Blitar Kawentar - DFSK Gelora E mulai mencuri perhatian sebagai salah satu MPV listrik termurah di Indonesia. Di tengah minimnya pilihan mobil keluarga full elektrik, kehadiran DFSK Gelora E menjadi alternatif menarik, terutama bagi pelaku usaha dan kebutuhan operasional harian.
DFSK Gelora E hadir sebagai mobil listrik berbasis kendaraan niaga yang dikonversi menjadi MPV penumpang. Konsep ini membuatnya berbeda dari mobil listrik lain yang umumnya dirancang sejak awal sebagai kendaraan penumpang. Dengan harga sekitar Rp399 juta, DFSK Gelora E menjadi opsi paling terjangkau untuk kategori MPV listrik tujuh penumpang di Tanah Air.
Namun, apakah benar mobil ini layak dibeli? Berikut ulasan lengkapnya.
Basis Mobil Barang, Rasa MPV Sederhana
Secara desain, DFSK Gelora E masih sangat kental dengan DNA mobil niaga. Bentuknya boxy, sederhana, dan cenderung fungsional dibanding estetis. Hal ini wajar karena basis awalnya adalah kendaraan komersial seperti pickup dan blind van.
Interiornya pun mencerminkan hal tersebut. Material didominasi plastik keras, dengan fitur yang tergolong minimalis. Meski begitu, beberapa kenyamanan tetap disematkan, seperti double blower AC, head unit layar sentuh, serta konfigurasi kursi fleksibel hingga 7 atau bahkan 9 penumpang.
Kapasitas bagasi juga menjadi nilai plus. Dalam konfigurasi tujuh penumpang, ruang belakang masih cukup luas untuk barang.
Performa dan Spesifikasi
DFSK Gelora E dibekali baterai berkapasitas 42 kWh dengan jenis lithium iron phosphate (LFP). Klaim pabrikan, mobil ini mampu menempuh jarak hingga 300 km dalam kondisi ideal.
Motor listriknya menghasilkan tenaga sekitar 80 hp dengan torsi 200 Nm. Angka ini tergolong cukup untuk penggunaan dalam kota, terutama saat membawa muatan.
Baca Juga: Kupas Tuntas Motor Listrik Gesits G1: Murah Operasional Tapi Banyak Catatan, Layak Dibeli?
Namun, dalam pengujian nyata, efisiensinya tidak selalu sesuai klaim. Konsumsi energi tercatat sekitar 4,5 km/kWh, lebih rendah dari estimasi ideal 7 km/kWh. Artinya, jarak tempuh realistis berkisar di angka 200–250 km.
Kecepatan maksimal juga dibatasi di 100 km/jam, membuat mobil ini lebih cocok untuk penggunaan perkotaan dibanding perjalanan jauh di tol.
Pengalaman Berkendara
Saat dikendarai, DFSK Gelora E memberikan sensasi khas mobil niaga. Suspensi terasa cukup kaku saat kosong, namun menjadi lebih nyaman saat diisi penumpang atau beban.
Setir dan handling terasa biasa saja, bahkan cenderung kurang presisi. Hal ini diperparah dengan body roll yang cukup terasa saat bermanuver di kecepatan tinggi.
Salah satu catatan penting adalah sistem regenerative braking yang kurang optimal. Saat mengerem, energi tidak banyak dikembalikan ke baterai, sehingga efisiensi kurang maksimal dibanding mobil listrik lain.
Meski begitu, keunggulan mobil listrik tetap terasa, seperti akselerasi instan dan kabin yang relatif senyap.
Fitur dan Kekurangan
Fitur yang tersedia sebenarnya cukup untuk kelasnya, seperti:
- Head unit touchscreen dengan konektivitas Bluetooth
- Electric mirror
- Double blower AC
- Sliding door di kedua sisi
Namun, ada beberapa kekurangan yang cukup terasa:
- Tidak ada fitur modern seperti cruise control atau keyless entry
- Kualitas interior di bawah standar mobil Jepang
- Jendela samping terbatas dan tidak bisa dibuka penuh
- Tidak ada fitur Vehicle to Load (V2L)
Cocok untuk Siapa?
DFSK Gelora E lebih cocok digunakan sebagai kendaraan operasional dibanding mobil keluarga premium. Beberapa penggunaan idealnya antara lain:
- Mobil antar-jemput karyawan
- Kendaraan travel dalam kota
- Armada logistik ringan
Keunggulan utamanya ada pada biaya operasional yang rendah, bebas ganjil-genap, serta pajak tahunan yang relatif murah.
Kesimpulan
DFSK Gelora E memang bukan mobil listrik yang sempurna. Namun, dengan harga yang relatif terjangkau untuk ukuran MPV listrik, mobil ini menawarkan solusi praktis bagi kebutuhan mobilitas harian.
Jika Anda mencari MPV listrik murah dengan fungsi utilitas tinggi, DFSK Gelora E bisa jadi pilihan menarik. Tapi jika menginginkan kenyamanan dan fitur modern, mungkin perlu mempertimbangkan opsi lain di kelas yang lebih tinggi.
Editor : Maylanni Diana Fitri