Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

PO Mandala Tutup Operasional, Pecinta Bus Jalur Selatan Mendadak Nostalgia: Ini Deretan PO Legendaris yang Kini Tinggal Kenangan

Natasha Eka Safrina • Selasa, 27 Januari 2026 | 18:30 WIB

PO Mandala tutup operasional per Oktober 2022. Simak alasan penutupan dan deretan PO bus legendaris yang kini tinggal sejarah.
PO Mandala tutup operasional per Oktober 2022. Simak alasan penutupan dan deretan PO bus legendaris yang kini tinggal sejarah.

JAKARTA - PO Mandala tutup operasional dan kabar itu langsung mengundang reaksi besar dari komunitas pecinta bus. Perusahaan otobus yang dikenal sejak era 90-an ini pernah menjadi salah satu pilihan favorit penumpang jalur selatan Jawa, terutama bagi mereka yang bepergian dari wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah menuju Jawa Timur.

Informasi mengenai PO Mandala tutup operasional ramai dibahas setelah dilansir dari autofun.co.id. Sejak lama, PO Mandala melayani rute-rute strategis dari Bandung, Tasikmalaya, Banjar Patroman, hingga Purwokerto, kemudian terhubung ke kota-kota di Jawa Timur seperti Jombang, Ngawi, sampai Surabaya. Di akhir masa baktinya, rute yang paling dikenal adalah Bandung–Surabaya via Tasikmalaya atau jalur selatan.

Kepastian PO Mandala tutup operasional diumumkan secara resmi melalui akun Facebook perusahaan. Dalam pernyataan tersebut, PO Mandala yang berada di bawah PT Indo Transport Abdimas (PO Handoyo) menyatakan berhenti beroperasi per 5 Oktober 2022. Pihak manajemen juga menyampaikan terima kasih kepada pelanggan serta meminta maaf apabila selama ini pelayanan belum memuaskan.

Baca Juga: Bansos Beras Januari 2026 Segera Cair, Ini Syarat Lengkap KPM PKH dan BPNT serta Cara Pengambilannya

Pengumuman Resmi: Berhenti 5 Oktober 2022

Dalam unggahan resminya, PO Mandala menulis pesan perpisahan yang menyentuh. Mereka menyebut pamit dari jalur selatan, serta mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kecintaan pelanggan selama bertahun-tahun.

Danil Handoyo selaku pemilik PT Indo Transport Abdimas disebut menjelaskan bahwa rencana menonaktifkan bus PO Mandala sebenarnya sudah muncul sejak awal pandemi. Selain dampak pandemi, salah satu alasan yang disorot adalah kondisi perizinan, karena beberapa armada disebut belum berizin. Di sisi lain, ada pula persoalan internal yang turut memengaruhi keputusan penutupan.

Meski secara administratif berhenti per 5 Oktober, perjalanan terakhir dari Surabaya dilakukan pada 3 Oktober, lalu armada kembali ke Surabaya pada 4 Oktober. Momen ini menjadi penutup perjalanan panjang bus AKAP legendaris jalur selatan.

Baca Juga: Media Prancis Bongkar Fakta Transfer: Kurzawa ke Persib Bandung Makin Nyata, Bojan Hodak Siap Perang Putaran Kedua, Bobotoh Garut Menggila di Persib D

Rute Bandung–Surabaya Jalur Selatan yang Minim Pesaing

Secara persaingan trayek, rute Bandung–Surabaya umumnya dipenuhi pemain besar seperti PO Sugeng Rahayu, PO Eka, dan PO Budiman yang rata-rata melintasi jalur utara. Namun jalur via Tasikmalaya terbilang minim pesaing, membuat PO Mandala punya ceruk tersendiri.

Sayangnya, pandemi membuat okupansi penumpang ikut turun. Kondisi itu menjadi salah satu faktor penting yang membuat operasional bus tidak lagi sekuat sebelumnya. Bagi banyak penumpang, jalur selatan punya karakter tersendiri karena melewati banyak kota, sekaligus menjadi alternatif ketika tol Trans Jawa lebih dominan di jalur utara.

Nostalgia PO Lawas: Dari Agung Express hingga Dahlia Indah

Penutupan PO Mandala juga memicu nostalgia terhadap sejumlah PO legendaris lain yang kini sudah tidak lagi mengaspal. Salah satunya adalah Agung Express, bus asal Malang yang dulu disegani di jalur selatan Malang–Surabaya–Madiun–Solo. Pada masanya, Agung Express dikenal sebagai armada bus malam dengan pelayanan mewah, meski armadanya masih berjenis non-AC.

Nama lain yang juga dikenang adalah PO Dahlia Indah asal Tulungagung, Jawa Timur. PO ini mulai beroperasi sejak era 1980-an dan dikenal punya reputasi tinggi di jalur Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rute utamanya meliputi Blitar–Tulungagung–Kediri–Madiun–Solo–Yogyakarta–Purwokerto.

Dahlia Indah bahkan sempat dijuluki “bus balap” karena kecepatan dan efisiensi waktunya. Selain itu, PO ini juga disebut sebagai pelopor penggunaan bus kelas patas, yang lebih cepat dan minim pemberhentian dibanding bus ekonomi.

Namun memasuki tahun 2000-an, persaingan semakin ketat. Banyak operator baru menawarkan bus ber-AC, layanan eksekutif, serta sistem pemesanan tiket yang lebih modern. Keluhan soal tarif yang tidak konsisten, armada kurang terawat, hingga kebiasaan ngetem menjadi catatan penurunan layanan.

Baca Juga: Media Prancis Bongkar Fakta Transfer: Kurzawa ke Persib Bandung Makin Nyata, Bojan Hodak Siap Perang Putaran Kedua, Bobotoh Garut Menggila di Persib D

PO Baruna, Hasti, Cipto, hingga Sri Lestari: Satu per Satu Menghilang

Transkrip juga menyebut PO Baruna dari Kediri yang pernah berjaya pada akhir 80-an hingga 90-an. Bus malam cepat ini melayani trayek Kediri–Surabaya–Denpasar pulang pergi, dan dikenal punya fasilitas yang memanjakan penumpang. Namun seiring waktu, eksistensinya meredup dan akhirnya beralih fokus ke pariwisata.

Ada pula PO Hasti yang dikenal sebagai “raja jalanan” di trayek Trenggalek–Surabaya. PO ini berdiri sekitar 1970 dan sempat menjadi ikon sebelum era persaingan bus-bus modern. Seiring perubahan zaman, PO Hasti juga mundur dari trayek AKAP dan AKDP.

Nama PO Cipto asal Pasuruan juga disebut sebagai bus besar era 80-90an. Cipto pernah menjadi salah satu bus Jawa Timur pertama yang mengekspansi rute hingga Jakarta. Namun setelah pemiliknya wafat, bisnis melemah hingga akhirnya berhenti pada 2015.

Sementara PO Sri Lestari dari Tulungagung sempat menjadi rival berat PO Harapan Jaya. Namun konflik internal dan persoalan operasional membuat PO ini berhenti pada 2008, meski pemiliknya tetap bertahan di usaha lain.

Penutupan PO Mandala kini menjadi penanda bahwa sejarah bus jalur selatan Jawa terus berubah. Bagi pecinta bus, momen ini bukan sekadar kabar berhenti operasi, melainkan pengingat bahwa era bus legendaris perlahan menjadi cerita kenangan.

Baca Juga: Persib Bandung Kalahkan PSBS Biak 1-0 dan Puncaki Klasemen, Bojan Hodak Buka Alasan Tak Jor-joran di Bursa Transfer

Editor : Natasha Eka Safrina
#bus indonesia #PO Mandala #bus legendaris