BLITAR-Melakoni profesi sebagai seorang guru taman kanak kanak (TK) memang tak semudah yang dibayangkan. Profesi ini menuntut seseorang untuk ekstra sabar menghadapi bermacam karakter anak yang masih di bawah umur.
Tapi, bagi Nanda Isna Mufida, kegiatan ini justru jadi penyemangatnya karena memaknai pekerjaannya secara berbeda. Siswa menjadi seorang tenaga pendidik merupakan keinginan perepuan yang karib disapa Nanda ini.
Alasannya tak lain karena dia terinspirasi oleh orang tua yang menggeluti profesi serupa. Itu membuat perempuan 23 tahun ini memilih jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di UIN SATU Tulungagung.
Menurutnya, ada banyak tantangan yang dihadapi ketika menjadi seorang guru TK Sebab, masing-masing anak didiknya memiliki karakter yang berbeda. Kondisi ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan pelajar di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) maupun sekolah menengah atas (SMA).
“Misalnya, ketika diberi tugas ada yang mau mengerjakan dan ada sebagian yang tidak mau mengerjakan. Itu dapat dimaklumi karena masih anak TK cenderung punya keinginan bermain yang lebih tinggi daripada belajar,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Minggu (25/11/2023).
Tak jarang pula ada anak yang masih ketergantungan dengan orang tua. Misalnya tidak mau ditinggal pulang oleh orang tua, kurang sosialisasi karena masih takut dengan teman baru, hingga konsentrasi yang masih kurang saat proses pembelajaran.
Seperti asyik bermain sendiri atau mengobrol dengan teman. Kondisi itu membuat warga Desa Pojok, Kecamatan Ponggok, ini dituntut kreatif untuk membangun suasana belajar yang menyenangkan. Seperti melakukan ice breaking atau yel-yel sebelum belajar serta bernyanyi bersama.
Melakukan game atau permainan supaya anak tidak bosan dan sesekali melakukan pembelajaran di luar kelas juga tak jarang jadi opsi.
“Misalnya mengenal lingkungan. Anak-anak bisa mengamati secara langsung. Jadi pembelajaran tidak hanya di dalam kelas, tapi bisa di luar kelas agar anakanak tidak bosan. Nah, kita juga bisa mengenalkan ciptaan Allah ke mereka,” imbuhnya.
Selain itu, kata Nanda, seorang guru TK harus mampu menyajikan materi dengan cara yang menarik. Hal itu agar anak-anak merasa enjoy, pembelajaran menjadi bervariasi, dan tidak monoton.
Salah satu cara yang sering dia lakukan adalah menggelar sesi tanya jawab agar anak aktif serta melatih mereka untuk bercerita atau mengungkapkan perasaannya. “Misalnya kejadian di sekolah ataupun di rumah,” terangnya.
Banyak yang mengatakan bahwa dengan menjadi guru TK bisa awet muda. Menurut Nanda, anggapan itu bisa jadi benar adanya. Sebab, menjadi guru TK harus ekstra sabar dan selalu happy.
“Misalnya dipanggil dengan sebutan bu guru cantik itu sebagai salah satu moodbooster tersendiri bagi saya. Apalagi pagi-pagi ada anak yang rewel, pasti langsung senang,” bebernya.
Namun, tentu ada duka yang juga harus dilalui. Seperti, ketika tahun ajaran baru harus ekstra sabar. Sebab, banyak anak yang menangis, ngambek, dan tidak mau pisah dengan orang tuanya. Alhasil, orang tua harus ikut menemani di dalam kelas.” Kadang hal ini membuat saya gerogi karena disaksikan langsung oleh wali murid ketika mengajar,” ucapnya lantas terkekeh.
Pendekatan pun harus dilakukan agar mereka menjadi berani. Misalnya, dengan mengajak mereka bermain kertas lipat sambil mengobrol. Nanda juga harus memberikan pengertian kepada orang tua agar tega meninggalkan sang buah hati. Meski menangis, dengan bertemu kawan baru mereka akan menjadi berani.
Tak jarang, beberapa anak terlalu aktif sampai guru tidak sengaja terkena pukulan mereka ketika bermain. “Alhamdulillah tidak sampai mengalami duka yang berlebihan. Karena sudah tertutup dengan pengalaman menyenangkan ketika bertemu dengan anak-anak,” tandasnya. (ink/dit)
Editor : Doni Setiawan