JAKARTA - Sejarah Blue Bird Group kembali menarik perhatian publik setelah kisah awal berdirinya perusahaan transportasi ini ramai dibahas di berbagai kanal informasi. Tak banyak yang tahu, perjalanan Blue Bird dimulai dari langkah sederhana pada 1965, sebelum akhirnya berkembang menjadi salah satu ikon layanan transportasi paling dikenal di Indonesia, termasuk melalui armada Big Bird yang melegenda.
Dalam catatan yang dikutip dari Blue Bird Group, bisnis ini berawal ketika seorang perempuan bernama Ibu Mutiara Siti Fatimah Djokosutono menjalankan bisnis taksi pertamanya. Operasional awal dilakukan dari sebuah rumah di Jalan Cokroaminoto Nomor 107. Dari titik itulah, Blue Bird menapaki jalur panjang industri transportasi yang penuh kompetisi dan perubahan zaman.
Sejarah Blue Bird Group mencatat tonggak penting pada 1972. Pada tahun tersebut, armada taksi Blue Bird Holden Torana resmi beroperasi di Jakarta. Inovasi Blue Bird kala itu dianggap maju, karena menjadi taksi pertama yang memakai sistem tarif berbasis argometer. Tak hanya itu, taksi ini juga dilengkapi sistem radio untuk memudahkan penyebaran order, dengan dukungan operasi terpusat. Kehadiran sistem ini membuat layanan menjadi lebih terorganisir dan meningkatkan kenyamanan pelanggan.
Lompatan Besar: Big Bird Hadir untuk Antar-Jemput Sekolah
Seiring berjalannya waktu, Blue Bird tidak hanya bertahan di bisnis taksi. Perusahaan melakukan sejumlah lompatan besar yang memperkuat posisinya di sektor transportasi darat.
Salah satunya terjadi pada 1979, ketika Blue Bird memiliki armada bus Big Bird. Kala itu, Big Bird bertugas melayani antar-jemput sekolah di Jakarta, termasuk untuk Jakarta Intercultural School. Layanan ini menjadi bukti bahwa Blue Bird mulai membangun segmen transportasi yang lebih luas, tidak hanya mengandalkan layanan taksi.
Kemudian pada 1981, taksi Blue Bird kembali mengalami pembaruan. Blue Bird menggunakan Holden Torana generasi 80-an yang sudah dilengkapi AC. Fasilitas tersebut menjadi peningkatan besar karena membuat perjalanan lebih nyaman, terutama di tengah cuaca panas Jakarta.
Big Bird Bus VIP: Segmen Premium yang Terus Berkembang
Di era yang lebih modern, Big Bird terus memperluas layanan dengan segmen premium. Pada 2012, Big Bird meluncurkan varian premium bus kelas VIP dengan kapasitas 12 seat. Lalu pada 2020, Big Bird kembali meluncurkan varian premium bus VIP 12 seat yang mempertegas arah layanan menuju kenyamanan dan eksklusivitas.
Langkah ini memperlihatkan strategi Blue Bird dalam membaca kebutuhan pasar, terutama untuk pelanggan yang menginginkan transportasi pariwisata atau perjalanan rombongan dengan standar lebih tinggi.
Arion hingga Damri: Perusahaan Lawas yang Ikut Membentuk Wajah Transportasi
Selain Blue Bird, kisah transportasi Indonesia juga diwarnai perusahaan lain seperti Arion dan Damri.
Arion disebut hadir sejak 1969 untuk memenuhi kebutuhan transportasi nyaman dan aman di ibu kota. Cikal bakal kelompok usaha Arion Paramita dimulai dari jasa transportasi darat melalui bus Ikarus, sebelum berkembang menjadi PT Arion Indonesia Transport. Arion juga tercatat sebagai operator bus kota hingga 1979, lalu kembali merintis bisnis transportasi bus pada 1982, fokus pada charter dan pariwisata.
Baca Juga: Surat dari Masa Mudaku, Film Netflix yang Viral Mengajarkan Empati pada Anak Panti
Ada pula peristiwa besar pada 17 April 1979, ketika pemerintah melalui Departemen Perhubungan dan Departemen Keuangan mengambil alih manajemen delapan perusahaan bus kota di DKI Jakarta untuk disatukan menjadi Perum PPD (BUMN). Dalam pengambilalihan itu, disebut termasuk 175 unit armada dan karyawan PT Arion Paramita.
Sementara itu, Damri merupakan BUMN transportasi yang telah mengabdi lebih dari 70 tahun. Damri terbentuk sejak 1943 dan resmi menjadi Damri pada 25 November 1946. Perusahaan ini mengalami transformasi status, dari BPUN (1961), menjadi perusahaan negara (1965), hingga menjadi Perum (1984) dan disempurnakan dengan PP Nomor 31 Tahun 2002. Damri juga dikenal memiliki layanan angkutan kota, AKAP, lintas batas negara, angkutan bandara, pariwisata, hingga logistik dan perintis di wilayah terpencil.
Hiba Utama, Mayasari Bakti, Blue Star, hingga Agramas
Nama besar lain yang ikut membentuk transportasi darat Indonesia adalah Hiba Utama yang berdiri sejak 1949. Hiba Group berkembang dengan berbagai armada dan anak usaha yang tersebar di Pulau Jawa.
Kemudian ada Mayasari Bakti yang dikenal sebagai salah satu PO bus dengan trayek dan armada terbanyak. Disebutkan, armadanya mencapai lebih dari 3.000 unit dan melayani bus kota, pariwisata, hingga AKAP di wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Di segmen bus pariwisata, Blue Star berdiri pada 2004 di Jakarta dan melayani pariwisata serta antar-jemput karyawan. Fasilitas armadanya mencakup AC, TV layar datar, karaoke, reclining seat, serta perlengkapan keselamatan.
Sementara Agramas berdiri pada 2003 di bawah PT Anugerah Mas. Awalnya fokus layanan komuter Jabodetabek, kemudian berkembang masuk AKAP sejak 2011 dengan tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta memiliki akar sejarah dari PO Giri Indah di Wonogiri.
Editor : Natasha Eka Safrina