Pengujian Polytron Fox 350 Bandung–Ciwidey dimulai dengan kondisi baterai penuh 100 persen dan trip meter direset ke nol. Pengendara dengan bobot sekitar 87 kilogram ditambah barang bawaan 10 kilogram, membawa total beban hampir 100 kilogram. Fokus utama pengujian adalah konsumsi baterai serta suhu komponen utama seperti baterai, controller, dan dinamo (BLDC).
Dalam 12,6 kilometer pertama menuju Soreang, baterai tersisa 91 persen. Artinya, konsumsi awal tergolong efisien di jalur datar. Namun, tantangan sesungguhnya dimulai saat memasuki jalur menanjak menuju Ciwidey.
Konsumsi Baterai di Jalur Menanjak
Saat mencapai kawasan Ciwidey dengan jarak tempuh sekitar 26,5 kilometer, baterai tersisa 70 persen. Ini menunjukkan penurunan signifikan akibat medan tanjakan yang terus-menerus.
Meski begitu, suhu baterai masih terjaga di kisaran 28–29 derajat Celcius. Controller berada di angka 44–55 derajat, sementara suhu dinamo mulai meningkat hingga di atas 100 derajat Celcius.
Baca Juga: HP Gaming Dimensity Harga Terjangkau 2026, Performa Ngebut Mulai 2 Jutaan Bikin Gamer Auto Kepincut
Kondisi ini menjadi perhatian utama, karena dinamo tipe hub drive seperti pada Polytron Fox 350 memang dikenal lebih cepat panas saat dipaksa bekerja di medan berat.
Overheat Jadi Tantangan di Tanjakan Panjang
Puncak pengujian terjadi saat motor mencapai kawasan Rancabali hingga Kawah Putih. Suhu dinamo sempat menyentuh 145 derajat Celcius, bahkan sempat mencapai sekitar 155 derajat.
Pada titik tersebut, indikator overheat menyala dan tenaga motor mengalami pembatasan. Meski masih bisa digunakan, pengendara memilih menurunkan kecepatan untuk menjaga kondisi motor tetap aman.
“Kalau nanjak panjang, dinamo pasti panas. Ini memang karakter hub drive,” ungkap pengendara dalam dokumentasi perjalanan.
Namun, setelah melewati tanjakan dan memasuki jalur yang lebih landai, suhu dinamo kembali turun secara bertahap ke kisaran 110 derajat Celcius.
Baca Juga: 5 HP 5G Murah Spek Kencang 2026 Mulai 1 Jutaan, Performa Gahar untuk Gaming dan Streaming
Isi Daya Murah, Hanya Rp6.000
Salah satu keunggulan yang ditunjukkan dalam perjalanan Polytron Fox 350 Bandung–Ciwidey adalah efisiensi biaya pengisian daya. Saat berhenti di SPKLU Rengganis, pengisian dari sekitar 43 persen ke penuh hanya membutuhkan energi 2,2 kWh dengan biaya sekitar Rp6.000.
Waktu pengisian pun relatif singkat, kurang dari satu jam. Hal ini menjadi nilai tambah bagi pengguna motor listrik yang ingin touring jarak menengah.
Performa Stabil di Jalur Turunan
Setelah mencapai titik terjauh di kawasan Cibuni dengan total jarak sekitar 53 kilometer, perjalanan dilanjutkan kembali ke Bandung. Di jalur turunan, performa motor justru semakin optimal.
Selain konsumsi baterai yang lebih hemat, suhu dinamo turun drastis hingga di bawah 100 derajat Celcius. Fitur regenerative braking juga membantu mengisi ulang daya secara otomatis saat deselerasi.
Baca Juga: Daftar HP Chipset Dimensity Terbaik 2026 Harga 2–3 Jutaan, Performa Ngebut dengan Baterai Jumbo!
Dari Rancabali ke Soreang, konsumsi baterai hanya sekitar 11–12 persen, jauh lebih irit dibanding saat perjalanan naik.
Kendala SPKLU dan Solusi Alternatif
Meski perjalanan berjalan lancar, kendala sempat terjadi saat pengisian daya di SPKLU Banjaran. Sistem dilaporkan mengalami gangguan sehingga pengisian gagal dilakukan.
Baca Juga: 10 HP Chipset Dimensity Terbaik 2026 di Harga 2–3 Jutaan, Performa Kencang untuk Gaming dan Harian
Sebagai solusi, pengendara memutuskan berpindah ke SPKLU lain di wilayah Baleendah atau Majalaya yang mendukung fast charging agar proses pengisian lebih cepat.
Kesimpulan: Layak untuk Touring, Tapi Perhatikan Suhu
Dari hasil uji ini, Polytron Fox 350 terbukti mampu digunakan untuk perjalanan jarak menengah seperti Bandung–Ciwidey. Konsumsi baterai masih tergolong efisien, dan biaya operasional sangat rendah.
Baca Juga: Daftar HP Chipset Dimensity Terbaik 2026 Harga 2–3 Jutaan, Performa Ngebut dan Baterai Tahan Lama
Namun, satu catatan penting adalah suhu dinamo yang cepat meningkat saat menghadapi tanjakan panjang. Pengguna disarankan untuk menjaga kecepatan dan memberi jeda agar motor tidak mengalami overheat berlebihan.
Dengan perencanaan rute dan titik pengisian daya yang tepat, motor listrik ini tetap layak menjadi pilihan untuk aktivitas touring ringan hingga menengah
Editor : Dyah Wulandari