JOMBANG – Dunia santri semakin terbuka lebar. Pesantren tak lagi hanya dipandang sebagai ruang untuk mendalami ilmu agama, tetapi juga menjadi tempat menyiapkan generasi yang mampu berkiprah hingga ke tingkat internasional.
Pesan tersebut mengemuka dalam Muhalaqoh Internasional Gerakan Nasional Ayo Mondok (Gernas Ayo Mondok) di Gelora Abi As’ad UNIPDU, Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan, Jombang, Kamis (27/8/2026).
Mengusung tema “Ilmu Tanpa Sekat, Akhlak Tanpa Jeda: Santri Siap Mewarnai Dunia”, kegiatan ini mempertemukan para pengasuh pesantren dengan alumni dan tokoh NU yang telah berkiprah di berbagai negara.
Sejumlah tokoh turut hadir sebagai panelis. Di antaranya Abdul Syakir, Ketua PCI NU United Kingdom; Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, pendiri PCINU Australia-New Zealand; Dra. Mimin Mintarsih, Ketua PCI Muslimat Malaysia; KH. Mukhlason Jalaluddin, tokoh PCI NU Mesir; Ahmad Ghazali, Ketua PCI NU Jepang; Ainun Najib, pakar teknologi dan data science di Singapura; serta Subhan Ghozaly, tokoh NU Maroko.
Forum tersebut tidak sekadar membahas pengalaman hidup di luar negeri. Para peserta juga diajak melihat lebih jauh peluang pendidikan dan beasiswa yang dapat diakses santri.
Mulai LPDP, Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), GARUDA, hingga beasiswa dari negara tujuan, perguruan tinggi, maupun korporasi.
Ketua Panitia Muhasabah dan Halaqoh Internasional, Ning Luluk Farida Muchtar, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan mampu membuka cakrawala para pengasuh dan santri.
“Kita ingin membuka cakrawala. Bahwa dunia ini luas dan kesempatan bagi santri juga luas,” ujarnya.
Menurutnya, santri memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikan di berbagai negara sepanjang dibekali kemampuan, informasi, dan pendampingan yang tepat.
Pesan utama yang dibawa dalam forum tersebut pun jelas. Santri didorong keluar dari “cangkang”, memperluas pergaulan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus tetap membawa nilai-nilai pesantren.
Dengan demikian, menjadi santri dan menjadi bagian dari dunia global bukanlah dua hal yang bertentangan.
Justru dari pesantren, generasi muda diharapkan mampu melangkah lebih jauh. Menuntut ilmu tanpa sekat, membangun jejaring tanpa batas, tetapi tetap menjadikan akhlak sebagai identitas di mana pun berada.
Editor : Vidya Sajar Fitri