JAKARTA - El Nino ekstrem berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di Indonesia. Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena sejumlah sektor, terutama pertanian, ketersediaan air bersih, dan kebencanaan, dinilai cukup sensitif terhadap perubahan cuaca tersebut.
Pembahasan mengenai El Nino ekstrem berkaitan dengan meningkatnya indeks El Nino yang mulai terlihat sejak Juni. Fenomena ini menjadi perhatian karena kekeringan dapat memberikan dampak berbeda pada setiap wilayah dan sektor kehidupan masyarakat.
Risiko akibat El Nino ekstrem tidak hanya ditentukan oleh kuatnya fenomena tersebut. Tingkat kerentanan dan kapasitas suatu wilayah dalam menghadapi ancaman juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Risiko Kekeringan Perlu Diantisipasi
Dalam penjelasan yang disampaikan, risiko bencana disebut sebagai fungsi dari hazard atau bahaya dan kerentanan. Ketika ancaman kekeringan meningkat, risiko dapat ditekan dengan mengurangi tingkat kerentanan serta meningkatkan kapasitas masyarakat dan wilayah.
Baca Juga: Hari Baik Beli Motor Menurut Hitungan Jawa, Cek 4 Firasat Ini Sebelum Membeli
Indeks El Nino sendiri digunakan untuk melihat kondisi perbedaan suhu di wilayah tertentu di Samudra Pasifik dengan perairan Indonesia. Berdasarkan penjelasan tersebut, indeks mulai menunjukkan peningkatan sejak Juni.
Kondisi tersebut kemudian diperkirakan bergerak menuju kategori ekstrem atau sangat kuat. Namun, tingkat keparahan fenomena tidak bisa hanya ditentukan berdasarkan satu indikator.
Karena itu, kesiapan menghadapi dampak kekeringan menjadi hal penting. Pemerintah, masyarakat, dan sektor yang terdampak perlu memperhatikan ketersediaan sumber daya serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi cuaca.
Pertanian Padi Jadi Sektor Sensitif
Pertanian menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap kekeringan. Pertanian padi mendapat perhatian khusus karena komoditas tersebut merupakan salah satu sumber utama pangan masyarakat.
Baca Juga: Hari Baik Beli Kendaraan Menurut Jawa: Jangan Pilih Sembarangan, Ini Pantangannya
Berkurangnya ketersediaan air dapat memengaruhi kegiatan budidaya. Kondisi tersebut berpotensi menjadi tantangan bagi petani apabila periode kering berlangsung cukup panjang.
Selain pertanian, ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian. Kekeringan dapat meningkatkan tekanan terhadap sumber air yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dampak lain yang perlu diwaspadai adalah bencana ikutan. Salah satunya kebakaran hutan dan lahan yang risikonya dapat meningkat ketika kondisi lingkungan menjadi lebih kering.
Ada Sektor yang Justru Berpotensi Diuntungkan
Meski membawa sejumlah risiko, fenomena El Nino tidak selalu memberikan dampak negatif pada seluruh sektor. Beberapa kegiatan justru dapat memperoleh keuntungan dari kondisi yang lebih kering.
Sektor perikanan tangkap di wilayah selatan Indonesia, khususnya Samudra Hindia, menjadi salah satu contoh. Kondisi El Nino dapat berkaitan dengan fenomena upwelling atau naiknya air laut dingin dari lapisan dalam menuju permukaan.
Proses tersebut membawa nutrisi dari laut dalam ke permukaan. Kondisi ini kemudian dapat meningkatkan produktivitas perairan dan mendukung keberadaan ikan di wilayah tertentu.
Produksi garam juga berpotensi meningkat ketika jumlah hari cerah bertambah. Kondisi cuaca yang lebih kering dapat mendukung proses produksi di ladang garam.
Dampak Berbeda pada Sektor Energi
Sektor energi juga dapat mengalami dampak yang berbeda. Pembangkit listrik tenaga air atau hidroelektrik berpotensi menghadapi penurunan produksi apabila debit air di bendungan berkurang akibat kekeringan.
Sebaliknya, pembangkit listrik tenaga surya dapat memperoleh kondisi yang lebih mendukung. Bertambahnya paparan sinar matahari berpotensi meningkatkan produktivitas panel surya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak El Nino ekstrem tidak bersifat seragam. Ada sektor yang menghadapi peningkatan risiko, sementara sektor lain justru dapat memperoleh peluang.
Karena itu, kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi kekeringan. Peningkatan kapasitas, pengelolaan air, serta pemantauan kondisi cuaca diperlukan untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi.
Editor : Maylanni Diana Fitri