakat luas.

Ekonom menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih berada dalam kondisi yang relatif baik, namun daya beli masyarakat belum pulih secara merata. Pertumbuhan di atas 5 persen tidak selalu langsung mencerminkan kondisi ekonomi setiap rumah tangga karena terdapat perbedaan antara indikator makro dan pengalaman ekonomi masyarakat sehari-hari.

Baca Juga: Tak Sekadar Ujian, Mahasiswa PGSD Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung Tampilkan Karya dan Kreativitas

Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Indikator Utama

Dalam sebuah diskusi ekonomi, dijelaskan bahwa Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen. Bahkan pada kuartal kedua, pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 5,12 persen. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya terasa di lapangan karena beberapa indikator menunjukkan pelemahan konsumsi.

Salah satu tanda yang terlihat adalah penjualan kendaraan yang mengalami penurunan sekitar 10 persen. Selain itu, penjualan semen juga tercatat melemah sekitar 2,4 persen hingga periode tertentu. Penurunan sejumlah sektor tersebut menunjukkan adanya kehati-hatian masyarakat dalam melakukan pengeluaran.

Selain itu, Indonesia juga sempat mengalami deflasi beberapa kali dalam periode Januari hingga Agustus. Kondisi ini menjadi salah satu sinyal bahwa aktivitas konsumsi masyarakat mengalami tekanan.

Meski demikian, pemerintah masih melihat konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama perekonomian nasional. Konsumsi rumah tangga tetap memiliki porsi besar dalam pembentukan pertumbuhan ekonomi dibandingkan faktor lain seperti investasi maupun ekspor-impor.

Baca Juga: Dari Kegelisahan Pribadi, Ayu Kartika Putri Bangun Blog untuk Suarakan Isu Perempuan dan Keadilan Gender

Pemerintah Berharap Stimulus Ekonomi Dorong Pemulihan

Pemerintah menyatakan berbagai kebijakan ekonomi telah disiapkan untuk menjaga momentum pertumbuhan. Salah satunya melalui pemberian stimulus dan penguatan aliran dana ke sektor ekonomi.

Stimulus tersebut diharapkan dapat meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama melalui peningkatan konsumsi rumah tangga. Namun, dampak kebijakan tersebut tidak bisa langsung terlihat dalam waktu singkat.

Ekonom memperkirakan dampak kebijakan baru kemungkinan baru mulai terlihat pada kuartal berikutnya. Hal itu karena proses penyaluran anggaran, perubahan perilaku konsumsi, serta respons dunia usaha membutuhkan waktu.

Kondisi ekonomi global juga menjadi faktor yang memengaruhi situasi domestik. Ketidakpastian pasar internasional, perubahan harga komoditas, serta kebijakan negara-negara besar turut memberikan tekanan terhadap ekonomi nasional.

Tantangan Pemerintah: Membuat Pertumbuhan Lebih Terasa

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi indikator penting, tetapi tantangan terbesar pemerintah adalah memastikan pertumbuhan tersebut dapat dirasakan masyarakat.

Jika konsumsi rumah tangga kembali meningkat, maka peluang pemulihan daya beli masyarakat akan semakin besar. Sebaliknya, jika masyarakat masih menahan belanja karena harga kebutuhan meningkat atau pendapatan belum membaik, maka pertumbuhan ekonomi berisiko terasa hanya pada angka statistik.

Para ekonom menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan manfaat. Kebijakan yang mendorong lapangan kerja, menjaga harga kebutuhan pokok, serta meningkatkan pendapatan masyarakat menjadi faktor penting agar pemulihan ekonomi berjalan lebih nyata.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di atas 5 persen menjadi modal positif. Namun, pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan angka tersebut tidak hanya terlihat dalam laporan ekonomi, tetapi benar-benar terasa hingga tingkat rumah tangga.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
#ekonomi nasional #pertumbuhan ekonomi indonesia #stimulus ekonomi #daya beli masyarakat #konsumsi rumah tangga