JAKARTA – Fenomena kemunculan BYD M6 di jalanan ibu kota belakangan ini memang sulit diabaikan. Sebagai MPV listrik murni (Electric Vehicle) berkapasitas 7 penumpang pertama di kelasnya, mobil ini langsung mencuri perhatian. Namun, di balik popularitasnya yang meroket, muncul pertanyaan penting: bagaimana rasanya menggunakan mobil ini sebagai kendaraan harian dalam jangka panjang? Berdasarkan hasil uji coba intensif selama satu minggu, terungkap sejumlah poin krusial mengenai kelebihan dan kekurangan BYD M6.
Secara visual dan fitur, BYD M6 memang menawarkan paket yang tampak sangat mewah untuk harga di kelasnya. Namun, pengalaman berkendara nyata mengungkap sisi lain yang perlu dipertimbangkan calon konsumen. Salah satu temuan yang paling mencolok adalah soal karakteristik suspensi dan pengereman. Meski banyak dipuji karena keheningannya, aspek driving refinement pada BYD M6 disebut-sebut masih belum setingkat dengan rival monokok legendaris asal Jepang.
Kekurangan yang Perlu Diperhatikan: Rem dan Suspensi "Mentul"
Dalam ulasan mengenai kelebihan dan kekurangan BYD M6, sektor pengereman menjadi catatan pertama. Modulasi rem pada mobil ini terasa kurang halus bagi pengemudi yang terbiasa dengan mobil Eropa atau Jepang yang sudah mapan. Injakan pedal rem sering kali terasa mengejutkan di awal (ngagetin), namun kurang memberikan tekanan yang progresif saat ditekan lebih dalam. Hal ini berpotensi membuat penumpang merasa mual jika pengemudi tidak melakukan adaptasi yang cukup lama dalam teknik stop-and-go.
Selain rem, bantingan suspensi menjadi sorotan tajam. Saat mobil hanya diisi satu atau dua orang, suspensi belakang cenderung terasa "ngayun" atau tidak stabil saat melewati jalanan bergelombang (keriting). Karakter suspensinya terasa keras dengan stroke pendek yang mengakibatkan efek "mental-mentul" yang kurang nyaman bagi pengemudi yang mendambakan stabilitas tinggi. Faktor lain yang cukup mengganggu adalah tingkat kecerahan layar head unit 15,6 inci yang tetap terasa terlalu terang meski sudah diatur ke posisi paling redup di malam hari, yang dapat memicu kelelahan mata (fatigue).
Sisi Positif: Akselerasi Jambak dan Pajak Tahunan Rp0
Namun, jangan salah sangka. Di balik kekurangannya, BYD M6 memiliki sederet keunggulan yang sulit ditandingi. Kejutan muncul saat mobil ini diisi beban penuh (penumpang dan barang). Anehnya, bantingan suspensi yang tadinya terasa tidak stabil justru berubah menjadi lebih "antep" dan tenang saat mendapatkan beban berat. Hal ini membuat BYD M6 sangat cocok dijadikan mobil operasional keluarga atau kendaraan jemputan karena kenyamanannya meningkat drastis saat kapasitasnya dimaksimalkan.
Dari sisi performa, akselerasi mesin listriknya tidak perlu diragukan. Dengan tenaga mencapai 200 HP lebih dan torsi 310 Nm, mobil ini mampu melesat 0-100 km/jam hanya dalam 8,6 detik. Sensasi instan ini membuat proses mendahului kendaraan lain di jalan tol menjadi sangat mudah. Selain itu, akses masuk ke baris kedua tergolong sangat ramah untuk orang tua atau lansia karena posisi lantai yang relatif rendah dibandingkan MPV konvensional, sehingga proses keluar-masuk kendaraan menjadi jauh lebih effortless.
Keunggulan telak lainnya terletak pada aspek keamanan dan efisiensi biaya. BYD M6 memiliki sensor kursi yang sangat sensitif, bahkan hingga baris ketiga, yang akan terus berbunyi jika penumpang tidak mengenakan sabuk pengaman. Ini merupakan fitur edukasi keselamatan yang sangat baik bagi budaya berkendara di Indonesia.
Paling menarik adalah urusan biaya operasional. Berdasarkan data STNK, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) untuk BYD M6 adalah Rp0 alias gratis. Pemilik hanya perlu membayar biaya administrasi tahunan seperti SWDKLLJ dan biaya pengesahan dengan total sekitar Rp443.000 saja. Dengan biaya operasional yang sangat irit dan bebas aturan ganjil-genap, BYD M6 tetap menjadi pilihan rasional bagi warga kota besar yang membutuhkan mobil operasional harian yang canggih namun tetap ekonomis.
Editor : Natasha Eka Safrina