JAKARTA - Suzuki Ertiga Hybrid menjadi sorotan setelah banyak netizen mempertanyakan teknologi hybrid yang dipakai mobil tersebut.
Meski resmi menyandang label hybrid, banyak konsumen merasa fitur yang ditawarkan tidak sebanding dengan ekspektasi kendaraan hybrid modern seperti Toyota Innova Zenix.
Suzuki Ertiga Hybrid Ternyata Hanya Mild Hybrid
Suzuki Ertiga Hybrid sebenarnya menggunakan teknologi Smart Hybrid Vehicle by Suzuki atau SHVS. Sistem ini tergolong mild hybrid, bukan full hybrid seperti yang dipakai beberapa kompetitor di pasar Indonesia.
Perbedaan terbesar ada pada kemampuan motor listriknya. Pada mobil full hybrid, kendaraan bisa berjalan menggunakan tenaga listrik tanpa bantuan mesin bensin dalam kondisi tertentu.
Sedangkan pada Ertiga Hybrid, motor listrik hanya membantu kerja mesin saat akselerasi awal dan mendukung fitur engine auto start-stop.
Sistem SHVS menggunakan Integrated Starter Generator (ISG) yang berfungsi sebagai alternator sekaligus motor listrik kecil. Selain itu terdapat baterai lithium-ion 6 Ah 12 volt dan baterai konvensional 55 Ah 12 volt.
Karena kapasitas baterai kecil, kontribusi tenaga listrik di Ertiga Hybrid memang sangat terbatas.
“Kebanyakan orang mengira hybrid Ertiga mirip Zenix atau hybrid lainnya,” demikian penjelasan dalam transkrip video tersebut.
Kesalahpahaman ini yang kemudian memunculkan istilah “hybrid palsu” di media sosial dan forum otomotif.
Strategi Suzuki Jual Mobil Hybrid Murah di Indonesia
Di tengah tren kendaraan ramah lingkungan, Suzuki menjadi salah satu merek yang menawarkan mobil hybrid paling murah di Indonesia.
Harga Suzuki Ertiga Hybrid masih di bawah Rp300 juta. Angka ini jauh lebih murah dibanding mobil hybrid lain yang rata-rata dijual mulai Rp400 jutaan.
Biaya produksi menjadi alasan utamanya. Teknologi mild hybrid jauh lebih sederhana karena tidak membutuhkan motor listrik besar maupun baterai mahal.
Sebagai perbandingan, baterai Toyota Innova Zenix disebut memiliki harga sekitar Rp40 jutaan. Sementara baterai pada Ertiga Hybrid diklaim hanya sekitar Rp14 jutaan.
Kondisi ini memungkinkan Suzuki menjual kendaraan berlabel hybrid dengan harga lebih terjangkau.
Selain soal biaya produksi, penggunaan label hybrid juga menjadi strategi branding. Kata hybrid dianggap mampu meningkatkan citra mobil menjadi lebih modern dan futuristis.
Tidak sedikit konsumen yang tertarik karena ingin memiliki kendaraan dengan teknologi elektrifikasi tanpa harus membeli mobil hybrid mahal.
Konsumen Merasa Tertipu karena Efisiensi BBM Tak Signifikan
Meski secara teknis benar menggunakan sistem hybrid, sebagian pengguna merasa manfaat Ertiga Hybrid tidak terlalu terasa dalam penggunaan harian.
Banyak konsumen mengeluhkan konsumsi bahan bakar yang dinilai tidak berbeda jauh dibanding mobil bensin biasa. Bahkan beberapa pengguna menyebut performanya hampir sama seperti kendaraan combustion engine konvensional.
Suzuki sebenarnya mengklaim sistem SHVS mampu meningkatkan efisiensi BBM sekitar 5 hingga 10 persen serta membuat perpindahan engine start-stop lebih halus.
Namun masalah utama ada pada komunikasi pemasaran yang dianggap kurang detail.
Suzuki dinilai terlalu menonjolkan kata “Hybrid” tanpa memberikan penjelasan tegas bahwa teknologi yang digunakan hanyalah mild hybrid.
Akibatnya, konsumen awam menganggap Ertiga Hybrid memiliki kemampuan seperti full hybrid atau plug-in hybrid.
Padahal Suzuki sendiri tidak pernah mengklaim mobil tersebut bisa berjalan menggunakan tenaga listrik sepenuhnya.
Dari sisi regulasi, Suzuki tetap aman karena SHVS memang termasuk kategori hybrid. Tetapi dari sisi edukasi pasar, banyak pihak menilai informasi yang diberikan masih ambigu.
Terlepas dari polemik tersebut, Ertiga Hybrid tetap menjadi salah satu pilihan mobil elektrifikasi termurah di Indonesia. Teknologi mild hybrid yang dipakai memang sederhana, tetapi cukup realistis untuk menekan harga jual agar tetap terjangkau bagi konsumen domestik.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan